24

Nov 2016

Saya Ada Dimana?

llll   Kedai sufi 2 judul (artikel)     Saya Ada Dimana?     Berkali-kali Pardi mengeluarkan dan memasukkan nafasnya dalam-dalam, dan mengeluarkan seperti lenguhan kerbau. Pagi yang dingin, sungguh tak mendinginkan gerah Pardi. Ini semua gara-gara Pardi membaca kitab Al-Hikam, yang diulang kembali oleh Kyai Mursyid.   “Manakala anda ingin melihat posisi anda di sisiNya, maka lihatlah bagaimana Allah memposisikan dirimu (saat ini).”   Allah menjadikan makhluknya menjadi dua

Kedai sufi   Sholat Syariat dan Hakikat     “Dul aku agak puyeng menghadapi orang-orang yang sering mengaku telah berhakikat dan telah berma’rifat…” kata Pardi sembari memijit-mijit jidatnya. “Kenapa harus pusing, siapa tahu kamu malah dapat berkah yang membuatmu seperti mereka…? Jawab Dulkamdi, sambil menyedu kopi di cangkirnya. “Barokahmu itu! Bisa-bisa malah saya ikut-ikutan ke dalam neraka!” “Lha, kok?” “Lha wong mereka ini, hanya ngaku-ngaku saja. Bukan beneran, sudah begitu,

“Dul, kamu masih ingat semalam, Kiai Mursyid mengaji tasawuf?”“Ingat Di, soal itu pasti sangat catat dalam-dalam di dada saya.”“Coba, tentang apa beliau mengaji?”

Dengan dengus nafas ngos-ngosan, lelaki bertubuh tambun itu memasuki kedai Cak San. Ia memesan air putih dua gelas besar, untuk mengusir dahaganya. Rupanya pagi yang dingin itu, tidak mampu menyelimuti kegerahan dadanya. 

13

Feb 2012

Kedai Sufi

Bagaimana jadinya kalau kedai kopi menjadi tempat obrolan-obrolan sufistik ? Ya. Tentu kedai itu akan mengubah tradisi kedai sebagai tempat jagongan para berandalan, menjadi sumber kreativitas pikiran- pikiran nakal sufistik. Kedai Sufi adalah kedai yang dihadirkan oleh penulis buku ini, untuk menjadi pelototan mereguk substansi soal hidup yang kentekstual dengan jaman ini.   Di dalamnya ada empat tokoh yang senantiasa menghiasi pergolakan sufistik di Kedai Sufi: Pardi, Dulkamdi, Kang Saleh dan Cak

11

Oct 2006

Memburu Allah

  Seorang tamu di kedai itu sejak tadi pagi memegang tasbih. Rambutnya gondrong, menjadi lengkap disebut sebagai pengembara ketika tongkat dan rangselnya ada di pundaknya.  Tapi wajahnya tampak sangar, matanya memerah dan lehernya menekuk.