×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Al-Baqarah Ayat 21-22

Terbukanya Tiga Hijab
"Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan (menciptakan) orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan

air hujan dari langit, lalu menumbuhkan dengan hujan itu, buah-buahan sebagai rizki bagi kamu. Maka janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sedangkan sebenarnya kamu tahu (itu)"

Pada ayat sebelumnya Allah membicarakan tentang orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka. Kemudian Allah mengajak ummat manusia untuk bertauhid. Awal dari tahap Tauhid adalah Tauhid Af'aal . Karena itu Allah mengaitkan antara Ubudiyah dengan Rububiyah, agar para hambaNya menikmati wahananya dengan melihat kenikmatan itu sendiri, sehingga para hamba tumbuh rasa cinta kepadaNya, sebagaimana dalam hadits Qudsi, "Maka Aku memnciptakan makhluk, dan Aku buat mereka mencintaiKu melalui nikmat(Ku)."

Ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt, semata juga dalam kerangka menghilangkan salah satu dari Hijab yang menghalangi hubungan hamba dengan Allah. Hijab pertama adalah Hijab Af'aal, kemudian Hijab Sifat dan Hijab Dzat, melalui tahap pertama, yaitu Tajallinya Af’aal Allah. Sebab, makhluk itu terhijabi untuk melihat ketiga-tiganya : Af'aal, Sifat dan Dzat, terhalangi oleh semesta kemakhlukan.

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta'ala-lah yang mengerjakan semua itu, menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah, kecuali hanya untukNya dan kepadaNya.

Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah bukan penyatuan WujudNya dengan wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan karena itu, seperti dalam hadits, "Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya."

Allah menurunkan air dari langit. Maksudnya, Allah menurunkan Air Tauhid Af'aal Allah, lalu air itu menyebabkan tumbuhnya sikap pasrah total kepadaNya dari bumi hatinya. Disamping air itu juga menumbuhkan amal-amal dan kepatuhan, juga akhlak hasanah, agar menimbulkan rizki hati yang menumbuhkan buah-buah keyakinan, kondisi-kondisi ruhani yang luhur dan maqamat, seperti sabar, syukur dan tawakkal.

Inilah yang kemudian, dibutuhkannya Risalah (Kerasulan) untuk menjembatani hubungan antara hamba dengan Allah, sebagaimana dibutuhkan jasad untuk suatu kerangka bagi jiwa kita. Risalah itu berfungsi untuk pertemuan Kalimat-kalimat Ilahi dalam hati dari ruhnya.

Proses demikian, akan menghilangkan keragu-raguan atau pun dualitas dalam spirit kehambaan. Sebab tujuan utama dari penyembahan kepada Allah adalah ketaqwaan. Sedangkan taqwa itu sendiri merupakan sebuah prestasi atau maqam ruhani, dimana rahasia ruh seorang hamba sama sekali tidak terpisah dari Allah, sedangkan jasadnya bergerak menjalankan aturan-aturanNya.

Ketaqwaan itu sendiri berarti manifestasi Tauhid kehambaan. Tauhid dalam arti yang hakiki, adalah perwujudan Syahadatain, yaitu penyaksian kepada Kemahatunggalan Allah dan hakikat Muhammad itu sendiri.

Read 3664 times Last modified on Monday, 01 June 2009 13:16

Leave a comment