Pertanyaan Soal Bid’ah

Pertanyaan Soal Bid’ah (1)
Assalamu’alaikum wr. wb. 
Saya ingin menanyakan, bagaimana sikap kita bila di lingkungan tempat tinggal kita ini meskipun orang-orangnya

sangat religius, tetapi sering kali membid’ahkan hal-hal yang sudah baik (seperti yasinan, tahlilan, sholawatan, dzikir bersama setelah sholat, dsb)

Kemudian saya tanyakan, beberapa tahun terakhir saya sering membaca buku-buku sufistik, mengingat ayah saya juga mengikuti Thariqot Qadiriah di Bandung, namun sampai saat ini saya belum mengikuti thariqat, ada rasa ragu apakah saya bisa menjalani riyadhah seperti yang ayah saya lakukan (saya rasa sangat berat). 

Saat ini saya tinggal dan bekerja di Tangerang, dan orang tua saya menganjurkan untuk belajar mengaji di Tangerang saja. Mohon bantuannya, adakah thariqat yang lebih ringan di Tangerang? Terima kasih banyak sebelumnya. Salam.

Wassalamualaikum wr. wb.
Teguh Purnama -0812185xxxxx

 

Pertanyaan Soal Bid’ah (2)

Assalamu’alaikum wr. wb. 
Pak Kyai yang saya hormati afwan saya Ruli dari Tanggerang mau tanya tentang bid’ah. Apakah benar anggapan kelompok Wahabi setiap bid’ah itu adalah sesat dan sesat itu adalah tempat neraka? Bagaimana menurut Pak Kyai tentang hal diatas? Terima kasih. 

Wassalamualaikum wr. wb.
0819455xxxxx

JAWAB:
Apa yang menjadi tradisi kebaikan di kalangan ummat Islam seperti Yasinan, Tahlil, wirid sehabis sholat, bukan sesuatu yang bid’ah. Tetapi adalah Sunnah Hasanah (seperti dalam hadits Nabi Saw, “Man sanna sunnatan hasanatan…dst”). Jika disebut Bid’ah maka bukan Bid’ah Dholalah (hal baru yang sesat), tetapi Bid’ah hasanah (tradisi baru yang baik), yang sesungguhnya menjabarkan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Anda tidak usah bingung. Karena mereka belum tahu tentang pengetahuan agama secara dalam. Memahami Al-Qur’an dan Hadits serta praktek ibadah Nabi Saw, tidak segampang membaca formalitas teks Al-Qur’an dan Sunnah. Ada namanya Ijtihad (yaitu memahami Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemikiran maksimal dengan syarat-syarat-nya), yang dilakukan oleh para Sahabat, Tabi’iin hingga para Ulama Mujtahidin. Seluruh tatacara ibadah kita saat ini, tanpa adanya para sahabat, tabi’iin dan mujtahidin, pasti kita akan gagal memahami Nabi Saw.

Ironisnya saat ini banyak orang melakukan Ijtihad, tetapi tidak memenuhi syarat ijtihad, sehjingga ijtihadnya malah menyesatkan dirinya dan orang lain, lalu membid’ahkan sana sini. 

Dalam setiap zaman golongan seperti itu selalu ada, kita sangat kasihan sekali terhadap mereka ini, karena semangat besar, cara dan jalannya yang salah. Yang terjadi adalah Nafsu Ijtihad. Nah…

Misalnya kalau Allah Swt memerintahkan anda makan singkong, apakah anda akan makan singkong dengan mentah-mentah tanpa dimasak, tanpa dikupas, tanpa dicuci?

Kalau ketika anda mengupas kulitnya, disebut bid’ah? Merebus singkong itu juga bid’ah? Membuat pati songkong juga bid’ah? Inilah perlunya berakal sehat dan pemikiran yang benar, dalam berijtihad.

Hanya bid’ah yang dholalah saja yang disebut bid’ah neraka. Zaman Nabi sholat tarawih tidak dibatasi jumlah rokaatnya. Tetapi sejak zaman Khalifah Umar hingga sekarang ini, sholat tarawih di masjidil Haram dan Masjid Nabawi, 20 rekaat. Itulah Bid’ah Hasanah (bid’ah yang sangat bagus).

Ikuti  pengajian tasawuf di Tangerang di Gedung MUI Tangerang seperti dalam jadwal di www.sufinews.com atau di Majalah Cahaya Sufi, agar ada pencerahan dalam diri anda dan sekaligus membebaskan bebas psikologis anda.

 

Read 1624 times