Manusia Holistik

Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A
Adalah Dra. Rani Anggraeni Dewi, M.A., wanita kelahiran Jakarta 27 Oktober 1957.
Rani, begitu ia akrab disapa, sangat fasih mengurai detil manusia dan kemanusiaan baik dalam kacamata

psikologi maupun spiritual. Tidak cuma itu, pengalaman pahit yang ditopang oleh keberaniannya dalam
berfikir telah membawanya pada satu kesimpulan bahwa terbukti sejumlah tokoh sangat terkenal seperti Byron (George Gordon Byron; Penyair Inggris tersohor dan terkemuka dalam Romantisisme; red), Van Gogh (Vincent van Gogh; Pelukis terbesar dalam sejarah dan kontributor penting terhadap dasar-dasar seni modern, yang memproduksi lebih dari 2000 karya seni, yang terdiri dari sekitar 900 lukisan dan 1100 gambar dan sketsa;red) dan Wagner (Wilhelm Richard Wagner; Komponis, penulis dan pakar teori musik Jerman sekaligus tokoh paling controversial karena inovasi musik dan dramanya; red) ternyata tidak sehat secara psikologis.

“Di masyarakat kita pun terdapat orang-orang yang sukses duniawi, sukses dalam makna lahiriah tetapi tetap merasa hampa, tidak bahagia, merindukan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya dirindukannya. Saya pribadi sempat cukup lama melalui masa-masa seperti ini; hati galau, bingung, banyak “pertanyaan”, sehingga haus mencari jawaban,” begitu penggalan pengalaman Rani pada Cahaya Sufi.

Selebihnya, yang dapat kita temukan dari pengembaraan intelektual dan pengalaman ruhani yang dilaluinya, ia dapat memadukan kesenjangan antara konsep pengalaman mistik ala psikologi humanistik dengan pengalaman tasawuf. Dalam buku yang ditulis nya, Menjadi Manusia Holistik, Rani dapat “mempertemukan” Abraham Maslow yang sekuler dengan Al-Ghazali yang sufistik.

Bisa dibilang Rani setengah hati menjalani study S1 nya pada fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni di IKIP (sekarang UNJ) Jakarta sebab setengah hati lainnya telah terpaut pada fakultas Psikologi di UI. Maklum, Rani memang sangat berminat pada ilmu psikologi. Namun entah apa yang menyebabkan Rani terus bertahan hingga rampung mendapat gelar sarjana S1 nya di IKIP, ia tak mengungkapkan. Yang pasti jenjang belajar yang dijalaninya di IKIP tak menghalangi Rani dalam mendalami ilmu psikologi secara serius.

Tahun 1981 ia resmi menyelesaikan study S1-nya di IKIP Jakarta. Empat tahunkemudian Rani terbang ke negeri Paman Sam untuk keperluan keluarga. Dan hanya Empat tahun juga Rani bermukim di Amerika untuk selanjutnya Rani kembali ke Indonesia dan mengajar di fakultas ekonomi Universitas Pancasila Jakarta.

Dimasa-masa inilah mula pertama Rani mengalami galau, bingung dan banyak “pertanyaan” yang menuntutnya untuk mencari jawaban-jawaban. “Waktu itu saya kok merasakan hampa, bosan dalam hidup dan kok ya hidup saya begini-begini aja padahal disaat yang sama saya merasa bisa melakukan hal-hal yang lebih dari yang ada,”  tuturnya.

Dia pun memutuskan untuk mengambil kursus singkat study psikologi terapan dengan harapan dapat menemukan jawaban dari persoalan yang tengah dialaminya. Sayangnya, dari berbagai teori psikologi Barat
Moderen dikaji dan diterapkan, nol besar hasilnya. Ia masih terpenjara oleh suasana yang dirasakannya serba sumpek dan limbung oleh entah.

Lantas dimana akhirnya Rani menemukan jawaban persoalan kehidupan ? Dalam tasawuf. “Setelah segudang teori psikologi terapan saya lalap, saya beralih mencari ke tasawuf. Dan disana saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya,” ungkap Rani yang amat yakin bahwa tidak semua persolan
dapat diselesaikan dengan menggunakan logika. “Ketika kita yakin Allah bersama kita, maka tak ada satu persoalan hidup yang tak dapat diselesaikan,” sambung Rani yang kini dikenal sebagai seorang praktisi pendidikan dan konselor masalah keluarga. Tak ingin kehilangan “moment”, setelah bertarekat, wanita kelahiran Jakarta 27 Oktober 1957 ini mengambil study S2 jurusan Filsafat dan Agama di Universitas Paramadina. Ia juga kerap terlibat dalam spiritual works, diantaranya, Empower Your Right Brain (Australia), Peace of Mind (India), dan Art of Living Advance Course (Bali). (Romli Izhaque.)


