Umar Bin Khaththab, Pemimpin Agung Yang Merakyat

Nabi Muhammad Saw. Pernah berucap bahwa jika ada nabi lain setelah dirinya maka orang itu adalah Umar, sang khalifah kedua Islam yang dijuluki “al-Faruq” (pembeda antara yang benar dan salah) karena kebijaksanaan dan rasa keadilannya.

“Ini Umar dan ini Abu Ubaidah, berikanlah ikrar Tuan-tuan kepada yang mana saja yang Tuan-tuan sukai.” Itulah ucapan Abu Bakr Shiddiq, di saat polemik, usai ia berpidato dalam menyelesaikan konflik suksesi pemimpin Ummat sepeninggal Rasulullah Saw. Beliau berdiri di antara Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah.

Ketika itu timbul pula kegaduhan, dan perselisihan pun mulai merebak lagi. Umarkah yang akan dibaiat dengan sikapnya yang begitu keras, tetapi dalam pada itu Ia pendamping (waziir) Nabi dan ayah Hafsah Ummul Mukminin?! Atau Abu Ubaidah yang akan dilantik, yang sampai saat itu wibawa dan kedudukannya belum seperti Umar dalam hati kaum Muslimin?!

Tetapi Umar tidak akan membiarkan perselisihan itu menjadi perkelahian yang berkepanjangan. Dengan suaranya yang lantang menggelegar Ia berkata: “Abu Bakr, bentangkan tanganmu.”

Abu Bakr membentangkan tangan dan oleh Umar ia diikrarkan seraya katanya:
“Abu Bakr, bukanlah Nabi menyuruhmu memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifahnya). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah Saw di antara kita semua ini.”

Menyusul Abu Ubaidah memberikan ikrar. “Engkaulah di kalangan Muhajirin yang paling mulia,” katanya, “dan yang kedua dari dua orang dalam gua. menggantikan Rasulullah Saw. dalam salat, sesuatu yang paling mulia dan utama dalam agama kita. Siapa lagi yang lebih pantas dari engkau untuk ditampilkan dari memegang pimpinan ini!”

Seluruh yang  hadir akhirnya bergantian membaiat Abu Bakr Shiddiq sebagai Khalifah.

Peran Umar ra, luar biasa dalam sejarah paling sulit, di sebuah tikungan sirkuit konflik kepemimpinan paling dahsyat dan krusial. Tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan masa depan ummat ini jika Umar bin Khathab tidak ambil peran ketika itu.

Setelah Nabi Muhammad Saw., tidak diragukan lagi Umar merupakan figur paling berpengaruh dan abadi dalam sejarah Islam. Kuat, kharismatik, tegas, tetapi adil; adil dan seorang pemimpin par excellence, orang-orang berbakat seperti Umar sangatlah langka dalam sejarah manusia. Sebagai sosok yang luar biasa dalam segala hal, Umar dianugerahi kemampuan istimewa dalam semua aspek kemanusiawian. 

Bahkan, Rasulullah Saw. pernah mengatakan bahwa jika ada nabi lain setelah dirinya, orang tersebut adalah Umar. Di samping Rasulullah Saw., prestasi Umar tidak ada tandingannya dalam sejarah Islam. Itulah sebabnya, hari ini setiap Muslim di segala penjuru dunia mendoakan munculnya seorang pemimpin seperti Umar untuk membimbing “ummah” (komunitas Islam sedunia) menembus gelombang sejarah yang bergolak. 

Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza dilahirkan dan suku Adi yang merupakan cabang suku Quraish dari Makkah. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai seorang pegulat tangguh dengan tinggi sedang dan tubuh berotot. Dia juga seorang orator yang berapi-api dan salah satu dari segelintir orang Quraish yang tahu baca-tulis. Umar tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur dan menyenangkan. Dia lalu menjadi pedagang dan saudagar yang cukup sukses di usianya yang baru dua puluh tahunan. 

