×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Alah ! Apa itu Tasawuf ?

Edwar S.N (31 Th) - Pemilik CV Tiga Warna
Jalan Sufi yang dilalui Edwar membuatnya melihat dengan jelas kenyataan hidup yang sesungguhnya ia hadapi. Pemahaman yang keliru dari sebuah pengamalan ibadah dan keelokan glamour Ibu Kota hampir saja membuatnya

 terpesona. Kalau bukan lantaran jalan Sufi yang ditempuhnya, aqidah dan kefitrahan dirinya nyaris menjadi korban. Maklum, sejak kecil hingga remaja, Edwar tumbuh dan besar dilingkungan yang meski taat beribadah tapi sangat anti terhadap sufisme. Ia terlahir dan menamatkan Sekolah Dasar nya di Padang Sumatera Barat. Setelah itu SMP-SMA nya di Pekan Baru, Riau. Di Pekan Baru, Edwar bisa dibilang anak surau atau anak masjid. Ia tak bisa melepas salat lima waktunya tanpa masjid dan kebiasaan ini terus terbawa ketika hijrah ke Jakarta.

Sangat disayangkan, kedekatan Edwar pada masjid malah melahirkan ghurur yang membutakan mata hatinya. Ghurur ini semula hanya perasaan lebih, namun lambat laun terbentuk menjadi nyata pada sifat dan perilaku. Perasaan merasa masjid banget terbentuk menjadi kesombongan tersendiri dalam diri lelaki kelahiran Sumatera Barat ini.

Kebutaan hati itu semakin menjadi ketika Edwar, sesampainya di Jakarta, aktif dikegiatan pengajian yang menstimulus penggunaan nalar dan akal dalam ber-islam. Edward  merasa seakan melebihi dari orang lain dalam banyak hal, terutama kesalehan dan pemahaman pengetahuan ke-islaman.

Ia tak memiliki respek sedikitpun ketika salah seorang karib kerabatnya mengenalkan sisi esoteris Islam. Malah dalam satu kesempatan pengajian tasawuf, ia tak mampu menahan kesinisannya pada ilmu tasawuf. “Alah ! Apa itu tasawuf !!!?,”  gusar suami Lala Sumiati ini.

Bahkan pada satu moment dimana setiap jamaah diminta untuk menirukan kalimat tahlil yang dilafalkan oleh seorang guru yang mumpuni di bidang ilmu thareqat, Edwar menolak keras menirukan oleh karena sepengetahuannya Rasulullah Saw tak pernah mengajarkan bacaan tahlil seperti yang dicontohkan guru itu. “Enggak ada greget karena saya menganggap Rasulullah tidak pernah mengajarkan irama bacaan tahlil seperti itu, Mas,”  jelas Edwar.

Ah, Edwar tengah tertipu oleh penglihatan mata lahir dan membiarkan diri dibohongi oleh perasaan merasa “cukup saleh” yang bersemayam dalam dirinya sendiri.

Lantas sejak kapan ia menyadari seberapa jauh ia telah tertipu oleh ghurur? Ketika rahmat Allah yang meliputi setiap situasi dan segala sesuatu menembus di kedalaman relung kalbunya. Tepatnya, Pada pengajian tasawuf yang mengambil tema Jalan Panjang Menuju Allah, yang rutin di selenggarakan Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat. Batinnya bergetar. Getaran batin itu melahirkan titik cerah pada kesempatan lain ketika ia mengikuti kajian yang meninjau tasawuf dari sudut pandang ilmu nuklir.
Disitu ia mendapatkan paparan penjelasan tentang halusinatif dunia, sebuah pandangan yang dimiliki oleh para mistikus dan idealis.  “Saya mulai menemukan landasan ilmiah sufisme waktu itu,” aku ayah dari Ghevir Azzahra dan Alyandra Khairani ini.
Dari sana Edwar mulai dapat menerima bahwa Agama (Islam) bukan sekumpulan aturan dengan ganjarannya. Lebih dari itu agama merupakan wilayah pengungkapan Ilahi melalui Kalam-Nya dengan menggunakan bahasa perumpamaan (tamtsil) dan symbol (ayat) yang bisa dicerna oleh pikiran manusia. Simbol dan perumpamaan itu digunakan Sang Khaliq ketika Ia memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya kepada makhluk-Nya.

Sejak itulah, ia mulai dapat merasakan betapa batinnya meradang haus. Haus itu hilang setiap kali ia hadir di majelis dzikir yang diselenggarakan oleh aliran thareqat tertentu. Namun ketajaman dan kehalusan pemahaman hakikat sufisme menjadi landasan batiniahnya setelah rutin mengikuti kajian kitab al-hikam dan berbaiat pada thareqat Syadziliyah.

Langkahnya kini mantap dalam menemukan kebenaran sejati yang dicerahi hakikat melalui tahapan perbaikan-diri, kesadaran-diri, dan kebangunan diri, dengan mengikuti petunjuk al-quran, sunnah Rasulillah dan arahan mursyid  yang kaamilmukammil.

Begitulah memang. Kecakapan ibadah lahiriah tidak sertamerta melahirkan keelokan batiniah jika tidak diikuti oleh usaha yang keras ke arah keselarasan dan tindakan batin yang benar, dan mengikuti orang yang ahli dibidang ruhani.

Read 8868 times Last modified on Monday, 22 June 2009 13:28

Leave a comment