Paduan Psikologi Humanistik dan Tasawuf
Oleh  Rani Anggraeni Dewi, MA

Sudah menjadi jamak, bahwa antara Psikologi Humanistik dan Tasawuf sama-sama membincangkan “unsur dalam” manusia yang menjadi hakikat eksistensi diri. Drive, karakter dan locus spiritual  juga menjadi disiplin kajian keduanya. Meski demikian, satu hal yang tak terbantah, tasawuf tidak sekedar “meraba” sisi luar dan agak dalam diri manusia. Sebagai misal, jika dalam psikologi humanistik pengembangan pribadi untuk menjadi self actualized people  ditandai dengan perilaku yang baik dan lurus serta memiliki pengalaman peak experience. Tidak demikian dengan tasawuf, dalam tasawuf untuk menjadi pribadi insan kamil dicirikan tidak saja memiliki pengalaman trasendental dan akhlak terpuji tetapi juga mencerminkan akhlak citra ilahi.

Benar kedua pandangan diatas sama-sama menganggap pengembangan pribadi merupakan tujuan fundamental, akan tetapi psikologi humanistik tertuju pada pengembangan pribadi, pada potensi yang didasari oleh kebutuhan dasar hierarkis. Sebaliknya, ilmu tasawuf menembus potensi batiniah. Pendek kata, pengembangan pribadi pada psikologi humanistik sebatas dimensi eksoteris, sementar ilmu tasawuf
penekanannya pada dimensi esoteris.

Fakta inikah yang kemudian membuat Maslow sebelum wafatnya (ujug-ujug) mencantumkan satu kebutuhan dasar manusia lagi yang di-istilahinya dengan transpersonal  ? Wallaahua’lam !  Yang pasti Rani memiliki jawaban pertanyaan yang sedikit “menggelitik” itu. Malah dengan tegas Rani menilai bahwa Psikolgi Humanistik, tak ubahnya seperti ilmu psikologi moderen lainnya, telah gagal “mengawal” masyarakat moderen kepada kehidupan yang lebih “fresh” dan “soft”.

Meski demikian, ibarat dalam sebuah kelompok orkestra, Rani bak seorang dirigen yang
mengorkestrasikan agar sebuah tampilan berpadu-padan, selaras, apik terlihat mata dan nyaman diterima mati. Rani mampu mempertemukan “titik pandang” psikologi dengan tasawuf dalam mengatasi problem kejiwaan manusia moderen. “Kekurang mampuan psikologi dalam menjawab persoalan hidup inilah yang
menyebabkan saya berpikir akan perlunya metode pengembangan pribadi yang holisitik, demi melahirkan sosok pribadi humanis yang sufistik.

Maslow memperkenalkan dengan istilah transpersonal yang diidentikkannya dengan realisasi akan kebutuhan transendensi diri. Dan sebenarnya di antara kebutuhan akan aktualisasi diri, sebenarnya terdapat meta-kebutuhan (meta-needs) yang diistilahkan sebagai kebutuhan akan kebermaknaan, kebutuhan luhur nilai-nilai insaniah (being valued), seperti kebutuhan memiliki kesempurnaan, keindahan, keunikan,kebenaran atau kebahagiaan. Masih berkaitan dengan pemenuhan jenjang kebutuhan, Maslow bertutur:”…As you move up trough the hierarchy, the needs are also more distinctly human and less animalistic”. Pribadi yang ter-aktualisasi oleh Maslow dilukiskan: “Pribadi yang teraktualisasi sebagai seseorang yang menggunakan dan
memanfaatkan secara penuh bakat, kapasitas, dan potensi”.

Orang-orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya itu merasa sukses dan mencapai kepuasan. Mereka dapat meraih kebahagiaan yang hakiki dibandingkan orang yang tidak mengalami aktualisasi diri. Pada umumnya Orang-orang yang dapat meng-aktualisasikan diri nya bercirikan jujur, menjadi dirinya sendiri, tepat dalam mengekspresikan pikiran dan emosi-emosinya, melihat hidup dengan jernih, berusaha mencari dan menghadapi emosi dari pada menghindari, dan memiliki kemampuan jauh diatas rata-rata.

