Bertemu Tuhan Di Balik Seribu Jarum Syurga Featured

Oleh: Lily L. Hakim
Sepertiga malam terakhir, mobil kami bergerak menusuk pagi.

Sejuknya pagi itu bersahutan dengan suara gema masjid yang sedang membangunkan sahur. “Wah, kita jadi mudik nih,” ucap anakku Aisyah, “Kita pasti menembus sawah ladang nanti ya Bah,” katanya.

Seperti biasanya Pak Sopir, alias sang suami, KHM Luqman Hakim, menyuarakan adzan dan iqomah sebelum berangkat, lalu berdoa bersama. Ketika mobil bergerak, yang saya ingat sejumlah peralatan kesehatan TCM (Traditional Chinese Medicine), alat-alat akupuntur dan pernik-perniknya, apakah sudah menempati posisi yang pas apa belum dalam mobil.

Terbayang wajah mama saya, sejak awal menjadi motivator kenapa saya mendalami ilmu akupuntur ini, karena dari beliaulah saya bangkit, agar vertigo yang menderanya segera sembuh. Maka semua peralatan lengkap kami bawa dari Jakarta.

Berita radio sepanjang jalan, mengenai kemacetan terus kami simak. Terutama rusaknya jembatan Comal yang mengegerkan publik pemudik. Nadia, duduk di depan, kami berdua, Aisyah, duduk di belakang.

“Wah kalau Aal ikut, mudik kali ini akan seru, nih.” Kata Nadia sembari mengenang tujuh tahun silam ketika kami mudik, dan macet total dalam panggang matahari siang. Dan peristiwa itu kami kenang sebagai “manusia panggang.” Aku mengenang tujuh tahun silam ketika mudik masih bersama anakku, M. Al Fuqair Ilar Rahman, yang saat ini sedang study di Al-Azhar Mesir.

“Sampai Madiun jam berapa, Bah?” tanyaku, sembari membayangkan, penatnya perjalanan yang jauh.

“Besok sore. Mungkin kita akan menginap di Semarang atau Solo, baru siang ke Madiun.”

Madiun adalah kota kelahiran suami saya. Ia tak pernah melepaskan setiap mudik untuk sillaturrahim ke saudara-saudara, paman, bibi, dan keponakan. Dulu masih ada si Mbah Putri, menjadi pelabuhan kami bersama setiap mudik. Beliau sudah tiada. Padahal setiap kami mudik kami pasti dapat nasehat yang bermakna untuk minimal setahun ke depan.

Mbah Putri selalu tampak di mata kami, si Mbah itu begitu arif penuh dengan keteladan, kesabaran dan ketabahan, ia bagaikan ibu kedua bagi suami saya, yang masa-masa kecilnya diasuh beliau, sampai selesai Sekolah Dasar.

Perjalanan sawah ladang yang dibayangkan Aisyah benar-benar terjadi. Kami lewati jalur alternatif. Kanan kiri hanya sawah, sungai dan kebun-kebun, bersama ribuan pemudik lainnya. Sampai Semarang, sudah gelap, kami bermalam di kota yang begitu sejuk itu.

Esok hari kami meneruskan perjalanan menuju Jawa Timur, beberapa kali tersesat, karena memasuki jalur alternatif yang salah, selepas dari Sragen. Sore hari menjelang malam kami sampai di Madiun.

“Alhamdulillaah...” Sambut mereka, ketika kami tiba. Paman kelihatan berjalan tertatih-tatih karena pengaruh sakit strokenya dulu. Bicaranya agak berat. Saya tawarkan untuk tusuk jarum, siapa tahu menjadi lebih baik.

Di rumah adik ipar saya, kebetulan seorang bidan, tampaknya cukup nyaman untuk menerapi Paman, yang kebetulan juga pengasuh Pesantren Gading itu. Saya selalu punya panggilan akrab,“Pak Gandhung”.

“Sakit nggak ditusuk?” rajuknya, ketika mulai membaringkan tubuhnya.
“Nah, sakit nggak..” kataku usai mencoba salah satu tusukan.
“Lho, sudah ditusuk to?” Tusukan itu hampir tidak berasa.

Pak Gandung membiarkan dirinya merebah, puluhan jarum tiba-tiba sudah menancap di sekujur tubuhnya.