Setelah Rasulullah Saw. mengumumkan kenabiannya, Umar menjadi “duri” yang gigih bagi beliau. Secara aktif Umar mengecilkan hati orang-orang untuk memeluk agama baru tersebut dan tak pernah ragu menyerang mereka yang mengabaikan nasihatnya. 

Ketika jelas-jelas Rasulullah Saw tidak akan berhenti mendakwahkan Islam, para penguasa elit Quraish memutuskan untuk membunuh beliau. Umar menawarkan diri untuk melakukan tugas tersebut. Semua yang hadir dalam pertemuan itu menyepakati Umar sebagai orang terbaik untuk pekerjaan itu karena dia berani, tegas, dan terkenal dengan keahlian berkelahinya. Umar kembali ke rumah untuk mengambil pedangnya dan segera berangkat mencari Rasulullah Saw.

Di tengah perjalanan, Umar berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah yang menanyakan arah tujuannya. Umar menjawab akan melenyapkan Rasulullah Saw. Nu’aim menanyakan alasannya ingin melakukan kejahatan semacam itu. Umar menjelaskan bagaimana Rasulullah Saw. dan pesannya telah membuat ayah bertentangan dengan putranya, dan saudara berkelahi dengan saudaranya di kota Makkah. Dengan membunuh Rasulullah Saw., Umar berharap bisa mengakhiri Semua kemarahan dan permusuhan. 

Kala itu, Nu’aim sudah memeluk Islam dan bertekad mencegah Umar melakukan misinya yang berpotensi menjadi musibah. Namun, Umar sama bertekadnya untuk melaksanakan tugasnya. Nu’aim menyadari gentingnya situasi saat itu dan mengatakan kepada Umar agar lebih dahulu mengurusi rumah tangganya sendiri. Saudari Umar, Fatimah, dan suaminya ternyata diam-diam telah memeluk Islam.

Tentu saja berita ini mengejutkan Umar dan melukai harga dirinya. Dia segera berbalik dan menuju rumah adiknya. Kala itu Fatimah sedang mempelajari Al-Quran bersama suaminya. Begitu pintu dibuka, Umar mendaratkan pukulan sangat keras terhadap iparnya. Dalam pergumulan berikutnya, Umar berhasil memukul saudarinya sampai mengucurkan darah. Umar tampak terguncang melihat darah saudarinya pada tangannya. Umar meminta untuk melihat ayat yang mereka bacakan. Saudarinya dengan terus terang mengatakan bahwa hanya orang yang membersihkan diri yang diizinkan menyentuh wahyu Tuhan. 

Setelah Umar membersihkan dirinya, Fatimah menyerahkan lembaran kulit bertuliskan ayat-ayat Al-Quran kepadanya, dan mulai membacanya, “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu untuk menyusahkanmu, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah). Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan ruang angkasa yang tinggi. (Dia) Maha Pengasih, bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana). Semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya, dan semua yang ada di bawah tanah adalah kepunyaan-Nya. Dan jika kamu mengeraskan suaramu maka sesungguhnya Allah mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi dari itu (yang terlintas dalam ingatanmu). (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dia mempunyai a1-asmaaul husna (nama-nama yang agung),” (QS Thaha [20]: 1-8). 

Umar terus membaca ayat-ayat tersebut dan ekspresi di wajahnya pun mulai berubah. Apa yang dibacanya bukanlah bait-bait puisi atau prosa; melainkan sesuatu yang melampaui keduanya. Sebagai seseorang yang melek huruf dari segelintir orang di Makkah waktu itu, Umar tahu benar bahwa orang buta huruf seperti Muhammad tidak mungkin mampu menyusun kata-kata indah dan elegan seperti itu. Dia yakin itu wahyu Ilahi. Umar meminta untuk diantarkan kepada Rasulullah Saw. untuk menyatakan janji setia kepadanya.

