×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Dari Kaki Langit Khumaitsaro

OLEH: Khm Luqman Hakim

Di sepertiga malam menjelang subuh, cuaca dingin menembus tubuh sampai 12 derajat, saya berdua sama Andy Herwanto, salah seorang jama’ah dari Jakarta Timur, mulai merasakan hawa ruhani yang menembus qalbu. 

Negeri penuh kisah yang sangat dramatis dan romantis. Negeri yang pernah di pijaki oleh kaki-kaki mulia para Nabi dan Rasul, Mesir. Kami menghela nafas dalam-dalam, dingin namun menyejukkan. Syeikh Sami Jamal, sahabat saya sudah menunggu di Bandara Cairo sejak tengah malam.

Kami berpelukan, sepertinya bulan-bulan penuh kata dari Syeikh Sami, “Asytaku ilaik…asytaaku ilaik…” yang hamper tiap malam saya dengar lewat telpon, luruh habis di situ, berganti dengan , “Marhaban…Marhabaaan…Yaa Marhaban…Ya Habibii..”

“Kita langsung menjemput Muhammad…” kata Syeikh Sami. Ia maksudkan adalah si Aal, yang sedang di Asrama Bu’uts Universitas Al-Azhar Kairo. Anak saya, yang sering kali dipanggil Muhammad oleh Syeikh Sami, menunggu di kampusnya. Aal, sudah dianggap anak sendiri oleh Syeikh Sami. Jika libur ia datang ke rumahnya. 

Rumah di kampung, di pelosok Manufia, bersebelah dengan Kampung Syuhada’, kami berziarah dulu sebelum memasuki rumah Syeikh Sami, Masjid Syuhada’. Di belakang masjid itu ada makam kemenakan Rasulullah Saw, Syibl bin Ahmad bin Abbas yang syahid bersama 40 syuhada’ ketika perang melawan Romawi. Lalu kampung itu hingga kini terkenal sebagai kampung militer, 80 persen pemudanya menjadi militer terbaik di Mesir, bahkan disebut dengan “kampung presiden”, karena tiga presiden Mesir (Anwar Sadat, Husni Mubarok, dan Asisi), lahir dari sana.

Benar pula, kami memasuki lorong-lorong pedesaan yang begitu subur dengan pertanian. Rumah Syeikh Sami tergolong bagus disbanding rumah-rumah di perkampungan itu. Maklum dia adalah Ulama yang jadi panutan di wilayah Manufia, 150 km dari Kairo menuju Tontho.

Mentari menjelang Dhuha, ketika dingin masih mencekam. Usai menembus persawahan kampung itu, sampai juga di rumah Syeikh Sami. “Ini rumahmu juga. Aku baru selesai bangun hanya untuk kedatanganmu… “ ucap Syeikh Sami serius. Keluarga Syeikh Sami semua berkumpul dengan hangat. Di rumah itu terpampang foto keluarga, dan foto Syeikh Sami memakai pakaian komando militer.

“Saya seorang komandan militer,” katanya. Kelihatan ia sedang memberi hormat kepada Presiden Mubarok di foto itu. Tapi ia memohon pensiun, agar lebih istiqomah dalam bidang dakwah dan pendidikan. Syeikh Sami memimpin sebuah pesantren di Manufia, salah satu sekolah cabang Al-Azhar.

Di Mesir memang banyak mantan jenderal jadi Ulama, dan banyak tentara yang hafal Al-Qur’an. Termasuk Syeikh Sami, sehabis tamat dari Universitas Al-Azhar, ia memasuki ketentaraan setelah mengikuti wajib militer. Maka tidak heran jika ia juga seorang Ulama yang hafidz, isteri dan anaknya juga hafal Al-Qur’an. 

Maka, ketika kami menaiki tangga rumahnya, terlihat pematang sawah yang luas, berbatas dengan bangunan jauh seperti kota. Saya memandangnya cakrawala hingga kaki langit dari jendela rumahnya. Sejenak termenung ada kerinduan yang belum terbalas.

“Di ujung sana itu Tontho….Dekat sekali dari rumah ini…”, suara Syeikh Sami mengejutkan.

Serasa ada kehangatan yang menyelubungi tubuh saya. Ya, Tonto, pastilah itu kota yang belum saya ziarahi tujuh tahun silam, ketika saya berziarah ke negeri itu. Kota yang juga sering saya sebut dalam hati. Karena di kaki langit kota itu ada Kekasih Allah Azza wa-Jalla yang tiada tara, Syaikh Ahmad Badawy. Nama besar yang menggetarkan langit.

“Sore nanti kita ziarah ke sana…” ucapan Syeikh Sami semakin merebakkan dada saya. Saya tersenyum, di samping saya ada Andy dan Aal.

“Tapi saya juga ingin ketemu dengan Syeikh Mahmud…..” . 

Seketika Syeikh Sami menelpon gurunya, Syeikh Mahmud, seorang guru besar (Mursyid) Thariqah Khatibiyah Syadziliyah di Tonto, yang tidak jauh dari Makam Syeikh Badawy. 