Rupanya sanak saudara di Madiun mendengar kedatangan kami, mereka pun berduyun-duyun antri untuk di terapi. Empat orang malam itu, saya lakukan tusuk jarum hingga dini hari, jelang subuh dengan berbagai keluhan penyakit yang beragam, mulai dari paru-paru, asam urat, syaraf, tangan dan kaki yang terus menerus kaku. Sayangnya beberapa orang tidak sempat kami terapi karena esok kami harus pulang menunju Gedong Sari Nganjuk, tempat tinggal mertua.

Menjelang keberangkatan dari Madiun, mereka bersuka cita karena keluhan-keluhannya mulai membaik dan sirna. Semoga ini berkah bulan suci. Saya tidak tahu apakah puasa saya diterima atau tidak. Jarum-jarum ini yang menusuk tubuh-tubuh mereka semoga turut mendoakan agar ibadah kami diterima, dan jarum-jarum itu merasa bahagia, ketika bermanfaat bagi para hambaNya.

Kebetulan saya membawa seribu jarum. Suami selalu mengingatkan agar berdoa sebelum menerapi, memohonkan ampunan pada Allah dosa-dosa pasien, dan senantiasa berdzikir ketika memasukkan jarum-jarum itu. “Jarum-jarum itu bertasbih pada Allah Swt, jangan lupa kamu berserasi dengan spirit jarum itu melalui doa dan dzikirmu…” kata suami saya.

“Para Ulama bersedekah melalui ilmunya. Hartawan melalui hartanya. Pekerja melalui tenaganya. Orang fakir miskin bersedekah melalui doa-doanya. Pemimpin bersedekah melalui penegakan hukum dan keadilannya. Allah bersedekah melalui anugerah fadhal dan rahmatNya. Kamu bersedekahlah melalui jarum-jarum ini… Hehehe…” katanya sembari menyetir mobil melalui jalan yang menembus hutan Saradan.

Tak terasa ada air hangat mengggenang di pelupuk mataku, tiba-tiba sudah menggores pipiku. Aku jadi teringat kisah tentang Imam al-Ghazaly. Ulama sehebat itu dan sebesar itu sepanjang zaman, konon semua amal ibadahnya tidak ada yang diterima oleh Allah Swt. Kecuali hanya satu amal yang diterima, ketika beliau sedang mengarang kitab tiba-tiba ada seekor lalat yang hingga di ujung botol tintanya. Beliau tidak jadi mencelupkan penanya, melihat lalat yang haus dahaga. Lalat itu dibiarkan saja meminum tinta Al-Ghazaly sampai puas dan kenyang, hingga akhirnya lalat itu terbang dengan sendirinya. Baru Al-Ghazaly menyelupkan penanya pada tempat tinta itu.

Kerelaan dan keikhlasan Al-Ghazaly kala itu, membuat amal sedekah tinta pada lalat itu diterima oleh Allah Swt.

Saya terkadang teringat kisah itu, berulang kali muncul. Siapa tahu amal-amalku yang penuh dengan kekurangan itu tidak ada yang diterima, lalu satu dari ribuan jarum ini ada yang masuk ke tubuh pasien dengan tulus dan ikhlas, lalu diterima oleh Allah Swt, kemudian Allah mengampuni dosa-dosaku.

Mataku terlelap seketika, mimpiku entah di alam mana. Antara lelah, capek, bahagia, dan bersyukur campur adhuk.

“Mama, kita sudah sampai, Ma.” Suara Nadia mengejutkanku.
“Sampai mana ini?”
“Sampai Mbah Gedong.”

Satu jam aku terlelap seperti nyenyak sehari suntuk. Ibunda suami, mertuaku, sudah berdiri bersama cucu-cucunya dan adik-adik, di depan rumah. Kami turun dari mobil sore itu, dan kulihat suamiku sedang mencium telapak tangan ibunya, lalu mencium kedua telapak kakinya.

Si Mbah Putri Gedong, begitu anak-anakku memanggilnya, kelihatan kurus, dan mulai menua. Matanya berkaca-kaca menyambut kami. Nafasnya agak tersengal sesak. Tanganku serasa gemetar untuk segera menusukkan jarum-jarum itu ke tubuhnya. “Mau apa nggak ya ditusuk jarum?” kataku dalam hati.

Untuknya pagi tadi Bu Lek Ril dari Madiun telpon ke ibu mertuaku, katanya habis ditusuk jarum, dan beban penyakitnya pada ringan semua, nafasnya lega. Barangkali itulah yang memotivasi ibu mertua saya untuk mau diterapi dengan jarum.

