Anda Klaim Sebagai Ucapanmu? Jangan!

Syeikh Abdul Qodir Al-Jilany - Jum’at Pagi, 9 Rajab 546 H. di Madrasahnya

 

Anda jangan meminjam kalimat-kalimat orang saleh, dan anda ucapkan lalu anda klaim sebagai ucapanmu. Karena sang peminjam itu tidak bisa menyembunyikan genggamannya dari sang pemilik.

Tanamlah sutra dengan tanganmu, rawatlah, dengan kesungguhanmu, lalu pintallah, jahitlah, baru engkau pakai. Jangan gembira dengan milik orang lain, baju orang lain. Ucapan orang lain anda klaim sebagai wacanamu, anda akan dimarahi oleh orang-orang saleh. Jika tak ada wacana, jangan bicara. Semua bergantung pada amal perbuatanmu. Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jaelany

Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Masuklah kalian ke syurga melalui apa yang kalian amalkan.” (An-Nahl: 32)

Bersungguh-sungguhlah dalam mengenal Allah Azza wa-Jalla, karena ma’rifat itu ghaib menyertaiNya, anda harus tegak dengan Kuasa dan IlmuNya. Adalah kefanaan total dalam Af’al dan KetentuanNya.

Ucapanmu menunjukkan apa yang ada di hatimu. Ucapan adalah penerjemah hati, jika hati bercampur, maka kadang ucapan benar kadang salah (batil). Jangan memastikan berubahnya sesuatu dari apa adanya, dan yang lain berubah. Jika baurnya hati hilang, ucapan jadi benar. Jika syirik sirna dari hati, ucapan jadi benar.  Jika seseorang musyrik, ucapan bisa berubah, dan berdusta. Orang bicara ada yang muncul dari hatinya, ada yang muncul rahasia batinnya, ada yang datang dari hawa nafsunya, ada yang datang dari syetannya, atau datang dari kebiasannya.

Ya Allah, jadikan kami sebagai orang beriman, dan jangan jadikan kami sebagai orang-orang yang munafik.

Bila ada peristiwa rasa suka dan benci seseorang, janganlah anda ikut menyukai dan membenci karena selera nafsumu dan watakmu. Tetapi timbanglah keduanya pada Kitab dan Sunnah Nabi Saw, jika kedua timbangan itu berserasi dengan kesukaanmu, silakan. Jika tidak, tinggalkan kesukaanmu itu. Namun jika Kitab dan Sunnah berserasi dengan apa yang engkau benci, maka kembalilah pada keduanya. Jika tidak berserasi pada rasa bencimu, anda harus berpegang pada Kitab dan Sunnah. Namun jika hal itu tampak tidak berguna bagimu, kembalilah pada hati para Shiddiqun (para Auliya’), tanyakan masalah itu pada mereka.

Kembalilah pada para Auliya’ itu, karena hati mereka itu benar. Jika hati benar, itulah yang paling dekat dengan Allah Azza wa-Jalla.

Qalbu jika mengamalkan menurut Al-Qur’an dan Sunnah ia menjadi dekat dengan kebenaran, jika ia dekat ia mengetahui dan melihat, apa yang seharusnya dan apa yang harus dihindari, apa yang harus bagi Allah Azza wa-Jalla, dan apa yang layak bagi selain Allah Azza wa-Jalla, mana yang haq dan mana yang batil.

Kalau saja orang beriman mampu melihat dengan cahayaNya, bagaimana tidak melihat, orang-orang yang shiddiqun dan muqorrobun. Orang beriman diberi Nur untuk memandang, yang diisyaratkan oleh Nabi Saw.: “Takutlah dengan firasat orang beriman, karena ia melihat degan Cahaya Allah Azza wa-Jalla.”  (Hr. Tirmidzi)

Orang arif yang muqorrib diberi cahaya penglihatan, ia memandangan bersama pandanganNya, akan kedekatannya pada TuhanNya Azza wa-Jalla, ia memandang pula kedekatan Tuhannya Azza wa-Jalla pada hatinya. Ia bahkan melihat ruh para malaikat, para Nabi dan hati para Shiddiqin dan ruh-ruh mereka. Mereka melihat posisi dan maqomat mereka, dan semua itu terlihat dari pusat titik hitam qalbunya, dan kejernihan batinnya. Karena ia selamanya dalam kegembiraan pada Tuhannya Azza wa-Jalla. Ia adalah perantara yang meraih cahaya dariNya, lalu ia sebar pada makhlukNya. Ada diantara mereka sangat cendekia ucapan dan hatinya, ada pula yang cendekia hatinya, baru terungkap di lisannya.

