×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Dulu, Saya Raja Tega

Basir
Kekerasan. Itulah satu-satunya cara yang dipilih Basir dalam melumpuhkan korbannya, tak peduli pria, wanita, anak-anak atau orang tua renta. Di dalam seluruh aksinya, mantan bajing loncat, perampok dan pejambret ini

tidak selalu dengan tangan kosong. Tak jarang senjata tajam dan timah panas menemani Bashir dalam menaklukkan sang korban sebelum menguras habis harta benda si korban.
“Saya ngerampok terang-terangan dimana korban dalam kondisi terjaga, Mas. Ada pistol, ya pakai pistol. Ada clurit, ya pakai clurit. Ada parang, ya pakai parang,” cerita Basir, mengenang. “Notok ditengah jalan, jambret pakai motor dan bacok orang sudah menjadi keseharian saya sebelum bertarekat,” tambahnya.

Itulah kehidupan lelaki kelahiran Indramayu ini, yang dengan teganya memperagakan kekerasan dengan memenggal hak hidup sesamanya sambil membiarkan sasarannya bersimbah darah hanya demi memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan diri dan keluarganya.
Tetapi dari manakah  datangnya ketegaan itu ? Ia memang datang dengan dua alasan, yakni bisa sebagai sebab, bisa sebagai akibat. Bisa sebagai pelaku, bisa pula sebagai korban. Tapi mari kita mempercayai hukum kaedah sufi yang menyebutkan:”Kesungguhan mu untuk mendapatkan sesuatu yang telah terjamin untukmu, yang diiringi dengan sikap lalaimu atas sesuatu yang telah dituntut untukmu, kenyataan yang sedemikian merupakan bukti atas butanya matahati yang engkau miliki.”

Itulah mozaik kehidupan Basir yang telah dipenuhi oleh kepekatan nafsu dan akal dengan menjadikan matahati sebagai tumbalnya. Dan itulah sebenarnya bencana.

Kejadian yang membuatnya hampir saja di teteli  dan di bakar massa, menghantarkannya pada pintu taubat. Tekadnya “sebelum taubat berpantang mati !”  benar-benar dipegangnya kuat-kuat hingga selesai menjalani hukuman di Rumah Tahanan Cipinang Jakarta Timur. Lalu ia pun berbaiat pada Tarikat Qadiriyyah wan Naqsabandiyyah, sebuah aliran tarikat yang substansi ajarannya merupakan gabungan dari dua tarikat yaitu tarikat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah.

Dari situlah Basir benar-benar merasakan indahnya taubat. Ia benar-benar merasakan bahwa dengan taubat sebuah persoalan yang sudah beranak pinak, beranting dan bercabang dapat terpangkas hingga menyentuh akar persoalannya dan hidup seperti baru terlahir kembali. “Saya merasa tak ubahnya bayi yang baru terlahir. Ringan menjalani kehidupan meski aneka ragam persoalan mengepungnya,” tutur Basir.
Hijab pekat terangkat melalui cahaya taubat yang memancarkan pembersihan atas kegelapan-kegelapan yang pernah menyelimuti hati dan pikiran lelaki yang tak pernah mengenyam pendidikan formal ini. Dan ia pun menemukan butiran hikmah bahwa taubat itu penuh cinta. “Dulu, saya bengis dan raja tega. Sekarang saya mudah memaafkan. Dulu, kesenggol dikit saja langsung saya bacok orang yang menyenggol saya itu. Tapi sekarang ketika dilempar batu saya membalasnya dengan memberi buah,” jelas Basir yang kini berdagang di tempat pelelangan ikan.

Apa yang terjadi sesudah hijab yang menutup diri seseorang mulai tersingkap ? Ia mengenali diri dan sekaligus mengenali Tuhannya. Seperti yang diungkapkan Basir ia malu dan merasa berdosa jika sesaat saja dirinya lupa mengingat Allah. 

Tak peduli dari mana pun datangnya, seteguk air adalah barang yang amat berharga bagi pihak yang sedang dahaga. Basir beruntung telah mendapat seteguk air dari sumber yang benar yakni oase para sufi. Dan Basir telah mengingatkan kita pada petuah penuh berkah Imam Ibnu ‘Atha’illah: “Terkadang Allah mentaqdirkan hamba-Nya berbuat dosa, agar si hamba lebih dekat kepada-Nya.” Kaaf Haa Yaa’ ‘Aiin Shaad ! .

Read 4972 times

Leave a comment