×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Pematung dan Gunung Batu

M. RAHIM BAWA MUHAIYADDEEN

SALAM sayangku padamu, cucu-cucuku, kilau cahaya mataku. Apakah engkau melihat gunung bebatuan yang sangat besar itu? Suatu hari seorang pematung pergi untuk menguji gunung batu itu. Dia ingin mengetahui apakah bebatuan

yang ada di gunung itu dapat digunakan untuk patung-patung ukiran atau bangunan rumah dan barang-barang lainnya. Jadi dia memanjat dan mulai memahat pada sisi gunung.

“Duhai manusia, mengapa engkau berjalan-jalan di atasku dan berdiri di kepalaku?” keluh gunung itu. “Mengapa engkau mencongkelku dengan peralatanmu? Aku adalah gunung yang sangat besar! Mengapa engkau lakukan ini semua?” 

“Oh gunung,” jawab sang pematung, “aku telah datang untuk menolongmu. Tubuhmu banyak yang pecah serta retak-retak! Jika kau tidak mempunyai kekurangan-kekurangan ini, aku tidak dapat menggunakan celah-celah itu sebagai pijakan kaki untuk memanjat di sini. Aku hanya ingin membuatmu lebih berharga.”

“Apa!” teriak gunung, “akulah yang terbesar! Aku adalah satu-satunya benda yang tidak dapat dipindahkan di dunia ini! Engkau hanya seorang manusia kecil, dan aku sangat besar! Bagaimana mungkin engkau memberiku sebuah kejayaan?” Gunung itu gemetar dan sangat marah ketika berbicara.

“Itu benar. Aku sangat kecil,” kata si pematung. “Jika kau bergerak dan membuatku jatuh, aku akan terluka. Tapi ada sesuatu yang lebih kecil dariku yang dapat mengendalikanmu, walaupun dirimu sangat besar. Kalau benda kecil melepaskan kekuatannya terhadapmu, kau akan sepenuhnya hancur. Lihat, batang kecil yang disebut dinamit ini sekarang ada di tanganku, dan ini dapat menghancurkanmu berkeping-keping.

Duhai gunung, tidakkah dirimu menyadari bahwa aku datang untuk memberimu kejayaan yang lebih besar? Jika kau telah memahami ini semua, kau tidak akan berbicara seperti itu kepadaku. Tak seorang pun menilaimu dalam bentukmu yang demikian besar. Tak satu pun pohon atau semak yang mempedulikanmu. Lihat bagaimana mereka tumbuh di celah-celah kepalamu dan berusaha untuk lebih tinggi darimu. Tidakkah kau tahu, kaulah satu-satunya yang menganggap dirimu besar? Tak seorang pun berpikir demikian. Bagaimana dirimu begitu bangga dengan keadaanmu sekarang? Kau sekadar batu besar yang tak berguna! Jika aku memecahmu menjadi puing-puing, kau mendapatkan kejayaanmu.”

“Coba hancurkan aku!” teriak gunung itu. “Coba saja!” “Baik, kau telah memperlihatkan padaku apa arti menjadi besar, maka sekarang aku akan menunjukkanmu apa artinya menjadi kecil.” Sang pematung mengambil alat pahatnya, dan mengayunkan palunya, alat itu menerobos masuk ke dalam batu tersebut. Kemudian dia menempatkan dinamit ke dalam lubang itu dan menyalakan sumbunya.

Maka ledakan besar terjadi, dan puncak gunung itu terbelah jadi empat bagian. “Kau telah menghancurkanku!” tangis gunung itu.

“Jangan berpikir bahwa ledakan itu hanya akan menghancurkan kepalamu. Aku akan menghancurkan seluruh bagian tubuhmu, mulai dari kaki sampai kesombongan dan kebanggaanmu hancur!” teriak sang pematung. Dan dia memahat lubang yang lain serta menyalakan dinamit berikutnya. Gunung itu menggerutu.

“Engkau sangat kecil!” teriak gunung, “tapi engkau telah menghancurkanku!”

“Kau tidak berguna sebelumnya!” kata si pematung, “tapi sekarang aku akan memberimu nilai dan kejayaan besar. Aku akan memanfaatkanmu untuk membuat bermacam-macam benda.”

Kemudian pematung itu membawa pergi bongkahan batu dari gunung yang hancur itu dan menggunakannya untuk membangun rumah yang bagus, mendirikan tiang-tiang yang indah mengkilap dan memasang kain tiras yang cantik. Dia bahkan membuat patung-patung dengan hidung dan mata. Kemudian si pematung itu membangun candi untuk berhala-berhala ini sehingga orang-orang berdatangan untuk melaksanakan berbagai puja mereka, dan  pacara ritual mereka.

