Filosofi Dzikir Di Negeri Kanguru

KHM Luqman Hakim

Di “Surau Kita”, sudut kota Melbourne. Empat puluh orang sedang meggemakan Surat Yasin dan Tahlil. Mereka sedang mempertahankan amaliyah terbaik yang dicintai Allah, Dzikrullah, di tengah kegersangan spiritual di negeri Kanguru itu.

Dahaga Sufistik, yang merongrong kerongkongan jiwa, membuat mereka jadi titik bintang di tengah kegelapan negeri yang begitu luas. Gulita Melbourn, hanya mendengungkan rintihan keputusasaan manusia modern yang sedang mabuk dengan wine, wanita, dan hingar bingar musik klub malam.

Malam itu saya sama Oki Arisulistijanto, mencoba menembus batas, merenungi kegelisahan kesunyian jiwa kota terbesar di Australia. Lalu disudut kota itu, di surau kita, buku Filosofi Dzikir yang mereka tunggu mulai dikupas. Anak-anak dan keluarga Indonesia di sana seperti sedang menyelami lapisan-lapisan dzikir. Setiap tegukan hikmah agung dibalik filosofi dzikir yang mereka teguk, justru mereka semakin dahaga. Tetapi, esok saya harus khutbah Jum’at di masjid dengan Monash. Dan malam harinya ada pengajian keluarga Indonesia Melbourn. “Di tengah kegelapan lampu lilin kecil akan sangat terang….” Kata saya pada mereka. Dan mereka pun mulai meggemakan rutinan Laqodjaakum, diimami oleh Agus Salim, kandidat doktor di sana.

Lalu dingin semakin mencekam, 8 derajat membungkus negeri itu. Dini hari saya harus terbang ke Canbera, ibu kota Australia, kawan-kawan menunggu seminar di Australian National University (ANU), sekadar memahamkan Tasawuf yang selama ini seringkali dinilai sebagai alam yang mengawang di antah brantah. Seorang Professor James Fox, si Embahnya Indonesianis, yang pernah membimbing Prof. Zamakhsyari Dzofier melalui Tradisi Pesantrennya, bersemangat untuk ikut berdiskusi bersama ahli budaya Jawa,  dan sejumlah mahasiswa pascasarjana di ANU.

Sempat pula saat jedah seminar, saya melukis Lathaif Thariqat Sufi dalam Kalimah Thoyyibah, yang kemudian saya hadiahkan buat ANU. Rupanya lukisan itu membangkitkan diskusi tentang tema yang kami bahas, “Dunia Sufi di Kota Metropolitan.”

Sehari sebelumnya di masjid ANU, kita ngaji Tasawuf dulu dengan dengan sejumlah kandidat doktor dari negeri kita. Dilanjut dengan pengajian keluarga mahasiswa di University of Canbera, sekadar pecerahan tentang Filosofi Dzikir dan makna Syukur.

Hampir setiap malam kita berdiskusi dengan kawan-kawan di Canbera dari soal tasawuf, politik hingga masa depan Ulama di Indonesia. Rasanya ada yang sangat mengganjal dalam dunia akademik, entah siapa yang salah, orang Indonesia belajar tentang negerinya  malah di mancanegara, orang mancanegera belajar Islam di negeri kita, orang Islam merasa asing di negeri sendiri.

Tiga hari di Melbourne, ketika senja tiba, saya harus menuju Adelaide, untuk sebuh seminar Pluralisme Agama di University of Adelaide. Di tempat Tufail, Ketua NU Cabang Australia, saya bermalam, karena disana sudah berkumpul sejumlah mahasiswa Adelaide untuk diskusi ngalor ngidul, mulai soal NU sampai UN (United Nation), dari soal negeri yang semrawut  sampai Tasawuf.

 Usai seminar, kita wawancara dengan Radio SBS Adelaide, untuk talkshow tentang Sufism and Globalisation, dipandu Tufail, yang sering jadi penyiar disana. Seperti juga di Melbourn, dan Canbera, Adelaide tampak sedikit beda, karena ada seorang guru ngaji Ihya Ulumudddin dari Semarang di sana. Tentu selanjutnya mereka butuh wiridan rutin, yang menyatukan hati mereka degan Tuhannya.

“Seharusnya anda sebulan di sini…” kata aktivis mahasiswa di sana.

“Di sini juga buminya Allah, anda jangan merasa asing disini….” kataku padanya. “Besok saya ada janji wawancara Sufism dan Modernisasi di Radio SBS Melbourne…”.

Filosofi Dzikir memang mulai masuk dari kampus ke kampus di negeri kita. Para Mahasiswa mulai bergairah untuk membedahnya. Semoga ini menjadi bagian dari dahsyatnya sufi memasuki lorong-lorong kampus.

Read 2534 times Last modified on Wednesday, 08 July 2015 16:36

1 Comment

  • Comment Link budi sulistyo Thursday, 12 November 2015 12:21 posted by budi sulistyo

    Semoga selalu dengan petunjukNYA

Leave a comment