Sedangkan orang munafiq sagat cendekia di ucapan, dusta di hatinya, dan semua terakumulasi dalam ucapan belaka. Inilah yang disabdakan Nabi Saw:  “Yang paling aku khawatirkan pada ummatku adalah orang munafik yang pandai bicara.”

Janganlah anda terpedaya oleh sesuatu, karena Allah memberlakukan apa yang dikehendakiNya. Dikisahkan pada sebagaian orang-orang saleh ketika ia mengunjungi sahabat dalam Ilahi Azza wa-Jalla, Ia katakan, “Saudaraku kemarilah,  sampai kita menangis atas pengetahuan Allah Azza wa-Jalla pada kita.” Betapa elok ucapan orang saleh ini, karena ia ma’rifat kepada Allah Azza wa-Jalla. Dan ia telah mendengar sabda Nabi Saw:

“Diatara kalian ada yang bermal dengan amaliyah ahli syurga, hingga tidak tersisa antara dirinya dan syurga kecuali satu hasta atau satu jengkal, lalu ia dapatkan kebinasaan, hingga ia jadi ahli neraka. Diantara kalian ada yang melakukan amaliyah ahli neraka, hingga tak tersisa jarak antara neraka dan dirinya kecuali satu hasta atau satu jengkal, lalu ia dapatkan kebahagiaan, kemudian ia menjadi ahli syurga.” (Hr. Bukhari).

Salah satu orang saleh ditanya, “Apakah anda melihat Tuhanmu?” Ia menjawab, “Kalau aku tidak melihatNya, pasti aku putus dari tempatku.”

Jika seseorang bertanya, “Bagaimana anda melihat Tuhanmu?” Kujawab, “Bila makhluk keluar dari hati hamba, maka tak ada yang tersisa kecuali Allah Azza wa-Jalla, ia melihatNya dan  mendekatiNya, sebagaimana kehendakNya melihat hambanNya secara batin, seperti aku melihat makhlukNya secara lahir, sebagaimana Dia memperlhatkan diriNya kepada Nabi kita Muhammad Saw, pada malam Mi’raj. Hal yang sama juga pada si hamba ini melihat dirinya, mendekatiNya dan bicara padaNya ketika tidur, kadang hatinya bicara padaNya ketika terjaga. Ia pejamkan kedua bola matanya, lalu ia melihatNya dengan kedua mata hatinya, seperi ketika melihat degan kedua matanya pada alam lahir. Bahkan ia diberi pengertian lain, maka ia melihaNya bersamaNya, melihat kedekatanNya, Sifat-sifatNya, melihat kemulianNya, KeutamaanNya dan KebajikanNya, dan Kasih sayangNya, melihat kebagusanNya dan perlindunganNya.

Siapa yang ubudyah dan ma’rifahnya maujud hakiki ia tidak berbicara, “Tampakkan DiriMu padaku…” juga tidak bicara, “Jangan Engkau tampakan DiriMu padaku.. Jangan Engkau beri diriku…” Juga tidak bicara, “Janganlah Enkau anugerahi aku…”. Karena ia telah sirna (fana’) dan tenggelam .

Karena itu sebagaian yang sampai pada tahap ini berkata, “Huss, bukan padaku bukan dariku…”

Betapa indah ucapan, “Aku adalah hambaNya… dan bagi hambaNya tidak ada pilihan dan tidak ada kehendak di sisi Tuannya.”

Ada seseorang membeli budak, dan budak itu ahli ibadah dan shaleh.

Si tuan berkata, “Hai budak, kamu mau makan apa?”
“Terserah tuan, mau memberi makan apa…”
“Kamu mau pakaian yang mana?” Tanya tuannya.
“Terserah pakaian mana saja tuan….”
“Kamu mau duduk di tempat sebelah mana dari ruang rumahku?”
“Tempat yang bukan tempat duduk tuan….”
“Kamu mau pekerjaan apa?”
“Terserah perintah tuan….”
Tuan si budak itu lalu menangis, sembari berkata, “Betapa eloknya, seandainya aku bias bersama dengan Tuhanku Azza wa-Jalla, seperti dirimu bersamaku….”

Lalu si budak itu berkata, “Tuanku..Apakah seorang budak ketika bersama tuannya punya pilhan dan hasrat?”

“Mulai saat in kamu merdeka demi Wajah Allah, aku ingin engkau duduk bersamaku hingga aku berbakti dengan harta dan jiwaku padamu.”

Setiap orang yang mengenl Allah Azza wa-Jalla tidak menyisakan pilihan dan kehendak, dan ia berkata, “Huss, bukan padaku bukan dariku …”. Ia tidak mencampur aduk antara bagian dari Allah dengan persoalan dirinya dan orang lain.

