×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Saya Sempat Bisa Menghilang

Assalamu’alaikum.wr.wb.
Pada saat remaja saya saya tinggal di kota terbesar di salah satu ibu kota propinsi di Indonesia, untuk eksis di kota itu, saya berpendapat orang hanya bisa sukses dengan 2 cara saja , yaitu

memiliki otak atau otot (saya memilih keduanya). Untuk otak, saya telah memperoleh gelar kesarjanaan S1 di salah satu universitas bergengsi di kota tersebut.

 

Sedangkan untuk ototnya saya gemar sekali berguru ilmu-ilmu kesaktian. Sudah banyak pimpinan pesantren, pendekar atau para normal yang saya datangi. Tidak tanggung-tanggung saya belajar kepada mereka sampai dengan tuntas pada tataran ilmu-ilmu tingkat tinggi dan langka.
Prinsip saya pada saat itu adalah,”belajar ilmu itu harus nyata/wujud, misalnya saya kebal ketika dibacok orang (saya menguasai ilmu aji pancasona, rawa rontek, bata karang dan berbagai versi dengan bacaan/wiridan Islam lainnya). Pada saat dikejar massa, saya tidak terlihat oleh lawan (halimunan), menghadapi lawan yang jumlah puluhan orang cukup dengan sendiri saja (tenaga dalam hasil olahan wiridan atau nafas/bio energi saya sudah mencapai tingkat paling tinggi).

Bahkan ketika ayah saya meninggal dunia karena disantet orang, saya mempelajari fenomena itu. Untuk perbandingan, saya sampai belajar ke dukun-dukun ilmu hitam. Untuk mencapai kesempurnaan ilmu-ilmu itu seringkali saya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah Islam seperti meminum darah binatang, memasang susuk, belum lagi berpuasa dengan macam-macam model dan variasinya.
Selama perjalanan tersebut, hati saya tidak pernah tenang dan tentram, saya telah dikuasai nafsu dan khodam ilmu-ilmu itu. Alhamdulilah, Allah SWT memberi petunjuk kepada saya, melalui jalan tasawuf dengan seorang mursyid. Saya bertobat dan menyesali perjalanan hidup saya dahulu. Namun seringkali ada pertanyaan yang muncul dan mengganjal dalam batin saya, apakah khadam dari ilmu-ilmu tersebut sudah punah/hilang dalam diri saya?
Barangkali pak ustadz dapat membantu memberikan jawabannya? terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb
feri_fernando212[ad]yahoo.co.id

Jawab
Khadam itu belum hilang, dan sebagian masih ikut anda. Khususnya ketika anda dalam kondisi stress dan kepepet. Selain tataran tasawuf dan adabnya yang harus anda lakoni, anda usahakan secara khusus membuang jauh-jauh. Coba, anda kembalikan khadam itu ke habitatnya, yaitu di laut agar tidak kembali lagi.
Tata caranya: Anda membaca surat Al-Fatihah Lillahi Ta’ala 41 x, lalu menyelam sekujur tubuh di pantai (tahan nafas) sambil membaca istighfar sekuat-kuatnya dan sebanyak-banyaknya. Jika nafas habis, ambil nafas dan menyelam untuk kedua kali, seperti semua, namun membaca Ya Hayyu Yaa Qoyyum, sebanyak-banyaknya dalam air laut. Jika nafas habis, ambil nafas kembali, menyelam ketiga kali, yang dibaca Astaghfirullahal ‘adzim, seperti yang pertama. Nanti menyelam keempat ganti Yaa Hayyu Yaa Qoyyum. Lakukan berulang kali, sampai bosan. Coba tata cara ini anda lakukan setiap seminggu sekali selama 7 kali. Tinggalkan semua ilmu hikmah anda!

Read 11244 times Last modified on Sunday, 23 May 2010 12:05