Epistemologi Sufistik

KHM Luqman Hakim

(Pendekatan Dekonstruktif)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah dalam Islam secara total (utuh)” (Q.S. Al-Baqarah 208).
(Masuklah ke dalam pengetahuan Islam melalui piranti epistemology Islamy, Imany dan Ihsany, dan itulah totalitas)

 Refleksi I
AGAMA (Islam) yang telah menyempurnakan agama Samawi terdahulu, berarti juga menjawab kegelisahan seluruh persoalan manusia,  ketidaktahuan atas kebenaran yang hakiki, baik bagi yang beragama maupun yang tidak beragama. 

Secara psikhologis, kegelisahan  dan ketakutan senantiasa bertumpu pada :
Keraguan secara intelektual dan spiritual atas pandangan hidup yang diyakini.
Kebodohan yang dijadikan pijakan tradisi secara membabi buta.
Warisan sejarah peradaban dan budaya yang buruk, yang diyakini sebagai kebenaran.
Ketakutan atas ancaman-ancaman tradisonal, sekaligus menutup secara ketat terhadap harapan masa depan yang terbuka.
Relativitas metodologi yang dijadikan doktrin-doktrin final dalam proses meraih kebenaran sejati. Sehingga muncul  ketidakjelasan pembagian kerja fungsional dalam diri manusia secara eksistensial, substansial maupun esensial.

Refleksi 2
KETIDAKMAMPUAN memahami siapa diri sendiri (darimana, kemana, dengan siapa, untuk apa, dalam apa, dengan cara bagaimana, dan akhirnya harus bagaimana?); Apa alam semesta fisik maupun metafisik ini, dan siapakah Tuhan itu? Apa pula hubungan organis masing-masing?

Islam memberikan jawaban melalui  ajaran agama yang merespon ketakutan dan kegelisahan itu secara paripurna melalui pembagian wilayah Tiga Besar, yang masing-masing berapresiasi dalam bidang-bidang yang sangat fundamental, dan instrumental bagi kehidupan manusia. Ketiga-tiganya, memiliki tumpuan subyek Ilmu Pengetahuan yang senantiasa hidup meliputi eksistensi, dan esensinya (ilmu, amal, ahwal).

Ketiganya adalah:
Islam
Iman
Ihsan.

Islam dalam perspektif Epistemologis bersenayawa dengan Ilmul Yaqin; Iman bersenyawa dengan ‘Ainul Yaqin; dan Ihsan Bersanyawa dengan Haqqul Yaqin.

Refleksi 3
DARI sumber  air yang sama, sebuah pohon tumbuh dari biji. Namun dari biji itu ada yang tumbuh menjadi , akar tonggak pohon, batang pohon,  cabang pohon, ranting pohon, daun, bunga dan buah. Masing-masing memiliki sari esensi, fungsi dan manfaat, yang satu sama lain secara organis tak terpisahkan. (Ada pohon Ilmu Pengetahuan, ada pohon  Syari’at, ada pohon Ma’rifah, ada pohon Tauhid, ada pohon Hakikat Kehidupan) 

Refleksi 4
ILMU pengetahuan senantiasa berhubungan langsung dengan nama, sifat dan zat. Hubungan yang terklasifikasi di kemudian dengan kategori-kategori struktur nama, esensi nama, dan organism nama. Begitu juga dalam struktur sifat, jenis sifat, dan esensi sifat. Bagaimana pula manifestasi antara nama dan sifat itu, yang disebut sebagai dzat. Inilah yang terpantul dalam struktur pengetahuan yang menyelubungi instriumen-instrumen dalam diri manusia, yang secara paripurna dihadirkan dalam presentasi agama (Islam). 

Refleksi 5
ILMU melahirkan kata, kata melahirkan gerakan, gerakan melahirkan budaya dan beradaban. Apakah ilmu itu lahir dari cahaya atau dari kegelapan, sangat menentukan kata  dan gerakannya, bahkan menentukan budaya dan peradabannya, apakah gelap atau terang.

Refleksi 6
SUMBER Ilmu adalah Ahludz Dzikr, dan sumber Ahludz Dzikr adalah Laa Ilahaa Illallaah, dan sumber Laa Ilaha Illallah adalah Tauhid, sumber Tauhid adalah Nuur, bersumber pada Nuur al- Asma’, bersumber pada Nuur ash-Shifat, bersumber pada Nuur Adz-Dzat.

Refleksi 7
DALAM Hadits Qudsy, yang dikutip Syteikh Abdul Qadir al-Jailany, Qs,  disebutkan, “Aku Ciptakan Pertamakali  Muhammad, dari Cahaya WajahKu.” 

Nabi Muhammad saw, bersabda: “Pertamakali yang diciptakan Allah adalah Ruhku; dan pertamakali yang diciptakan Allah adalah Nurku,; dan Pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah Al-Qolam; dan yang pertama kali diciptakan Allah adalah Akal.”

Semuanya sama, yang dimaksud secara keseluruhan adalah Hakikat Muhammadiyyah. Disebut Nur karena kecermerlangannya yang begitu jernih jauh dari Kegelapan  Sifat JalaliyahNya. Disebut Akal, karena memahami universalitas. Disebut al-Qolam karena menjadi instrumen transformasi Pengetahuan . Dan disebut Ar-Ruuh al-Muhammady, kartenamerupakan intisari dar4i CiptaanNya. Dalam Sabdanya, “Aku dari Allah, dan semua orang beriman dariku.”

Refleksi 8
Dalam proses aksiologisnya, transformasi spiritual ini akan digoda oleh rintangan-rintangan syetan:

Syetan datang dengan neraka yang membakar renungan terhadap pandangan mata.
Syetan datang pada nafsu dengan neraka yang membakar semangat bakti,
Syetan datang pada akal dengan neraka yang membakar renungan akal sehatnya.
Syetan datang pada Qalbu dengan neraka yang membakar rasa rindu dan Cinta padaNya.
Syetan datang pada Sirr dengan neraka yang menmbakar Keakaraban denganNya dan Musyahadah padaNya.

Refleksi 9
HATI-HATI dengan munculnya Istidraj dan Tipudaya (Ghurur). 
Istidroj bagi para Ulama dan ilmuwan adalah ambisi derajat dan posisi,
Istidroj bagi para Mujtahid adalah berlomba dalam menumpuk hasil Ijtihad dan merasa takjub pada raihan Ijtihadnya.
Istidroj yang menimpa para penempuh Jalan Allah adalah senang memandang anugerah dan karomah.
Istidroj kaum ahli ma’rifat adalah kepuasannya pada kema’rifatan, bukan puas pada yang Dima’rifati (Allah Swt).

(bersambung)

Read 1198 times Last modified on Monday, 27 June 2016 21:31

Leave a comment