Syeikh Mahmud seringkali kirim salam ke saya, ketika Syeikh Sami masih tinggal di Indonesia selama tiga tahun menjadi utusan Universitas Al-Azhar. Kami memang belum pernah bertemu fisik, namun kesinambungan ruh kami mendahului.

“Maaf yang sebesar-besarnya…Syeikh Mahmud malam ini padat sekali acaranya, jadi belum bias bertemu anda,” kata Syeikh Sami.

“Ya sudah, kalau begitu kita ke makam ayahandanya, Syeikh Khalik al-Khathib, dan setelah itu malam ini kita bertemu dengan mahasiswa Al-Azhar di Tonto…” kata saya.

Syeikh Khalik al-Khathib, adalah seorang Sufi besar di Tonto, yang terkenal sebagai Sang Penyair Nabi. Makamnya diziarahi banyak orang selain Syeikh Badawy. Ia juga guru besarnya mendiang Presiden Anwar Sadat. Syeikh Khalil ini mengarang banyak kitab, dan mayoritas kitabnya berisi pujian kepada Nabi Muhammad Saw, kerluarga dan shahabatnya dalam untaian-untaian syair berjilid-jilid. Sehingga diberi gelar Sya’irun Naby. 

Ketika senja mulai temaram, kami sudah memasuki kota Tonto, yang begitu tampak eksotik dan religious. Kakak kelasnya Aal, Mukaffi yang kuliah di Tonto sudah menjemput di depan masjid Syeikh Badawi.

Usai sholat maghrib, kami berziarah di makam wali agung itu. Begitu banyak penziarah lalu lalang, keluar masuk. Toiba-tiba Imam Masjidnya menghampiri saya, usai saya berziarah.

“Apakah anda mau memasuki ruang Syeikh Badawy?” 

Saya hanya menganggukkan kepala. Rupanya dimaksud adalah ruang beliau dan sekarang menjadi semacam museum Badawy yang berisi peninggalan (atsaar) beliau, seperti jubah, mantel, tasbih yang panjangnya ribuan, bahkan ada tongkat, sisir, dan serban yang selalu menutupi wajah beliau. Selama itu memang wajah beliau selalu tertutup, karena jika terbuka wajahnya memancarkan cahaya dan membuat orang bias pingsan karena tak mampu melihat pancarannya. Sehingga beliau menutup wajahnya hingga akhir hayat.  Dan di ruang itu, tersimpan empat rambut Rasulullah Saw, dalam sebuah mahkota. Saya baru tahu, kalau yang boleh memasuki ruangan itu adalah Presiden, Perdana Menteri dan Rektor Al-Azhar.

Kami, usai ziarah lalu menuju makam Syeikh Khalil al-Khathib. Malam itu juga tiba-tiba Syeikh Sami ditelplon gurunya, Syeikh Mahmud, katanya beliau sedang menunggu kami di rumahnya. Kamis empat berdialog panjang tentang dunia Tasawuf, mulai dari soal Ibnu Araby hinggakarya-karya ayahandanya, yang sangat luar biasa.Karena setiap selesai menulis syair tentang Nabi Saw, ayahandanya biasanya ditemui oleh Nabi Saw, dan membacakan syair itu di hadapan beliau Saw.

Masjid Universitas Al-Azhar Mesir

Tonto memang kota bercahaya oleh para Auliya’. Esok hari akmi menuju Iskandariyah, tempat para Auliya besar di makamkan, sekaligus tempat pesantren Thariqatnya Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily dan Khalifahnya Syeikh Abul Abbas al-Mursy. Banyak sekali  makam di Iskandariyah, seperti makam Syeikh Al-Bushiry, Shohibul Burdah, Luqman Hakim, Nabi Daniel, dan empat puluh Auliya yang menjadi murid Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily juga di makamkan di Iskandariyah.

 Kota itu sangat indah dengan pantai Aleksandrianya yang menembus ke Laut Tengah. Sebagaimana para Wali Songo di Nusantara, awal dakwah awalnya selalu wilayah pantai. Karena itu sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, banyak sekali pesantren-pesantren generasi Walisongo yang berderet, yang menjadi benteng ummat Islam sepanjang zaman.

Bangunan-bangunan peradaban Islam menjadi kokoh karena fondasinya. Fondasi itu adalah akidah dan ruhiyahnya, tauhid dan tasawufnya. Sepanjang fondasi itu menjadi kekuatan bangunannya Islam akan selalu memancarkan cahayanya. Berbeda dengan ummat Islam yang membangun karakteristiknya ummatnya tanpa kedua fondasi itu, biasanya tumbuh dengan kering dan formalistik, hampa dan gersang, tak lebih dari aktivitas ekonomi dan politik yang buar buar belaka, dan sesungguhnya telah roboh sebelum runtuh.

Para Da’i yang Wali senantiasa mengajak ummat Islam penuh dengan hikmah. Dan hikmah itu muncul dari cahaya Ilahiyah dari dalam, dari ajaran-ajaran para Sufi agung yang berakar dari Nabi besar Saw. Karena itu mereka hadir sebagai rahmat, bukan hadirnya justru menciptakan bencana dan kekerasan radikal.