Rendah hati, kreatif dan ekspresif, memiliki kadar konflik yang rendah baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, membaktikan hidupnya pada pekerjaan-pekerjaan dan kewajiban-kewajiban dengan penuh kegembiraan. Bahkan ia mampu melihat realitas tersembunyi, lebih sedikit memiliki kecemasan atau ketakutan dan pesimisme, berani membuat kesalahan, mampu menyesuaikan diri dalam perubahan, dan mengalami “peak experience”,  yakni, “Something that tends to take you outside your self, you are not thinking about your self but rather are experiencing whatever you’re experiencing as fully as possible”.

Bukankah setiap orang memiliki potensi untuk mencapai aktualisasi diri ?  Ya. Benar, sebab hal ini merupakan kebutuhanintrinsic manusia, namun umumnya orang sulit mencapai tingkat  aktualisasi diri, bahkan kebutuhan akan berprestasi sekali pun tidak. Sebagian orang sulit menyadari akan kebutuhan hakikat dirinya. Padahal manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh.

Sayangnya, hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil persentasi orang yang mampu mendekati realisasi penuh atas kemampuan-kemampuan mereka. Kenapa orang sulit mencapai tingkat aktualisasi diri ? Untuk konteks kekinian dan kedisinian, penyebab utamanya adalah mindsite materialisme yang sudah membanjiri  kepala banyak orang.

Padahal dalam proses pengembangan pribadi, aktualisasi diri dilakukan tanpa melibatkan kepentingan pribadi yang sifatnya “untung-rugi”, tetapi dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab dan ketulusan. Tujuan aktualisasi dalam proses pengembangan pribadi semata-mata untuk mencapai kebutuhan being values, antara lain, untuk meraih kebahagiaan, penuh makna, dan kesempurnaan.

Aktualisasi diri juga diarahkan untuk melakukan perbaikan dalam sikap dan perilaku dengan cara membaktikan hidupnya pada pekerjaan dan kewajiban yang didasarkan pada panggilan hati nurani (innervoice) dengan sikap bersungguh-sungguh. Jika ia seorang guru, pasti ia menjadi guru yang baik, bukan sembarang guru. Jika ia seorang mahasiswa, pasti ia menjadi mahasiswa yang baik, bukan sembarang
mahasiswa. Jika ia seorang karyawan, pasti ia menjadi karyawan yang baik, bukan sembarang karyawan, dan
seterusnya dan sebagainya. Nah, ini menuntut kerja keras, disiplin, latihan dan tidak jarang perlu menunda kenikmatan.

Mereka benar-benar mandiri dan sungguh-sungguh dalam menentukan apa yang menjadi kehendaknya.
Perbuatan-perbuatan mereka benar-benar berdasarkan hati nurani, bukan karena orang lain, atau prestise. Sikap seperti ini dalam proses pengembangan pribadi akan membawa individu pada aktualisasi diri yang salah satu cirinya mengalami pengalaman puncak atau “peak experience”.Begitulah kenyataannya.

Wilcox menyebutkan, salah satu ciri dari orang yang beraktualisasi diri adalah pribadi yang memiliki pengalaman puncak atau pengalaman mistik. Bagi Maslow, peristiwa peak experience akan membuahkan perubahan yang sehat dalam memandang diri sendiri dan orang lain. Peak experience merupakan
ungkapan subjektif di mana seseorang mengalami perasaan kagum yang besar atas terbukanya pandangan yang terbatas.


Terbukanya pandangan yang terbatas.
Maksud “terbukanya pandangan yang terbatas” adalah perasaan lebih berdaya, memiliki keyakinan yang lebih besar, memiliki perasaan berharga yang sedikit-banyak pengalaman seperti itu dapat mengubah dan memperkuat individu dalam kehidupan sehari-hari.
Mirip sekali dengan spirit tasawuf ? Bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat. Buat saya, antar keduanya (Psikologi Moderen dan Ilmu Tasawuf) ada “benang merah” nya disana, meski saya tahu psikologi Barat telah “gagal mengawal” masyarakat moderen saat ini.

Berdasarkan teori dan pengalaman saya, Psikologi Barat Moderen, include Psikologi Humanistik, tidak menemukan landasan penyebab faktor-faktor yang menetapkan perilaku manusia. Dia hanya memerhatikan gejala perilaku yang kasat mata. Psikologi Humanistik tetap berangkat dari psikologi moderen atau psikologi Barat yang berbasiskan science, di mana kajian-kajiannya berdasarkan pengamatan perilaku manusia yang mengandalkan panca-indra saja dan intelektual manusia.

