Keteladanan Syaikh Ahmad  Ar-Rifa’i Mari kita renungkan, agar diri kita dijauhkan dari kesombongan, egoism, kekerasan, sikap yang jauh dari kasih saying, melalui sekelumit kisah teladan Syeikh Ahmad ArRfa’I, dari sekian  tak terhingga perilaku kemuliaannya: 1.       Beliau  sering mengunjungi tempat orang-orang berpenyakit kusta. Tidak sekedar mengunjungi, tetapi  mencuci bersih pakaian orang-orang berpenyakit kusta yang sangat menjijikkan menurut  umumnya orang.  Orang-orang itu dirawat beliau, dan diberi makanan, dan makan bersama-sama dengan mereka

Dalam sebuah riwayat, Jabir bin Abdullah membuatkan makanan untuk Rasulullah Saw,  lalu berkumpullah para sahabat Rasulullah Saw; di sana ada Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum. Lalu mereka saling berdiskusi mengenai ketaatan kepada Allah dan RasulNya, hingga Abu Bakr ash-Shiddiq mengatakan: “Sesungguhnya aku diberi kecintaan di dunia ini tiga hal wahai Rasulullah: Menafkahkan hartaku padamu; bermajlis di hadapanmu dan banyak membaca sholawat untukmu.” Lalu Umar ra, menyahut: “Kalau

Dalam sebuah riwayat, Jabir bin Abdullah membuatkan makanan untuk Rasulullah Saw,  lalu berkumpullah para sahabat Rasulullah Saw; disana ada Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum. Lalu mereka saling berdiskusi mengenai  ketaatan kepada Allah dan RasulNya, hingga Abu Bakr ash-Shiddiq mengatakan: “Sesungguhnya aku diberi kecintaan  di dunia ini tiga hal wahai Rasulullah: Menafkahkan hartaku padamu; bermajlis di hadapanmu dan banyak membaca sholawat untukmu.” Lalu Umar ra, menyahut: “Kalau

HARI ini adalah kenyataan-kenyataan, ujian-ujian dan cobaan, kasih sayang dan anugerah, cubitan dan kemesraan, dan keputusan-keputusan. Bahkan hari ini adalah kebisuan-kebisuan, sekaligus juga kata-kata, amarah dan kebahagiaan. Hari ini, adalah simpul dari masa lalu yang brada di si suatu titik tertentu, ketika kita harus membuat keputusan untuk masa depan. Hari ini lalu kita siapkan wadah yang layak, bersih, suci, elok dan tetap bersahaja, untuk tempat kita makan dan minum bagi

Ada sejumlah kebingungan yang menyelimuti diri seseorang untuk mengambil keputusan. Ada bayangan-bayangan yang menyenangkan dan menakutkan ketika seseorang harus memilih. Ada sejumlah keluhan dan protes beruntun dalam diri

Dalam diri kita ada ruang, yang lebih sering menjadi ruang pengap, sunyi, gelap, bahkan terkadang ruang itu berkobar membara bagai neraka. Padahal ruang-ruang itu menjadi lembah dan hamparan bagi hidupnya ruang-ruang yang lain, yang kelak menjadi kesatuan utuh bagi kepribadian kita.

Secarik Surat Sufi dikirim oleh Ibnu Atahaillah as-Sakandary kepada salah seorang sahabatnya: “Manusia dalam merespon anugerah itu terbagi tiga: Pertama, gembira terhadap anugerah, bukan gembira pada Sang Pemberi dan Pencipta anugerah, namun hanya terbatas gembira pada wujud nikmatnya anugerah. Dan manusia ini tergolong orang-orang yang alpa. Ini relevan dengan firman Allah Swt, “Hingga ketika mereka bergembira terhadap apa yang diberikan, maka tiba-tiba Kami ambil seketika.” (Al-An’aam: 44) Kedua, golongan orang yang

RASULULLAH SAW, bersabda, “Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadhan bulan ummatku.” Tiga bulan yang berturut-turut penuh berkah, yang diawali dengan bulan Allah, Rajab. Tiga bulan berturut ini, mengandung banyak hikmah dan makna: Bagaimana Allah Swt, mencintai hamba-hambaNya, bagaimana Rasul Saw, mendidik ummatnya, dan bagaimana ummatnya mengamalkan pengetahuannya. Sebuah proses Tarbiyah Ruhiyah (pendidikan ruhani) yang menjadi dasar semua pendidikan manusia di muka bumi. Bagaimana indahnya kalimat para Sufi  ini: Rajab

Kata ”tanpa syarat”, sungguh berat bagi nafsu kita. Dan nafsu kitalah yang membuat syarat ketika kita beribadah, ketika bermuamalah, ketika berbuat baik bahkan ketika hadir di hadapan Allah Rabbul ’Izzah. Semua persyaratan itu datangnya dari nafsu kita. Anda mau sholat, diam-diam dalam jiwamu mengatakan, ”Aku mau sholat biar ini dan itu, atau mau sholat kalau dapat keuntungan ini dan itu.” Dalam perilaku amaliyah yang lain jangan-jangan juga seperti itu, ”Anda

Proses pergumulan sosial sehari-hari akan terus tumbuh berkembang, pasang dan surut, silih berganti. Inilah perubahan sosial yang tak bisa dihindari. Ada yang menjadi pelopor perubahan, ada yang menjadi objek perubahan, ada pula yang menjadi korban perubahan, ada yang secara oportunis mencari keuntungan dibalik perubahan, ada pula yang menghambat dan mengancam perubahan, ada yang tetap ingin status-quo, dengan kenyamanan masa lalu dan kemapanan. Bagi mereka yang memiliki kesadaran akan kehambaan di