Tidak mengapa, diantara salah satu hamba Allah Azza wa-Jalla, ada yang zuhud (menghindar) dari makhluk, dan asyik dengan  menyendiri (khalwat), asyik membaca al-Qur’an dan Hadits Rasul Saw, hingga anda bias penuh kasih saying pada makhluk, sangat dekat padaNya,  mereka melihat dirinya dan yang lain, lalu meluruskan hati mereka. Maka tidak perlu ditakutkan sedikitpun apa yang ada pada dirimu, bicara apa yang menjadi kegundahannmu, dan mereka mengatakan apa yang ada di dalam rumahmu.

Celaka! Jangan sampai kalian bergaul degan kaum sufi dengan kebodohanmu, setelah anda keluar dari Qur’an dan Sunnah anda bicara lantang pada manusia. Karena bicara pada khalayak butuh aturan dzahir dan aturan batin, lalu tidak butuh dari semuanya, lantas ada dua hal yang sangat mendesak pada diri anda: Pertama; sudah tidak ada lagi di tempat anda  selain diri anda, maka anda bicara pada public karena hal yang mendesak. Kedua; anda memang diperintah bicara melalui hatimu. Maka pada kondisi ini, anda naik ke tahap tersebut, untuk mengembalikan manusia (makhluk) pada Sang Khaliq.

Celaka! Anda mengaku sufi, tetapi and mengotori kejernihan Sufi. Siapa yag batin dan lahirnya bersih dengan mengikuti Kitabullah Azza wa-Jalla dan Sunnah RasulNya, maka ketia ia ingin menjernihkan dirinya, ia keluar dari lautan wujudnya dan meninggalkan kehendak dan pilihannya serta hasratnya, disebabkan kejernihan hatinya.

Dasar kebaikan adalah kmengikuti jejak Nabi Saw dalam ucapan dan tindakannya. Apabila hati seorang hamba jernih ia akan bermimpi meihat Nabi Saw dalam tidurnya, Sang Nabi memerintahnya dan mencegahnya dari sesuatu, maka ia total menjadi qabu, dan melepaskan eksistensinya. Ia menjadi batin total tanpa lahir, bersih tanpa kotoran. Ia kupas kulitnya di suatu tempat dan tinggal isi tanpa kulit. Ia bersama Nabi Saw dari sisi batin, dan Sang Nabi Saw mendidik hatinya di hadapannya, hingga tangan Nabi Saw, ada di tangannya, sehingga Nabi Saw yang berbicara, yang melindunginya, dengan mengeluarkan totalitas dirinya dari hatinya.

Mencabut gunung yang kokoh butuh perjuangan dan kesabaran, penuh dengan upaya dan ujian. Janganlah anda mencari sesuatu yang bukan milikmu. Cukup baiklah bagimu jika kamu mengamalkan menurut ketegasan hitam pada putih, dan kalian menjadi muslim. Cukup baiklah, jika anda kelak di hari qiyamat  berada dalam kumpulan ummat Islam, jangan sampai kalian berada dlam gerombolan orang kafir. Cukup bagus jika anda berada di tanah syurga, atau di pintunya, jangan sampai anda berada di kaangan orang yang berada dio lorong neraka. Hendaknya kalian tawadhu’, jangan takabur. Tawadhu’ membuatmu jadi luhur, dan takabur membuatmu jadi rendah. Nabi Saw, bersabda: “Siapa yang bertawadhu’ maka Allah mengangat derajatnya.” (Takhrj Ar-Rabi bin Habib dalam al-Musnad)

Bila hati tetap langgeng berdzikir kepada Allah Azza wa-Jalla maka Ilmu, Ma’rifah dan Tauhid, Tawakkal  dan berpaling dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla bakal datang secara total Langgengnya dzikir merupakan factor langgengnya kebajikan di dunia dan akhirat. Bila hati benar, ia akan terus berdzikir, ia akan terus tercatat sebagai orang yang berdzikir, hingga ketika matanya tidur, hatinya tetap berdzikir pada Tuhannya Azza wa-Jalla, mewarisi dari Sang Nabi Saw.

Salah seorang Shalihin berupaya tidur di malam hari untuk mempersapkan diri untuk Allah Azza wa-Jalla tanpa satu pun hajat padaNya. Lalu ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab, : “Tuhanku Azza wa-Jalla melihat hatiku.”

Benar ucapannya. Karena tidur yang benar adalah wayu dari Allah Azza wa-Jalla,  yang menguatkan padangan matanya dalam tidurnya.***

Read 1905 times

Leave a comment