Sejak hari itu, Umar menjadi seorang pendukung Islam yang dahsyat. Meskipun baru berusia di akhir dua puluhan ketika menjadi Muslim, kedatangan Umar ke dalam Islam membuat Rasulullah Saw. dan sekelompok kecil pengikutnya merasa senang karena Umar merupakan karakter yang kuat dan tangguh yang ditakdirkan memainkan peran legendaris dalam sejarah Islam. 

Dalam budaya Arab kala itu, memperkuat persahabatan melalui pernikahan sangat umum dilakukan. Walau Rasulullah Saw. memberi penghargaan tinggi kepada Umar karena pengabdian dan dedikasinya pada Islam, beliau kemudian menyatukan persahabatannya dengan Umar dengan menikahi putrinya, Hafsah. Rasulullah Saw. pun menjadi menantunya dan Umar menjadi tangan kanan Rasulullah Saw. di sisa umur hidupnya. 

Setelah Rasulullah Saw. wafat pada tahun 632, Umar yang pertama kali berjanji setia kepada Abu Bakar As-Shiddiq selaku penerus Rasulullah Saw., dan orang-orang Madinah pun mengikutinya. Abu Bakar terpilih sebagai “Khalifah Rasul Allah” (Pengganti Rasul Allah) dan menjadi penguasa Negara Islam. 

Berkat kecepatan berpikir, ketajaman intelektual, dan kepribadian kuat Umar dalam masyarakat Islam awal, kemungkinan perebutan suksesi yang berpotensi merusak berhasil dihindari. Dengan begitu, tercapailah transisi kepemimpinan yang mulus. Peran penting Umar dalam tantangan besar pertama yang dihadapi kaum Muslim awal setelah wafatnya Rasulullah Saw., menunjukkan visi jelas, kemampuan keorganisasian dan kebesaran yang dimilikinya. Meski mayoritas sejarawan Islam gagal menghargai pentingnya peran yang dimainkan Umar pada titik kritis dalam sejarah Islam mi. 

Selama dua tahun dan tiga bulan masa pemenintahan Khalifah Abu Bakar, Umar memainkan peran sangat penting sebagai penasihat, pengatur strategi, dan orang kepercayaan terakhir. Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Bakar jelas merupakan Muslim yang berwawasan paling dalam, dan dia sangat mengenal Umar dan memercayainya melebihi orang lain.

Di pembaringan terakhirnya, Abu Bakar memanggil semua tokoh masyarakat Islam awal untuk mengadakan pertemuan (syura). Dia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya hendak mencalonkan Umar sebagai penggantinya. Pada pertemuan itu, tak seorang pun yang keberatan dengan usulan Abu Bakar. Umar merupakan tokoh sentral di antara para sahabat Rasulullah Saw. Dia dikenal karena pengorbanannya untuk Islam dan semua orang mengagumi rasa keadilannya. Dalam situasi tersebut, Abu Bakar merasa Umar adalah orang terbaik untuk memimpin komunitas Muslim. Sejarah mencatat kualitas kebijaksanaan dari pilihan Abu Bakar ini. 

Tahun 634, pada usia lima puluh tiga tahun, Umar menerima tanggungjawab kepemimpinan Negara Islam dan memerintah selama lebih dari satu dekade. Selama periode ini, Umar mampu mencapai apa yang gagal dicapai orang lain seumur hidupnya. Dengan Umar memegang kendali di Madinah, tentara Muslim menyeruak keluar Arab, mengalahkan Kerajaan Persia dan Kekaisaran Suci Romawi yang mahakuat layaknya petir yang menyambar dari surga. Tahun 638, pasukan Muslim menaklukkan Yerusalem dan sang Khalifah sendiri yang datang ke sana untuk menandatangani perjanjian damai dengan masyarakat kota bersejarah itu. 

Saat Umar mendekati Yerusalem, orang-orang kota itu tidak memercayai apa yang mereka saksikan karena salah seorang penguasa besar saat itu memasuki kota mereka sambil berjalan kaki, sementara ajudannya menunggang unta. Ketika si ajudan menawarkan sang Khalifah untuk menaiki unta yang tengah dikendarainya, Umar menolak tawaran itu dan berkata, “Kehormatan Islam sudah cukup bagi kita.” 

