Epistemologi Sufistik

EPISTEMOLOGI Islamy, Imany dan Ihsany

EPISTEMOLOGI ISLAMY
ISLAM  (dalam fakultas amaliyah dan ilmiyah) berkembang menjadi peradaban hukum (syariah) dan segala hal yang berkaitan dengan berbagai aturan ibadah, termasuk aturan hukum politik, hukum social, ekonomi,  hak asasi manusias  dengan berbagai  perspektif dinamikanya. Bidang-bidang sains empiric, fisika, matematika, technology,  astrolomi, kedokteran, pertanian, geology, energy, segala hal yang berkaitan dengan tanah

dan air, udara, masuk dalam ruang lingkup Epistemology Islamy.

Pada wilayah inilah istilah Islam mengenalkan wilayah Ijtihad. Suatu aktivitas ilmiyah yang sangat ketat dan berurusan dengan alam Pikiran dan akal yang dicurahkan untuk mengambil keputusan-keputusan ilmiyah Piranti-piranti Ijtihad inilah yang menjadi orientasi Epistemology Islamy. Tidak sekadar pada keputusan akan mana yang benar dan salah terhadap hokum syariat, tetapi juga pemberian seluas-luasnya untuk wilayah kontemplasi Pikiran dan aktivasi akal terhadap objek-objek ilmu pengetahuan di bidang fisika dan eksoterisme.

Fungsi akal juga menjadi monitor atas seluruh perkembangan pengamatan Pikiran, bahkan kelak juga menyelubungi wilayah pengamatan di wilayah peradaban Iman dan Peradaban Ihsan. 

Fungsi akal terus menjembatani dan mengingatkan, agar proses “drama filosufi yang berseri” tidak saling memisah dan tidak saling mengintervensi satu sama lain, tetapi dalam ruang organism akomodatif yang utuh dalam diri manusia. (Ingat tragedy aliran-aliran filosufi dalam teologi Islam, dengan munculnya aliran Qadariyah dan Jabariyah), disebabkan oleh intervensi wilayah apresiatif epistemologis yang tidak proporsional, sehingga muncul dalam polemic spirtitual-teologis, saling saling mengklaim kebenaran final

Benarkah wilayah epistemology Islamy memberikan kebebasan Ijtihad secara terbatas? Sejauhmana ruang Ijtihad itu mendapatkan kemerdekaannya? Sebenarnya wilayah Ijtihadiyah dalam epoistemology ini, terbatasi oleh Instrumennya sendiri, yaitu relativitas Pikiran atas objek-objek ilmu pengetahuan yang tak terbatas, apalagi objeknya adalah Pengatahuan  Allah yang absolute (Al-Qur’an dan Sunnah NabiSaw.). Dalam hal-hal yang berhubungan dengan wilayah metafisika, posisi Pikiran sebagai instrument pun tetap sama. Karena itu apresiasi Pikiran yang dijustifikasi oleh akal, dan diputuskan oleh hati (qalbu) adalah keseluruhan proses yang terus menerus dalam menempuh “Jalan Pengetahuan” yang tak terhingga.

Karena itu Epistemology Islam tetap berkisar pada wilayah renungan pemikiran yang beradaptasi (sekaligus objek Pikiran):  dengan ruang dan waktu, bentuk dan warna, penjuru dan arah, bunyi dan bahasa, jauh dan dekat, gerak dan diam, dengan hukum-hukum kebenaran yang terukur oleh nalar Pikiran itu sendiri.

Islam memberikan ruang Pikiran dalam dimensi-dimensi tersebut, yang kelak juga melahirkan norma-norma hukum (baik itu hokum fiqih, maupun hokum-hukum pengetahuan alam). Di sini silabus pemikiran kita terarahkan oleh berbagai dukungan lainnya, seperti factor bahasa dengan logika dan sastranya, latar belakang dan tujuan utamanya (semisal dar’ul mafasid wa jalbil mashalih dsb.).

Sejauh ini, dunia filsafat belum menempuh alur yang tidak memuaskan (cenderung memaksakan dirinya), untuk memposisikan tugas dan apresiasi Pikiran itu sendiri sebagai instrument eksistensi manusia. Dalam kaitan sub tema Epistemology Islam inilah tugas-tugas Pikiran dan akal  memposisikan dirinya sebagai:

  1. Pikiran berfungsi sebagai pencerah, penerang, pencahaya,  pengembang secara dinamis dan aktif, atas kegelapan objek yang meresahkan jiwa dan memicikkan qalbu.  Fungsi Akal, memberikan penglihatan nyata dengan seluruh akibat hukum ilmiyahnya, apakah cahaya yang menyinari objek-objek pengetahuan itu, bernilai salah atau benar, haq atau bathil, baik atau buruk, halal atau haram, mafsadah atau mashlahah.
  2. Pikiran memantulkan cahayanya untuk menyibak yang tersembunyi pada objek yang tampak empiric, lalu menemukan nama, sifat dan substansi darti nama dan sifat tersebut. Fungsi Pikiran disini membuka pandangan mata hati (an-Nazhar), terhadap apa yang ada dibalik penciptaanNya. Bukan pada objek-objek benda dan atomic-neukleusnya. Lalu dalam konteks ini Akal menetapkan proporsi  yang tersembunyi  dibalik nama, sifat dan dzat yang direnungkan oleh Pikiran.
  3. Pikiran yang menata susunan varian-varian objeknya menjadi keutuhan eksistensial, fungsional dan bagaimana dinamisasi kehidupan pada sifat-sifat  objek tersebut, baik dalam kehidupan social manusia maupun alam semesta. Inilah yang disebut sebagai bentuk penundukan terhadap kemakhlukan semesta bagi manusia. Fungsi Akal adalah memberikan vonis yang logis, apakah benar dan salah  atas strukturisasi yang digerakkan dan dibangun oleh renungan Pikiran.
  4. Pikiran akan terus digerakkan oleh “daya hidup” dalam dirinya sendiri yang menjadi sifat Pikiran. Akal terus membuka mata hatinya untuk merangsang Pikiran. Jika Pikiran tidak merenung, tidak akan muncul pencahayaan atas objek dan tujuan, maka sejauh matahati terbuka lebar-lebar dalam diri akal, juga tidak akan memiliki fungsinya. Apa arti mata kepala kita yang terbuka, jika kita ada dalam kegelapan?\
  5. Pikiran terus menjelajahi ayat-ayatNya yang terbaca (al-Maqru’ah) dan Ayat-ayatNya yang tak terbaca (Ghairul Maqru’ah), Akal yang menentukan norma-normaNya, hingga tahap  pemahaman (Tafaqquh).  
  6. Jika ilmu melahirkan amal, dan amal melahirkan ahwal, maka dimensi-dimensi Pikiran dan Akal pun bersenyawa dengan Ilmu Lahiriyah, Amal Ibadah Lahiriyah, Ahwal Lahiriyah (Akhlaq).
  7. Jika boleh saya sebut, inilah yang menjadi atmofsir al-Fikrah al-Islamiyah dan Al-‘Aqlul Islamiyah yang melahirkan An-Nadzhrah al-Islamiyah.

 


 

EPISTEMOLOGI IMANY
IMAN berkembang menjadi fakultas-fakultas filosufi teologis dan aksiologis yang kelak mempengaruhi cara pandang akidah ummat. Dengan perjalanan historiknya yang begitu ketat, “peradaban Iman” telah berpengaruh dalam sejarah agama  (Islam) ini penuh dialektika yang luar biasa. Inilah yang berkembang menjadi bagian-bagian sentra dari psikhologi beragama dan etika beragama (morality).

Oleh karena itu peradaban iman, secara epistemologis akan mempengaruhi tugas-tugas fakultas batin manusia, sejauhmana apresiasi, fungsi dan posisi alam Pikiran, alam nafsu, alam Qalbu, alam Akal, alam Ruh, melahirkan organism teologis yang berkaitan dengan alam semesta, Tuhan dan diri sendiri. Suatu wilayah dan atmosfir akidah yang begitu cemerlang.  Inilah yang saya sebut dengan Epistemology Iman.

Epoistemology Imany berhubungan erat dengan Ontology, yang kelak secara teoritis, manusia meyakini Kebenaran Hakiki, Tujuan Hakiki, dan bagaimana menempuh Jalan menuju Yang Maha Benar. Ilmu Agama dan Praktek Agama (Amaliyah dan Ubudiyah), bertperan besar dalam reproduksi pengetahuan-pengetahuan teologis, yang tentu saja apresiasi Pikiran dan Akal mengalami transformasi dari renungan Fisika menuju Renungan Metafisik, dari Akal Fisika menuju Akal Metafisik dengan logika-logika yang membuka “Rasa Yaqin yang nyata” (‘ainulk yaqin) sebagai wujud Keimanan. 

Inilah wilayah Qalbu, dan bagaimana Qalbu mengapresiasi sejumlah elemen batin untuk dijadikan sumber pengetahuan. Ilmu-ilmu syariah dan ilmu-ilmu hakikat berpadu dalam Qalbu untuk menaikkan terus menerus dejarat keimanan. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah Swt, karena apresiasi Qalbu dari oleh Pikiran dan pandangan Mata Qalbu (Akal, Bashirah) terus membubung dalam nuansa Khasyyah (rasa takut dan cinta) kepada Allah Swt.

Antara Pengetahuan dan “Perilaku Batin” bergerak, dan fungsi-fungsi Pikiran serta akal mengalami peningkatan derajatnya masing-masing. Transformasi menuju renungan batin dan terbukanya mata batin menjadi point-point utama dalam kehidupan pengetahuan batin.

Dalam konteks Epistemology Imany, bisa diurai dalam fungsi yang begitu mekanis, logis dan Akal Qalbu terus membimbing melalui pandangannya. 

Namun ada hambatan besar yang mesti disibak agar sumber pengetahuan yang hakiki, yang seringkali menjadi lapisan-lapisan tirai kegelapan yang menutup pandangan Akal yang jernih. Lapisan ini dsiebut dengan Hawa  Nafsu.