 Di Iskandariyah ini adalah type ideal pendidikan generasi yang bercahaya itu. Tarbiyah Ruhiyyah melaluii pesantren-pesantren Sufi, dari generasi ke generasi. Tiba-tiba mereka sudah menyebar ke seantero jagad.

Esok hari, kami harus menembus padang gurun pasir Khumaitsaro. Enam belas jam melalui jalan darat (kereta) lewat Aswan, Tengah malam kami baru sampai di Khumaitsaro, selama enam jam kami menembus gurun tanpa ada lampu, kecuali lampu mobil yang kami tumpangi. Cakrawala hanya penuh bintang pengetahuan, rembulan memantulkan mahabbahnya, dari matahari ma’rifatNya.  Pukul 11 malam waktu setempat baru ada cahaya berkelipan. “Qaryah Syadziliyah” sebuah desa baru dua kilometer sebelum makam Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily. Desa itu terdiri beberapa rumah saja yang dibangun oleh jama’ah Syadziliyah dari penjuru dunia.

Begitu sampai di depan gerbang makam beliau, ternyata gelap gulita. Tiba-tiba lampu menyala semua seperti kembang api di musim perayaan kita. Alhamdulillah. Seorang penjaga dan Imam Masjid keluar menyambut kita.”Sudah lima jam yang lalu lampu mati, baru sekarang hidup… Monggoo….” Kata penjaga makam itu menyilakan kami dengan bahasa Jawa halus. Wallahu A’lam.

Sebuah malam yang sunyi, hanya butir-butir pasir di gurun yang berdzikir, tiada hingga. Alhamdulillah masjidnya sudah jadi megah, dengan arsitek mirip masjid Nabawy. Ketika tujuh tahun silam, masih pancang-pancang bangunan. Selebihnya tak ada lagi kata-kata….

Di Kairo mahasiswa Al- Azhar menunggu kami. Sebuah apartemen yang disewa untuk jadi Sekretariat NU, kami berkumpul untuk sekadar refreshing motivasi, agar semangat kawan-kawan bangkit kembali. “Kalian besok pulang ke Indonesia harus jadi Kyai dan Ulama semua….Ulama harus dikader, kalau wali yang mengkader Allah Swt sendiri!”. Alfaatihah….

Mereka terhenyak. Saya mengerti mereka terkejut. Karena selama ini kalau bukan putra Kyai tidak mungkin jadi Kyai atau Ulama. Itu memang antropologi pesantren. Tetapi perubahan zaman akan membuktikan, bahwa kelak banyak para Ulama bermunculan buykan dari putra Kyai. “Saya katakan ini berdasarkan dawuh Kyai Sepuh…!”

Kata-kata ini rupanya menghujam di benak kawan-kawan di Kairo. Mereka seperti mendapatkan harapan baru, matahari baru, dan tentu semangat baru. Hampir tiga jam kami kongkow dengan mereka. Saya hanya membayangkan, kelak mereka menjadi tokoh-tokoh agama dan Ulama di negeri ini. Mereka harus merajut sillaturrahim, kultur, dan psikhologis yang hakiki antar Ulama sedunia, bukan rajutan formalitas dan organisasi. 

Hampir delapan puluh persen kitab-kitab di pondok pesantren adalah karya Ulama Mesir. Kiblat intelektual ini mestinya mengalir secara cultural dan sillaturrahim spiritual. Dari Segitiga bercahaya,  Marokko, Makkah dan Mesir, tradisi keilmuan dan spiritual kita terbangun.  

Di Mesir modern, Syeikh Zakky Ibrahim  salah satu Mursyid Syadziliyah, mempelopori persatuan Thariqat Sufi, di bawah bendera ‘Asyirah Muhammadiyyah, dan mulai muncul Akademi Tasawuf yang bekerjasama dengan Universitas Al-Azhar. Semoga di negeri ini segera muncul Universitas Tasawuf. Beberapa bulan silam salah satu pengurus Akademi itu datang ke redaksi Cahaya Sufi bersama Syeikh Ahmad Dabbagh dari London. Kemudian dua bulan lalu, Syekh Abdurrabbih dari Dubai, seorang Musryid Syadziliyah Dubay datang pula ke kantor redaksi kita.

Pagi harinya kami berkeliling dari Makam Sayyidah Zainab, adinda Sayyidina Husein, lalu Sayyidah Nafisah, cucunda Nabi pula,  Imam Syafi’I, Syeikh Zakaria al-Anshary, Imam Suyuthy, Syeikh Ahmad Rifa’y, lalu Makam Syeikh Ibnu Athaillah as-Sakandary, berakhir makam Sulthonul Ulama Syeikh Izzuddin bin Abdissalaam, salah satu murid Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily. Dan ketika senja mulai tiba, kami siap menuju Nusantara, karena matahari dari Timur segera terbit dari negeri ini. 

 

Read 3256 times Last modified on Wednesday, 11 March 2015 13:20

1 Comment

  • Comment Link Tamsil Islami Saturday, 23 May 2015 19:59 posted by Tamsil Islami

    sungguh sebuah pengalaman rohani yang patutdi teladani.

Leave a comment