Kala waktu untuk shalat telah tiba, Uskup Yerusalem menawarkan Khalifah Umar untuk bershalat di dalam katedral, tetapi ditolaknya dengan sopan. Dia tidak ingin memberikan alasan kepada siapa pun untuk mengubah katedral menjadi masjid di masa depan. Perkataan yang membuat sang Uskup terkejut. Terpukau oleh keanggunan, kerendahan hati, dan toleransi Umar, Uskup menawarkan ruang di luar katedral, tempat Umar memimpin kaum Muslim untuk melakukan shalat. 

Selama sepuluh tahun pemerintahannya yang luar biasa, Umar tidak pernah melupakan nasihat terakhir Khalifah Abu Bakar kepadanya, “Wahai Umar! Takutlah selalu kepada Allah. Suatu perbuatan sunnah tidak akan diterima tanpa melaksanakan pekerjaan wajib. Timbangan kebaikanmu pada Hari Kiamat akan menjadi berat jika kamu mengikuti jalan yang benar di dunia ini. Perbuatan orang-orang yang mengikuti jalan yang salah di dunia ini tidak akan memiliki berat pada Hari Kiamat. Mereka akan mengalami periode yang mengerikan. Jadikanlah Al-Quran dan Kebenaran sebagai panduanmu menuju keberhasilan. Umar, jika kamu mengikuti jalan yang aku kemukakan kepadamu maka aku pasti akan berada di sisimu.” 

Apa yang Umar lakukan melebihi ungkapan-ungkapan bijak Khalifah Abu Bakar. Dia berkembang dan menonjol dalam banyak hal sampai-sampai masa pemerintahannya menjadi cerita-cerita rakyat Islam. Anak-anak Muslim seantero dunia tumbuh dengan mendengarkan cerita orang tua dan kakek-nenek mereka mengenai Khalifah Umar dan prestasi gemilangnya. 

Beberapa kontribusi penting Umar adalah pengembangan demokrasi Islam yang berjalan dengan baik dan pembentukan sebuah dewan penasihat guna membahas dan memperdebatkan suatu masalah sebelum keputusan akhir dibuat (syura). Selain itu, Umar membuat aturan hukum di seluruh Negara Islam yang berkembang pesat, dan memastikan perlakuan yang adil dan kebebasan berekspresi. 

Rakyat biasa bisa berdiri di masjid dan menginterupsinya di tengah-tengah khotbah atau pengumumannya untuk mempertanyakan masalah kebijakan apa pun. Itu termasuk perpajakan, administrasi politik, perkara-perkara masyarakat sipil, urusan-urusan kemiliteran, atau alokasi mahar pernikahan. 

Umar sepenuhnya bertanggung jawab kepada rakyatnya. Jika muncul keluhan, dia akan pastikan keluhan itu segera ditangani, dan dia tidak pernah ragu mengoreksi kesalahannya sendiri atau orango-rang yang bekerja untuknya. Jika orang-orang yang mengajukan keluhan terbukti salah, Umar akan memberikan penjelasan kepada mereka berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw. 

Dengan pesatnya ekspansi kekuasaan Islam, Umar menyusun Sebuah sistem administrasi provinsi dari para gubernur ditunjuk untuk mengawasi kelancaran jalannya setiap provinsi. Meskipun berkantor pusat di Madinah, Umar selalu menjaga hubungan dekat dengan semua gubernurnya yang melaporkan langsung kepadanya. Umar selalu mengingatkan mereka tentang pentingnya melayani masyarakat dengan kejujuran, keseimbangan, keadilan, dan kesetaraan. 