Dan kalau tadi Anda menyinggung soal tasawuf, ilmu tasawuf menggunakan pedoman yang diyakini langsung berasal dari Tuhan sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad, yakni Al-Quran dan Sunnah Rasulillah, yang kemudian disampaikan kepada manusia sebagai tuntutan hidup.

Para Sufi melalui tafakkur dan ‘ubudiyyah nya dapat menangkap pesan Tuhan berkat kesucian jiwanya seperti memiliki akses langsung, online, langsung
berdialog dengan Tuhan lewat sirr-Nya. Apalagi para psikolog masih memperdebatkan masalah intuisi, artinya kemampuan dan potensi ini masih saja dipertanyakan oleh sebagian dari mereka, sehingga mereka hanya mau mengakui hasil studi berdasarkan pengalaman indrawi dan akal saja.

Karena intuisi justru dianggap lebih mampu memberikan keyakinan atas masalah-masalah yang sulit dipahami secara kasat mata. Hal ini dipertegas oleh Al-Ghazali bahwa “Pengetahuan intuisi adalah penyebab hilangnya
keraguan”. Para Sufi Agung memberdayakan intuisinya untuk membaca ayat-ayat Allah atau tanda-tanda Nya yang terdapat pada seluruh alam semesta termasuk pada diri manusia sendiri.

Latihan-latihan spiritual, seperti riyadlah  dan suluk yang dijalani oleh para penempuh jalan spiritual secara sungguh-sungguh memungkinkan terasahnya kemampuan intuisi yang dapat mengubah dan dapat meningkatkan penghayatan mereka terhadap kehadiran Allah yang sangat dekat, bahkan lebih dekat, lebih dekat dan lebih dekat lagi  dari urat lehernya dan disetiap aspek kehidupan.

Dan ingat. Meski para psikolog dan ilmuwan Barat tidak terlalu concern pada potensi (intuisi;red) ini, faktor potensi (intuisi;red) masih menjadi perhatian dalam kaitannya dengan pengembangan pribadi. Gawain (Shakti Gawain;red) memperkuat pendapat ini, bahwa intuisi juga memberikan kontribusi pada hasil temuan dan tindakan manusia.Perbedaan pandangan yang lain antar psikolog dan sufi, misalnya tentang inteligensi.
Dalam pandangan psikologi moderen, intelegensi kerap dikaitkan dengan kemampuan berpikir secara logis atau rasional atau bernalar secara sistematis dan terkadang matematis.

Proses berpikir yang dimaksud melibatkan fungsi akal yang berkaitan dengan struktur dan proses biologis otak. Pandangan psikologi di atas sangat berbeda dengan pandangan ilmu tasawuf. Menurut tasawuf, intelegensi berkaitan dengan akal (‘aql) yang diartikan dengan pikiran, bukan semata-mata dengan penalaran. Karena, pikiran terdiri dari rasio dan rasa. Jadi makna ‘aql di dalam Al-Quran tidak saja berpikir secara rasional atau logis, tetapi juga melibatkan emosional.

Dari pandangan ini, bagi psikologi, fungsi akal berada di dalam otak, sedangkan bagi ahli tasawuf ‘aql bertempat di dalam hati, atau qalb yang terletak di sekitar dada dekat jantung. Merujuk pada Tafsir Muhammad Yusuf Ali dan Frager bahwa hatilah yang menyimpan kecerdasan. Bukankah para psikolog memiliki berbagai teori dan prinsip dalam mengukur intelegensi ? Betul. Tapi teori dan prinsip yang dimiliki para psikolog masih merupakan fenomena yang tidak cukup diamati secara indriawi, dan anda tahu bukan,  manusia terdiri dari jasmani dan ruhani!?

Dalam tasawuf tidak ditemukan pengukuran dengan alat fisik apapun, tetapi seorang salik (pengamal tasawuf) diharapkan menjadi peneliti bagi dirinya sendiri, mengamati, dan merasakan langsung kondisi batinnya. Dalam hal ini terdapat anggapan tak seorang pun dapat mengetahui apalagi mengukur kecuali dirinya dan Tuhan. Dalam proses pengamatan dirinya tidak mustahil ia dapat meningkatkan kecerdasannya melalui pengalaman-pengalaman yang langsung dialami. Ini sesuai dengan Wilcox, bahwa intelegensi adalah kemampuan belajar dari pengalaman. Seorang salik belajar dari pengalamannya sendiri yang mendorong ke arah perubahan perilaku.

Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang eksistensi manusia, maka mulai ada peluang untuk mengkaji tentang dirinya. Selanjutnya, bila ia kemudian sadar akan potensi yang diberikan sebagai karunia Tuhan belum teraktual-kan, maka ia lebih mudah untuk membuka diri memperjuangkan kebutuhan-kebutuhannya sampai meraih aktualisasi diri dan menjadi pribadi yang didambakannya.

Jika Maslow tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana cara yang tepat untuk memenuhi metakebutuhan, di dalam ilmu tasawuf cara-cara itu dapat dipelajari dan langsung diamalkan bisa dalam bentuk ‘uzlah, khalwat, riyaadlah atau mujaahadah.


Konsep kebahagiaan
Namun ilmu tasawuf mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan dasar itu. Dan itu berarti kebutuhan yang bersifat fisiologis-psikologis bukanlah sesuatu yang mutlak bagi para pengamal tasawuf, namun hanya sebagai sarana dalam upaya beribadah kepada Allah Swt.

Konsep kebahagiaan keduanya (psikologi dan tasawuf) pun berbeda. Dalam tinjauan psikologi orang bahagia bila berhasil memenuhi kebutuhannya, mencapai cita-cita dan harapannya, berhasil menggapai anganangannya yang mungkin bersifat materialistik.

Tetapi tidak demikian dengan tasawuf, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika “berjumpa” dengan Tuhan, Sang Khaliq, Sang Kekasih Abadi. Oleh karenanya, menjadi pribadi mukmin dengan jiwa yang muthmainnah dan suci menjadi target pengembangan pribadi, sesuai dengan firman Tuhan (QS Al-Fajr (89):27-28).

Para Sufi mendapat ketentraman dan kebahagiaan melalui penyucian jiwa, melepaskan diri dari
ketergantungan pada kehidupan hedonistik untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Selebihnya, ia senantiasa
merasakan kehadiran-Nya, bahkan “bersatu” dengan-Nya dalam pengertian menginternalisasikan sifat-sifat
Allah di dalam diri yang termanifestasikan pada akhlak terpuji penuh kearifan, kemudian menjalankan misinya sebagai khalifah sesuai dengan Allah Swt.

Sebenarnya perhatian tasawuf pada  penekanan betapa pentingnya mengenal diri, penekanan pada spirit sabda Rasulullah, man ‘arofa nafsah faqod ‘arofa robbah, orang yang mengenal dirinya pasti mengenal
Tuhannya.  Ini menunjukkan suatu tindakan atau perbuatan yang mengarah pada upaya untuk mendapatkan pengetahuan tentang hakikat diri dan keesaan Tuhan.

Imam Al-Ghazali mengatakan, setiap orang yang ingin mengenal dirinya dan keajaiban karya Allah Swt dalam dirinya minimal memiliki tiga kriteria: Pertama, memiliki pengetahuan bahwa hanya Allah yang dapat membuat manusia menjadi sempurna. Kedua, memiliki pengetahuan bahwa ilmu Allah luasnya tidak terbatas. Ketiga, memiliki pengetahuan bahwa terdapat kebenaran pada setiap ciptaan-Nya.

Masih kata Imam Al-Ghazali, “Jika kita ingin mengenal diri, maka ketahuilah dua hal dengan sebenar-benarnya, pertama,  hati, dan kedua, jiwa (ruh).  Al-Ghazali juga menekankan, bahwa:
“Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesiapannya mengenal Allah, tetapi dalam
kesiapannya mengenali hatinya. Jika manusia telah mengenali hatinya, maka ia telah mengenali diri sendiri. Jika ia telah mengenali diri sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya.”Untuk mendapatkan ketigakriteria di atas tidak ada jalan kecuali harus berusaha melalui berbagai jalan, salah satunya melalui jalan yang ditawarkan dalam ilmu tasawuf, yakni bertarekat.

Sayangnya, sudah ratusan tahun manusia telah “dininabobokan” oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih yang dianggap memberikan rasa aman dan nyaman .
Einstein pun pernah mengutarakan penyesalannya, seharusnya kemajuan teknologi dapat membuat manusia bahagia, tapi ternyata malah membuat dunia semakin kacau, terjadi peperangan disana-sini dan
konflik menyeruak di mana-mana.Tapi saya melihat, dibalik carut-marut yang meng-global, tidak mustahil jika ada sebagian manusia di muka bumi ini berusaha mencari pencerahan atau semacam “channel” yang dapat menerangi setiap lubuk hati. Faktor inilah yang menyebabkan manusia moderen (dewasa ini) kemudian mencari ketenangan pada kelompok-kelompok pengajian untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan syari’at.

