Tentang Abu Al-Husain An-Nuri dan Tuduhan Atas Kekafirtannya di Hadapan Khalifah

Syekh Abu Nasr As-Sarraj 

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Sesuai dengan berita yang telah sampai padaku, bahwa Abu al-Husain Ahmad bin Muhammad an-Nun —rahimahullah— hidup di zaman al-Muwaffiq. Di mana Ghulam al-Khalil mengingkari, dan kemudian mengadukannya kepada al-Muwaffaq yang saat itu ia menjabat sebagai khalifah.

 

Dalam pengaduannya ia mengatakan, bahwa di Baghdad ini terdapat seorang laki-laki zindiq yang darahnya halal. Jika engkau, Amirul Mukminin membunuhnya maka darahnya aku yang bakal menanggungnya.

Kemudian khalifah mengutus seseorang untuk mencari Abu al-Husain dan dibawa ke hadapan sang Khalifah. Kemudian Ghulam al-Khalil memberi kesaksian atas dakwaannya, dan berkata, “Aku mendengarnya berkata, ‘Aku kasmaran (al-’Isyq) kepada Allah dan Allah pun kasmaran kepadaku.’”

Lalu an-Nun menjelaskan: Saya mendengar Allah telah menuturkan, “Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 54). Padahal semua orang tahu, bahwa al-‘Isyq (kasmaran) itu tidak lebih tinggi daripada Mahabbah (cinta), hanya saja orang yang ‘asyiq (kasmaran) itu dilarang sedangkan orang bercinta (al-muhibb) itu bisa menikmati cintanya.

Kemudian al-Muwaffaq menangis karena mendengar jawaban an-Nun yang sangat lembut dan menyentuh hati nuraninya.

Mereka juga memberi kesaksian, bahwa ketika Abu al-Husain mendengar adzan ia berkata, “Celaka dan mencium bau kematian.” Dan ketika mendengar anjing menggonggong ia malah mengatakan, “Aku penuhi panggilanmu.”

Apa yang didakwakan ini dikatakan kepada an-Nun, maka ia mengatakan: “Adapun orang yang adzan itu aku sangat khawatir dan cemburu, ia menyebut Nama Allah sementara hatinya lalai, dengan adzannya ia hanya ingin mengambil upah. Sebab jika bukan karena upah dan sedikit nilai harta dunia, ia tak akan pernah menyebut Nama Allah. Oleh karenanya aku katakan, “Celaka dan mencium bau kematian!” Dan Allah berfirman:

“Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, akan tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Q.s. al-Isra’: 44).

 

Sedangkan anjing, dan segala sesuatu menyebut Allah dengan tanpa dibarengi riya dan tak ingin mendapat popularitas (sum’ah), tidak juga mengharap ganti upah apa pun. Oleh karenanya aku ucapkan apa yang telah aku ucapkan tersebut.

Abu Nashr as-Sarraj berkata: Suatu saat an-Nun dibawa kembali ke hadapan khalifah, dan orang-orang memberi kesaksian bahwa ia pernah mengatakan, “Semalam aku bersama Allah di rumahku.” Kemudian ia ditanya tentang dakwaan tersebut, dan menjawabnya, “Benar, memang saat ini aku juga bersama Allah, jika aku di rumah maka aku juga bersama Allah, jika aku di padang sahara aku juga bersama Allah. Dan barangsiapa di dunia bersama Allah, pasti di akhirat akan bersama Allah. Bukankah Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.s. Qaf: 16).”

Kemudian khalifah merangkulnya dan berkata, “Berbicaralah sesuka Anda.” Kemudian an-Nun berbicara dengan kalimat-kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Khalifah menangis dan orang-orang pun menangis. Mereka berkata:

“Mereka (kaum Sufi) adalah orang yang lebih tahu Allah daripada yang lain.”

Aku juga mendengar Abu Amr bin ‘Ulwan bercerita: Abu al-Husain an-Nun pernah dibawakan uang sejumlah tiga ratus dinar hasil dari penjualan tanah yang sengaja dijual untuknya. Kemudian ia pergi menuju ke jembatan Sharrah dan melemparkan uang dinar tersebut satu persatu ke dalam air sambil berkata, “Wahai Kekasihku apakah Engkau akan memperdayaku dengan dirham-dirham ini?”

Maka sebagian orang berkata: Betapa jelek tindakan yang dilakukan an-Nun! Andaikata ia belanjakan dalam kebaikan tentu hal itu akan lebih baik baginya.

Aku jawab: Jika ia tahu bahwa dinar-dinar itu akan menggangunya untuk mengingat Allah meski hanya sekejap mata maka ia wajib melemparkan dinar-dinar itu sekaligus ke dalam air hingga ia lebih cepat terbebas dari fitnahnya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Sulaiman a.s., “Lalu ia mengusap-usap kaki dan lehernya.” (Q.s. Shad: 33). Sebagaimana telah kami sebutkan dalam Bab terdahulu. 

Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata: Abu al-Husain an-Nun adalah termasuk salah seorang yang wajd. Ia memiliki isyarat-isyarat yang sangat lembut, ungkapan-ungkapan yang sulit dipahami dan syair-syair yang cukup banyak. Ia telah mereguk dari samudera ilmu yang sangat luas.

Disebutkan bahwa Ia berkata: “Kedekatan dalam kedekatan,” dalarm makna isyarat yang telah kami sebutkan adalah “Jauhnya kejauhan.” Ungkapan ini masih mudah dipahami oleh mereka yang ahli, di mana ungkapan ini mendekati makna ungkapan orang bijak, “Dosa orang-orang yang didekatkan Allah (muqarrabin) adalah kebaikan kaum yang banyak berbuat kebaikan (al-abrar).” dan ungkapan orang, “Tingkat keikhlasan para murid adalah tingkatan riya’ bagi orang arif.”

Abu al-Husain an-Nun juga memiliki bait-bait syair yang ditulis untukAbu Said al-Kharraz:

 

Sungguh aku tak pernah menyimpan rahasiaku dan rahasianya 

karena khawatir orang lain menyebarkan seluruh rahasia.

 

Aku tidak menatapnya meski hanya sekejap.

Hingga akan ada mata yang menatap kami saat berbisik.

 

Aku bangun keinginan dengannya sebagai utusan hingga dia tunaikan apa yang ada dalam relung hatiku

 

Dalam bait-bait syair ini ada isyarat-isyarat dan makna yang aneh yang menunjukkan pada nurani yang khusus dan mengungkapkan tentang wajd-nya yang tidak ia nisbatkan pada sifat dan tempat yang bukan sifatnya.

Dan masih banyak kejadian serupa yang terjadi pada Abu al-Husain an-Nun. Semoga Allah memberi taufik pada kita.

 

Read 1151 times Last modified on Thursday, 08 September 2016 18:18

Leave a comment