Sebuah fungsi sistem yudisial disusun dan dilaksanakan oleh Umar, sehingga sengketa hukum bisa diselesaikan secara adil dan efektif sesuai dengan pedoman dan prinsip-prinsip Islam. Umar juga mengembangkan departemen perpajakan dan pendapatan yang sama efisiennya untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, pajak, serta pendapatan lainnya dari semua wilayah Negara Islam. Semua itu berada di bawah pengawasan kepala bendahara yang melaporkan langsung kepadanya. 

Bagi Umar, menjaga kesejahteraan kaum fakir, miskin, anak yatim, dan orang cacat sangatlah penting karena dia merasa secara langsung bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan kalangan yang paling rentan dalam masyarakat, Umar membentuk sistem jaminan sosial. 

Sebagai salah seorang sahabat yang belajar paling banyak dari Rasulullah Saw., dia juga mempromosikan program pembelajaran dan pendidikan dengan jalan membangun masjid dan sekolah di seluruh wilayah Islam. Sepanjang masa pemerintahannya, masjid dan pusat-pusat pendidikan menjamur di seluruh pelosok Negara Islam. Umar juga membantu membangun kembali kota-kota terkenal, seperti Basrah, Kufah, Al-Fustat, dan Mosul, yang kemudian menjadi semacam pusat pembelajaran, budaya, dan peradaban Islam yang paling menonjol. Selain itu, Umar membentuk pasukan reguler yang sangat disiplin, terampil, dan berdedikasi. Tak heran tentara profesional Persia dan Byzantium yang dipersenjatai begitu lengkap tidak bisa menandingi mereka.

Berkat jasa besar Umar pula, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sebuah kalender Islam diperkenalkan, sehingga umat Muslim memiliki kalendernya sendiri. Kalender Hijriah dibuat pada masa pemerintahan Umar, di mana hari pertama dalam kalender disesuaikan dengan hari Rasulullah Saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah pada tahun 622. 


 

Khalifah Umar merupakan sosok yang genius dalam berbagai hal, penguasa besar demokratis yang hebat, serta pria penuh kasih yang meneruskan kepemimpinan Negara Islam yang sedang berkembang dan mengubahnya menjadi kerajaan yang kuat dalam tempo satu dekade. Kerajaan itu terdiri dari seluruh Saudi dan daerah-daerah penting dari Kekaisaran Persia dan Byzantium. Itulah sebabnya pemerintahannya diakui sebagai Zaman Keemasan Islam. 

Sebelum kematiannya, Khalifah Umar menunjuk sebuah panel yang terdiri dari enam orang untuk mencalonkan penggantinya. Selama masa kepemimpinannya, dia menjadi salah seorang penguasa paling beradab dan demokratis, dan sengaja memilih untuk tidak mencalonkan penggantinya. Mengikuti jejak Rasulullah Saw. dan pendahulu sebelumnya, Umar ingin masyarakat (atau perwakilan mereka) memiliki suara dalam masalah ini. 

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khaththab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khaththab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. 

Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. 

Menjelang tahun 641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. 

Tahun 639, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna. Penyerangan Islam pada Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khaththab naik jadi khalifah. 

Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. 

Menjelang wafatnya Umar bin Khaththab pada tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khaththab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara. Pembentukan Atmosfer Demokrasi Di awal pembaitannya sebagai khalifah Umar bin Khaththab berpidato di depan kaum muslimin, ia berkata:

 “Saudara-saudara! Saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak sebab segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini.” Lalu dia menengadah ke atas dan berdoa: “Allahumma ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku. Allahumma ya Allah, aku sangat lemah, maka berilah aku kekuatan. Allahumma ya Allah, aku ini kikir, maka jadikanlah aku orang yang dermawan bermurah hati.” Umar berhenti sejenak, menunggu suasana lebih tenang. Kemudian dia berkata: ”Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku, sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tidak ada yang tidak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan pada mereka.” 

Dalam pidato awal kepemimpinannya itu Umar tidak menempatkan dirinya lebih tinggi dari umat Islam lainnya, justru Umar menempatkan dirinya sebagai pelayan masyarakat. Suatu kali Umar berpidato di depan para Gubernurnya: “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.” 