Tak disangka ketika menerapi, beberapa saudara antri, dengan sejumlah penyakitnya. Akhirnya sampai subuh juga, selesai. Lima orang sekaligus malam itu, saya terapi. “Dulu orang-orang di kampung tidak banyak penyakitnya, sekarang sudah hampir seperti orang di kota. Mungkin saja orang kampung juga sudah pada stress.” kataku dalam hati.

Di kampungku, Probolinggo saya diberi kabar, banyak orang sakit yang ingin diterapi. “Wah, ini benar-benar mudik Bakti sosial… Semoga Mama bisa menikmatinya…” kata Nadia. Memang ada kabar dari kampung, para tetangga ingin diterapi, dan isteri seorang pemilik Rumah sakit swasta terbesar di Probolinggo yang sudah lama mengalami nyeri bahu yang sangat menyakitkan, ingin segera diterapi.

Saya cukup terharu ketika Bu Pur, guruku, ketika sekolah di Probolinggo dulu, yang terkena stroke, sudah mulai belajar berjalan tanpa tongkat penyangga, setelah tiga kali ku terapi.

Alhamdulillah bakti sosial di bulan suci ini menambah pengalamanku untuk menerapi pasien, karena kasus penyakit mereka semuanya aneh dan serba baru bagiku. Allah Swt memberikan ilmu baru, ketika ilmu itu diamalkan. Lalu Allah Swt, menyembuhkan mereka.

“Mbak, kenapa kalau menerapi tusuk jarum, sampai ada yang tiga jam?” Tanya adik iparku.

“Wallahu A’lam, tapi yang penting penyakitnya diambil Allah kan?”

Saya memang agak lama kalau menerapi. Bisa tiga kali lipat lamanya, dibanding terapis lainnya. Kadang ada kekakawatiran, jika kelak didengar publik, bisa-bisa saya tidak istirahat. Tapi jika kukembalikan kepada Allah Swt, Sang Penyembuh segala penyakit, rasanya beban-beban jadi ringan. “Jika belum sembuh, siapa tahu pasien itu diampuni dosa-dosanya” Rasanya itu lebih mulia dibanding sembuh, tetapi tanpa ampunanNya.

Sempat terbayang lebaran di Kampung, lalu berwisata ke Bromo, pantai Pasir Putih atau tempat kenangan masa kecil dulu. Indah sekali, apalagi bertemu sahabat-sahabat lama. Tapi itu tak tergapai, rupanya aku harus berwisata dengan jarum-jarum, menelusuri titik-titik meredian tubuh pasien yang sedang merintih dengan segala penyakitnya.

Tetanggaku, yang sudah seperti keluarga, seorang nenek yang menderita nyeri lutut. Setiap jongkok di kamar mandi, ia tak mampu lagi berdiri. Sehingga harus merangkak dari kamar mandi. Menjelang pulang aku harus menerapi nenek itu. Ditemani oleh putrinya yang juga ikut diterapi Alhamdulillah sembuh berkah pertolongan Allah Swt. Nenek itu tidak lagi merangkak, ia terkaget-kaget karena bisa berjalan.

Sehari sebelumnya, tetangga sebelahku yang lain ikut terapi karena komplikasi. Alhamdulillah mulai ada perbaikan.

Sayang waktu begitu cepat. Beberapa orang yang minta ku terapi tak sempat lagi, termasuk Ning Sus, panggilan akrab pengasuh pesantren Putri Genggong, yang menunggu kedatanganku.

Tiba-tiba sudah sepuluh hari aku di Kampung, dan ibundaku sendiri yang menjadi titik perhatianku hampir terlewatkan. Aku menghitung jarum, Ya Allah, hampir habis seribu jarumku. Sehari jelang pulang aku menusuk ibundaku sendiri. Ia kelihatan menikmati, dan aku merasakan kebahagiaan tersendiri. “Mama… Ini anakmu, menempuh ribuan kilo demi kesembuhan Mama…“, kata ku dalam hati. Dan malam semakin larut ketika jarum-jarum itu mulai bekerja, menidurkan Mamaku yang berbaring nyenyak.

Esok harus kembali ke Jakarta. Nadia harus masuk kuliah di kedokteran UI. Tak terbayangkan bagaimana macetnya. Sampai seorang Kyai di Tegal yang sedang terkena stroke minta diterapi. Seandainya jadwal di Jakarta tidak ketat, malam itu pula saya akan terapi. Kasihan, ribuan ummat ada di belakangnya. “Entar kalau sudah sampai Jakarta, Insya Allah saya akan kemari…” kataku pada salah satu muridnya, sembari ku berikan nomor Ponsel satunya, yang khusus untuk janji dengan pasien, 081210022278.“Anak saya besok harus kuliah…”

Aku bayangkan sampai di Jakarta akan anti klimaks, rasa capek dan penat akan luruh dalam istirahat.Apalagi macetnya, antara Cirebon dan Cikampek, seperti barisan semut menuju lubang raksasa. “Ada ratusan ribu mungkin jutaan deru kendaraan. Tapi saya tidak mendengar deru dzikir sepanjang jalan ini…gemuruh, tapi kok sunyi…” kata suamiku berintermezo, kelakar ala Sufi.