Bagaimana dengan orang-orang Barat yang hidupnya sudah terlanjur sekuler, bagaimana cara mereka
menyambung channel itu ?  Sebagian besar dari mereka ada yang mempelajari aspek mistis dari ajaran agama tertentu; Richard Gere yang menjadi murid setia Dalai Lama, meninggalkan rumah mewahnya untuk tinggal di India, disuatu tempat pengasingan pemimpin spiritual Tibet tersebut; Madonna dan Elizabeth Taylor tertarik untuk mempelajari dan mengamalkan jalan mistik Yahudi, yaitu Kabbalah.

Ada juga yang mengambil jalan pintas, yaitu dengan bunuh diri agar cepat “berjumpa” dengan Tuhan dan dapat menemukan kebahagiaan yang kekal dan abadi di alam sana, seperti kelompok The People’s Temple’s yang melakukan bunuh diri massal setelah diperintahkan oleh Jim Jones, pemimpin kelompok tersebut yang hidup menyendiri di sebuah hutan di Amerika Latin. Kekurangmampuan psikologi dalam menjawab persoalan hidup inilah yang menyebabkan saya berpikir akan perlunya metode pengembangan pribadi yang bersifat holistik, demi melahirkan sosok pribadi humanis yang sufistik.Kenapa harus Pribadi Holistik ? Hazrat Pir Inayat Khan mengibaratkan psikologi dan tasawuf bagaikan hubungan lampu dengan sumber daya listrik.

Para psikolog yang memikirkan bagaimana caranya membuat lampu dengan berbagai bentuk, warna, dan fungsinya, sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk ukuran-ukurannya.Namun demikian bila listrik padam, maka lampu tidak menyala, tidak berdaya dan akhirnya tidak berfungsi hingga tidak bermanfaat bagi si pengguna, bukan ? Oleh sebab itu, lampu ini sangat tergantung kepada sumber daya listrik.

Para sufi sangat mengetahui bagaimana menghubungkan lampu itu dengan sumber listrik yang abadi, yang tidak terbatas. Sehingga lampu tersebut kemudian senantiasa manfaaat menjadi penerang dan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Dalam konteks pengembangan pribadi Maslow menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pokok yang terdapat pada individu hingga tercapainya kebutuhan transendental agar supaya tercipta kehidupan yang tenteram dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan model psikologi ini sangat terbatas ruang dan waktu, belum mendalam dan belum merasuk jiwa seperti halnya kebahagiaan yang  dialami para sufi. Ini terjadi karena kebahagiaan ala psikologi adalah kebahagiaan yang berangkat dari pemenuhan kebutuhan  psikologis yang sebatas di dunia saja. Sedangkan tasawuf, memberikan cara pengembangan pribadi yang menekankan pada kebersihan dan kesucian jiwa demi menjangkau tujuan yang sangat tinggi dan mulia, yakni perjumpaan dengan “Sang Kekasih”, Allah Swt.  Bagi para sufi perjumpaan dengan Allah Swt merupakan kebahagiaan yang tiada bandingannya.

Nah menurut saya pengembangan pribadi manusia yang utuh adalah perpaduan pengembangan
pribadi model psikologi humanistik dan pengembangan pribadi model sufi.

Secara praktis dapat dikatakan setiap individu hendaknya bekerja, memenuhi sandang, pangan, dan kebutuhan-kebutuhan sensual maupun seksualnya, mengembangkan kemampuan intrapersonal serta hubungan interpersonal yang harmonis. Selain itu, ia menggali potensi melalui pemberayaan bakat dan minatnya sesuai dengan teori Multiple Intellegence-nya Gardner secara optimal dan berprestasi hingga terciptalah perwujudan atau aktualisasi diri.

Berbarengan dengan itu, individu tersebut hendaknya juga secara sistematis melakukan latihan-latihan yang terdapat pada pola dan langkah tazkiyyatun nafs yang dilakukan para sufi, seperti yang telah dilakukan Imam Al-Ghazali. Itulah konsep Manusia Holistik.

Read 5629 times Last modified on Tuesday, 25 May 2010 13:36
More in this category: Gara-gara Ditulung Menthung »

Leave a comment