Dalam pidato awal itupun Umar menegaskan bahwa semua orang sejajar di mata hukum, bahwa yang berbuat kebaikan akan memperoleh kebaikan dan yang melakukan kejahatan akan dihukum sesuai kadarnya, tidak memandang siapa dan seberapa kaya. Suatu saat anaknya sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Umar memanggilnya menghadap dan dia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas kuburan anak itu. Bukan hanya itu, Umar bin Khaththab membuka keran pendapat seluas-luasnya. Umar dengan lapang dada mendengarkan kritik dan saran dari rakyatnya. 

Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: “O, Umar, takutlah kepada Tuhan.” Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka.” 

Suatu kebebasan menyampaikan pendapat telah dipraktekan dengan baik. Umar pernah berkata, “Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya dengan ucapan komandannya atau khalifahnya.” Demokrasi sejati seperti ini diajarkan dan dilaksanakan selama kekhalifahan ar-rosyidin nyaris tidak ada persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang demokratis, seperti digariskan Al-Qur’an, dengan tegas meletakkan dasar kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan. Pembentukan Majelis Permusyawaratan dan Dewan Pertimbangan Musyawarah bukan bentuk pembatasan wewenang khalifah dalam memimpin kaum muslimin seperti dalam pengertian parlemen sekarang ini. Musyawarah dilakukan sebagai upaya mencari ke-ridho-an dan keberkahan Allah dalam setiap pengambilan kebijakan negara. Keputusan tertinggi tetap berada ditangan khalifah. Nabi Saw. sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa melakukan musyawarah, kecuali yang sifatnya wahyu dari Allah Swt. 

Pohon demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan dipelihara oleh Abu Bakar mencapai puncaknya pada jaman Khalifah Umar. Semasa pemerintahan Umar telah dibentuk dua badan penasehat. Badan penasehat yang satu adalah sidang umum atau majelis permusyawaratan yang diundang bersidang bila negara menghadapi bahaya. Sifatnya insidental dan melibatkan banyak orang yang mempunyai kompetensi akan masalah yang sedang dibicarakan. Sedang yang satu lagi adalah badan khusus yang terdiri dari orang-orang yang integritasnya tidak diragukan untuk diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah pengangkatan dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan khusus ini, dan keputusannya dipatuhi. Pembentukan Lembaga Peradilan yang Independent Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif. 

Von Hamer mengatakan, “Dahulu hakim diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang ditetapkan berdasar undang-undang, sebab undang-undang menguasai seluruh keputusan pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan keputusan itu. Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam telah mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif.” Pemisahan seperti itu belum lagi dicapai oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini. Pemisahan wewenang ini menghidupkan check and balance antara eksekutif yang melaksanakan pemerintahan dengan lembaga peradilan sebagai ujung tombak penegakkan hukum. Dengan sistem ini eksekutif tidak dapat meng-intervensi keputusan dan proses hukum yang sedang berjalan, hingga jauh dari budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. 

Maka sesungguhnya, jauh sebelum ada teori mengenai trias politica (Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif), Umar bin Khaththab sudah menerapkan hal itu. Cuma perbedaannya Umar tidak menjadikannya sebagai teori, tapi Umar menerapkan dalam pemerintahannya. Sebagaimana yang pernah Umar sampaikan di depan kaum muslimin: “Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda budak. Aku adalah hamba Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah dipercayakan tanggung jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan khilafah. Adalah tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan menjadi hari nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan.” 

Umar mendidik rakyatnya dengan perbuatan dan contoh, bukan dengan teori dan kata-kata. Sistem Monitoring dan Controling Pemerintah Daerah Wilayah kedaulatan umat Islam yang semakin meluas mengharuskan Umar bin Khaththab sebagai khalifah melakukan monitoring dan controling baik pada gubernur-gubernurnya. Sebelum diangkat seorang gubernur harus menandatangani apa yang dinyatakan yang mensyaratkan bahwa “Ia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat.” 