“Sekarang, apakah kau telah mengerti?” tanya pematung. “Dalam keadaanmu yang berubah sekarang ini setiap orang menghormatimu. Setiap hari mereka mencuci berhala-berhala yang berasal dari batumu dengan susu dan menunjukkan pengabdian yang tinggi. Mereka melakukan ini semua untukmu. Bagaimana bila dibandingkan dengan hanya menjadi sebuah gunung? Dan bagaimana mendapatkan kejayaan ini? Apakah tergantung dari keadaanku yang kecil atau kebesaranmu yang menaikkan nilaimu? Lihatlah bedanya antara wajahmu sebelum ini dengan kondisimu sekarang! Rumah-rumah dan candi-candi yang dibuat dari batumu sangatlah berharga, dan setiap orang begitu besar memujimu.

Duhai gunung batu, perusakan bagus bagi orang-orang jumud sepertimu. Tentunya, orang jumud yang lain akan melindungimu sehingga dirimu tetap berdiri penuh kebanggaan. Tetapi, orang yang bijak akan menghancurkanmu guna menciptakan ruang terbuka dan membiarkan angin berhembus menuju tempat di mana kau pernah berdiri. Sehingga setiap orang dapat bernafas dengan mudah.”


Cucu-cucuku, sebagaimana pematung yang meledakkan gunung batu itu, seorang guru sejati yang sadar, seorang insan kamil, harus menghancurkan gunung batu dalam diri kita. Gunung itu adalah kesombongan dan kejumudan otak kita. Ini tegak di tengah jalan kesehatan dan kedamaian. Kebesarannya menyembunyikan pesona dan keindahan. Batu tersebut harus dipecahkan dan dihancurkan. Jika tidak, kita akan menjadi tetap tak berharga.

Ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang bijak. Pertama, dengan kearifannya dia harus menghancurkan gunung kesombongan. Hanya dengan menghancurkan gunung itu, dia dapat membuatmu lebih cantik dan berguna. Selanjutnya dia harus menggali dalam-dalam dan menghancurkan dasar gunung tersebut, yang berada jauh di bawah tanah. Ini akan membersihkan jalan sehingga kedamaian dan ketenangan dapat terwujud di dunia ini. Barulah dia dapat membangun kota yang damai di ruang yang lebih terbuka dan bersih. Dia dapat membangun kerajaan Tuhan dalam diri kita.

Semua nabi melampaui gunung batu kesombongan itu dan berbicara kepada Tuhan. Inilah makna hakiki dari kisah Musa a.s. yang mendaki Gunung Sinai dan berbincang dengan Tuhan. Nabi Muhammad, Sang Rasul saw., juga mendaki bukit batu kesombongan itu dan naik ke atas yang menerobos tujuh puluh ribu selubung ilusi untuk bertemu dengan-Nya. Kita juga harus pergi melampaui batas gunung keangkuhan jika ingin berbicara dengan Tuhan dan mendapatkan kedamaian serta ketenangan.

Manakala gunung dalam diri kita telah hancur, kita akan mengetahui kerajaan Tuhan, dan dengan kedamaian yang kita dapatkan kita bisa membangun surga di dunia. Kita akan mencapai kejayaan besar dan menerima kenikmatan sebagaimana “anak-anak” Tuhan. Kemudian seluruh dunia akan menjadi damai, memuja dalam kepatuhan, dan menemukan cinta dalam kerajaan itu. Kita akan mencapai pesona “putra” Tuhan. Inilah kejayaan yang datang melalui syekh.

Cucu-cucuku, engkau akan jauh lebih berharga pada keadaan ini! Renungkan hal ini. Apakah engkau ingin gunung sombong itu tetap berada dalam dirimu? Selama gunung kesombongan masih ada di sana, engkau tidak akan pernah mendapatkan kebebasan, kedamaian, dan ketenteraman. Engkau tidak akan pernah mendapatkan kejayaan yang hendak diberikan syekh kepadamu. Memang benar bahwa mungkin sedikit menyakitkan ketika gunung itu dipahat dan diledakkan. Tetapi apa yang disakiti? Pikiran monyet, anjing hawa nafsu, dan lima unsur alami manusia. Hanya jika sang syekh menghancurkan gunung kesombongan itulah, tingkat demi tingkat, maka dia dapat mengusir kejahatan dan memberimu kebaikan. Inilah yang akan dilakukan oleh bapak kebajikan.

Kasihku untukmu. Engkau harus merenungkan hal ini! Sadarilah dengan bijak bahwa syekh melakukan ini untuk membantumu menerima kebaikan, kemegahan, dan kejayaan hidup, kebebasan, dan kesehatan. Hanya dengan cara demikianlah engkau benar-benar menjadi “anak” Tuhan. Renungkanlah hal ini, cucu-cucuku.

 

 

 

Read 2634 times Last modified on Monday, 09 March 2015 10:40

Leave a comment