 

Bertemu Tuhan
Dan kami menembus kembali jalan sawah-sawah melalui jalur tengah. Bayangan kampung halaman terus memburu deru mobil kami. Wajah mamaku, adik dan kakakku, keponakan, tetangga dan para pasien, saudara-saudara dan paman serta bibik, terus membayang sepanjang jalan.

Tiba-tiba rasaku tergugah di tengah lamunan. Ya, seorang wanita suci yang selama ini menjadi pelabuhan hatiku terbayang, yang biasa selalu kupanggil Ummi, serasa  menahan desah nafasku. Wajahnya yang sejuk seperti telaga, serasa membiarkan diriku untuk mengarungi kedalaman jiwanya.

Setiap tahun, sejak kami hijrah ke Jakarta, kami sekeluarga selalu menyempatkan sillaturrahim ke beberapa Kyai di Probolinggo. Pada guru-guruku dulu, terutama ke tempat Ummi. Seorang Syarifah, yang tinggal di Klaseman Probolinggo, yang terus membangkitkan jiwa-jiwa kami yang terkadang terbelenggu keletihan dunia. Ummi selalu menjadi inspirasi sepanjang perjuangan kami, mengingatkan, memberi obor ketika rasa mulai padam, dan kadang menjewer telinga hati kami. Demi cintanya pada keluarga kami.

“Beberapa hari lalu seminggu sebelum lebaran ini, saya bertemu Tuhan….” Katanya, dengan ekspresi serius yang sangat mengejutkan kami.
“Saya memang berdoa, Ya Tuhanku, Wahai Rabbku… Aku ingin bertemu denganMu… Bagaimana caranya aku menemuiMu…?” Katanya menirukan munajatnya semalam suntuk di sepuluh hari terakhir.
“Allah berbisik padaku, agar esok aku pergi naik becak. Nanti aku akan bisa menemuiNya…”
Esok hari akhirnya aku naik becak, kisah Ummi, berputar kesana kemari. Dengan nafas terengah-engah tukang becak itu terus mengayuhkan kakinya.
“Pak, sampean puasa?”
“Ya Bu…”
“Sehari dapat berapa, sampean ini?”
“Dua puluh ribu, Bu…”
“Kenapa masih mengayuh becak? Kan ini bulan puasa…?”
“Kalau tidak narik becak, keluarga tidak bisa lebaran Bu…”
Tesss, air mataku menetes deras, Ya Allah masih ada hambamu seperti ini. Berjuang dengan deras keringat dibakar matahari. Orang ini sungguh mulia, Tuhan…
“Bagaimana kalau Bapak berhenti narik becak sampai lebaran…”
“Ndak bisa Bu…Saya harus narik…”
“Mau ndak Bapak berhenti narik becak, nanti saya ganti hasil nariknya selama seminggu?”
“Wah sangat mau, maturnuwun sekali.” 
Saya sodorkan uang tujuh ratus ribu rupiah. Dan tukang becak itu bersujud, bersyukur sembari menangis, atas kebahagiaannya.
“Ya Allah, terimakasih Tuhan… Engkau mau menemuiku. Aku sudah bertemu Engkau Tuhan… Aku menemuiMu dibalik desah nafas tukang becak itu… Terimakasih Tuhan….”

Ummi terdiam seketika, pandangannnya jauh menembus jantungku. Bibirnya tersenyum, seperti senyum ibundaku.

Aku jadi teringat pasien-pasienku. Rintihan dan keluhnya, telah memanggilku untuk menghampirinya. Ya, aku menemui mereka, karena ada Tuhan di sana, ada Allah dibalik deritanya. “Ya Allah, aku menemuiMu melalui jarum-jarum ini… Terimalah aku Tuhan…”
Tuhan  pun tersenyum padaku. Aku membalas senyuman itu dengan airmata bahagia. Rasanya aku masih ingin terus menemuiNya dibalik jarum-jarum ini.

Jakarta, Syawal 1435 H.

Read 1986 times Last modified on Monday, 02 February 2015 16:56

Leave a comment