Lalu dibuat daftar barang bergerak dan tidak bergerak begitu pegawai tinggi yang terpilih diangkat. Daftar itu akan diteliti pada setiap waktu tertentu, dan penguasa itu harus mempertanggung-jawabkan pada setiap hartanya yang bertambah dengan sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat itu memperoleh ganjaran hukuman. Selain itu Umar mengangkat seorang penyidik keliling, ia adalah Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi. 

Ia mengunjungi berbagai negara dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu, Khalifah menerima pengaduan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah, telah membangun sebuah istana. Seketika itu juga Umar memutus Muhammad Ansari untuk menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan masuk kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan kepentingan umum itu lalu dibongkar. Kasus pengaduan lainnya menyebabkan Sa’ad dipecat dari jabatannya. 

Pembentukan Lembaga Keuangan (Baitul Maal) Umar bin Khaththab menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang sehat. Dia membentuk “Diwan” (Departemen Keuangan) yang dipercayakan menjalankan administrasi pendapatan negara. Kas negara dipungut dari zakat, Kharaj dan jizyah. Zakat atau pajak yang dikenakan secara bertahap pada Muslim yang berharta. Kharaj atau pajak bumi dan Jizyah atau pajak perseorangan. Pajak yang dikenakan pada orang non Muslim jauh lebih kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum Muslimin. 

Umar bin Khaththab menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan tanah yang terkena. Dia menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah 2 dirham dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak dipungut pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya, pendapatan pajak tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu tidak pernah terlampaui pada masa setelah wafatnya Umar. 

Pendapat Umar pada uang rakyatpun sangat keras, Umar berkata: “Aku tidak berkuasa apa pun pada Baitul Maal (harta umum) selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.” 

Dalam penggunaan anggaran kas negara ini, Umar membentuk Departemen-Departemen yang dibutuhkan, contohnya Departemen Kesejahteraan Rakyat, Departemen Pertanian. Departemen Kesejahteraan Rakyat dibentuk untuk mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Di bidang pertanian Umar memperkenalkan reform (penataan) yang luas, hal yang bahkan tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di zaman modern ini. Salah satu dari reform itu ialah penghapusan zamindari (tuan tanah), sehingga pada gilirannya terhapus pula beban buruk yang mencekik petani penggarap. 

Hal lainnya seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam: “Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim, pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang memperoleh hak untuk pensiun tentara (divan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi (qazi), semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat peraturan, seperti sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik haji, hukuman bagi pemabuk, dan hukuman pelemparan dengan batu bagi orang yang berzina.” 

Umar bin Khaththab adalah Khalifah yang sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu saat secara diam-diam dia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, saat sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, saat menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang dia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya dia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Dia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, dia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu dia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya. 

Ia mengelola bantuan telah terorganisir dengan baik. Sesampainya bantuan di Madinah, Umar menunjuk beberapa orang tepercaya untuk melakukan distribusi. Ia sendiri ikut turun membagikan makanan bagi penduduk Madinah. 

Setiap berapa hari sekali, mereka menyembelih hewan untuk dimakan bersama dengan orang banyak. Umar pun turut mengotori tangan untuk mengolah adonan roti bercampur zaitun. Setiap malam, para pejabat Umar berkumpul dan melaporkan segala sesuatu yang mereka alami siang harinya.

“Andaikata untuk meringankan beban rakyat saya harus membawakan perlengkapan kepada masing-masing keluarga di setiap rumah, lalu mereka saling membagi makanan sampai Allah memberi kelapangan, akan saya lakukan,” tegas Umar. 

Kelaparan berkepanjangan menimbulkan bencana susulan berupa penyakit dan kematian. Kendati Umar telah berupaya maksimal, banyak penduduk Arab sakit dan mati. Selama sembilan bulan itu, kaum Muslim merasakan ujian berat. 

Tak hanya mengharap bantuan dari kaum Muslim, Amirul Mukminin mengajak rakyat melakukan shalat istisqa untuk meminta hujan. Sekian waktu, Allah mengabulkan doa mereka. Gerimis pertama menghampiri Semenanjung Arab. Tanah basah, pohon bersemi, dan dedaunan menghijau. Kaum Muslim terlepas dari bencana.

Umar telah menetapkan disiplin diri yang sangat keras pada diri sendiri sepanjang musim paceklik. Ia menurunkan taraf hidupnya ke tingkat hidup orang-orang fakir miskin yang hanya makan seadanya.

Umar duduk bersama ribuan orang yang kelaparan dan makan bersama mereka. Ia tidak mau mengistimewakan diri.

Lewat tindakan itu, Umar bin Khaththab membuktikan dua hal. Pertama, ia turut merasakan penderitaan rakyatnya sehingga terdorong untuk memperjuangkan nasib mereka.

“Bagaimana saya akan dapat memerhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan.” Jawaban itu terucap dari seorang penguasa besar.

Kedua, tindakan Umar menentramkan hati rakyat bahwa Amirul Mukminin ada bersama mereka di tengah suka-duka. 

Sebagaimana sabda Nabi, “Tidaklah seorang pemimpin mengurusi rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu (mengkhianati) rakyat, kecuali Allah mengharamkan baginya surga” (HR. Bukhari). Karena itu, sepayah apapun penderitaan rakyat, tidak ada tanda-tanda pemberontakan menggeliat di wilayah kekuasaannya.

Setelah masa paceklik panjang terlewati, Umar berpikir, orang-orang Arab pedalaman yang datang ke Madinah sudah tidak perlu lagi berada di sana.

Kepada mereka, Umar pun memerintahkan, “Kembalilah kalian ke daerah asal masing-masing!” Terselip kekhawatiran di benak Umar, jika para pengungsi itu menetap di Madinah lantaran sudah merasa nyaman. Hal itu akan merusak tatanan demografi masyarakat.

Dalam kisah Rumah Tangga Sahabat Umar, diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar Bin Khaththab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar Ra di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam:

”Kalau keadaan Amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku. ”

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya, ”Ada keperluan penting?”.

Ia menjawab: ”Amirul mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak Mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku. Aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hatiku berkata: “Kalau keadaan amirul mukminin saja diperlakukakan Istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata kepadanya: ”Saudara, sesungguhnya aku rela Menanggung perlakuan seperti itu dari istriku, karena Adanya beberapa hak yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku, Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia Menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara Haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi. ”

Kata orang itu : ”Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”.

Umar r.a berkta kepadanya, “Sesungguhnya aku telah membebankan kewajiban-kewajibanku kepadanya, Sesungguhnya dia yang memasak makananku, membuat roti, mencuci pakaianku, menyusui anakku, dan hal itu bukan kewajibannya. Hatiku merasa senang dengannya karena dapat menjauhi perbuatan haram, Oleh karena itu aku tabah menghadapi istriku,”

Laki-laki itu pun berkata, wahai pemimpin orang-orang mukmin, begitu pula istriku. lalu Umar  r.a berkata, “Tabahlah kau mengahdapi istrimu, wahai saudaraku, karena sesungguhnya hal itu hanyalah sebentar saja.”

Rasulullah Saw. adalah orang yang sangat sayang (lembut) kepada kaum wanita dan beliau pun bersabda, “siapa laki-laki yang bersabar atas kejelekan istrinya, niscaya Allah memberikan kepadanya pahala seperti yang telah di berikan kepada nabi Ayyub as. ketika dia tertimpa bencana. Dan siapa wanita yang bersabar atas kejelekan suaminya, niscaya Allah memberikan kepadanya pahala seperti yang telah di berikan kepada Asiyah binti Muzaahin yaitu istri Firaun.

(Ikuti Tasawuf Umar Bin Khaththab dan Kisah-Kisah Mulianya di Edisi Berikutnya)

Read 1430 times

Leave a comment