Maka kinerja Qalbu akan membuat keputusan atas pengetahuan, apakah Qalbu memihak pada Hawa Nafsu atau memihak pada Pandangan Bashirahnya, yang telah dipancari oleh Cahaya Kebenaran Hakiki, yang dihidupkan melalui Ruhnya. Maka konsentrasi Epistemology Imani akan berorientasi pada metode-metode khusus (yang menurut istilah dunia Tasawuf disebut Thariqah) melalui Mujahadah (Perlawanan Nafsu Bathiniyah), sebagai bagian unik dari Epistemology ini.

Di sini digambarkan, Qalbu adalah Istana Spesial Ilahiyah, sekaligus raja yang memanage seluruh proses Kebenaran  (melalui tafaqquhnya)agar dijalankan oleh para aparat dan rakyatnya.

Secara fundamental ada elemen-elemen yang berhubungan dengan wilayah ini, untuk difaahami agar fiungsi masing-masing tidak saling tumpang tindih, dengan tahap dan derajat spiritualitas kebenaran menuju Sang Maha Benar.

Derajat Epistemology Imany  inilah yang akan memberikan respon Pengetahuan yang lebih tinggi. Dan karenanya perlu dijadikan renungan lebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan wilayah mana yang elementer, suplementer, dan fundamental, tetrmasuk response-responsinya terhadap alam fisika (al-mulk wasy-syahadah):

  1. Pikiran terus hidup dengan renungan logis, karena Qalbu terus membutuhkan pancaran cahaya Pikiran, untuk menepis pengaruh-pengaruh hawa nafsu yang menyeret Qalbu pada bidang-bidang kegelapannnya. Jika pencerahan fikrah menerangi Qalbu yang memang harus dihidupkan oleh Qalbu, dengan membuka Mata Akal Ruhaniyah (bashirah), hawa nafsu akan tersimngkirkan dalam dari kegelapannya, dan Nafsu sendiri mengalami transformasi, menuju semangat positif (dari Ammaraoh menuju Lawwamah, Lalu menuju Mulhamah, menuju Muthmainnah, menuju Radhiyah, menuju Mardhiyah dan menuju Kamilah).  Di sini Qalbu akan membuat keputusan yang par exellen atas kebenaran pengetahuan, sekaligus tindakan kebijakannya.
  2. Pikiran akan bergerak untuk meningkatkan derajat pengetahuan melalui analisan mata qalbu (bashirah) yang melahirkan:
    • Rasa yaqin yang tak terbantahkan.
    • Kesadaran akan kebenaran sejati.
    • Semangat bangkit menuju Allah Swt.
    • Sirnanya hijab
    • Nilai-nilai luhur yang dijadikan pijakan perilaku hati.
    • Memandang yang tersembunyi di balik alam ciptaaanNya.
    • Merdeka dari pengaruh alam ciptaaan karena memandang Sang Pencipta.
    • Qalbu menghidupkan seluruh daya batin, melalui ruh (ruhany) yang  digerakkan oleh Nur al-Asrar, yang menjadi awal terbitnya Cahaya Pengetahuan Ruhani dari Allah Swt.
    • Qalbu menjadi hidup oleh Dzikrullah, akibat Pengetahuan Ma’rifah melalui CahayaNya.
  3. Pikiran akan menarik Qalbu untuk menembus wilayah Ketuhanan, agar memahami Asma’ dan SifatNya. Apa hubungan Asma dengan CiptaanNya? Apa hubungan Asma dengan SifatNya? Sedeangkan Akal akan terus memantau, mana yang wajib, mana yang mungkin, mana yang mustahil, mana yang bebas. Qalbu mengimani dengan rasa yakin yang nyata, dan mengimplementasikan dalam kesadaran Tauhidnya.
  4. Kesadaran puncak di wilayah ini adalah “rasa fana’” , namun pengetahuan akan posisi fana’, membuat Pikiran terus berkembang, karena Qalbu harus menaikkan derajatnya pada kesadaran Baqa’. Dan pada wilayah inilah, peran Epistemology Ihsany , kelak akan semakin tampak jelas.
  5. Pada wilayah Epistemology ini ada atmosfir Aksiologis  penataan batin, melalui pengetahuan yang difahami oleh akal dan Pikiran dari sumber utamanya, Al-Qur’an dan Sunnah,  dan sejumlah pengalaman Sufi Agung yang telah disistematisir dalam struktur Ilmu Pengtetahuan Tasawuf. Sebab, ada transformasi dari Al-‘Ilm menuju Al-Ma’rifah, sekaligus terus menjadi mediasi, antara Ilmu, Ma’rifah, Amal dan Ahwal (perilaku bathin) atau Amal, Akhlaq dan Adab.
  6. Transformasi terjadi dari Alam Syariah menuju Alam Thariqah dan Hakikat, dari Ilmul Yaqin ke ‘Ainul Yaqin, dari menyembah menjadi menuju Allah, dari Akhlaq menjuju Adab, dari fisika ke metafisika, tetapi karena adanya piranti pengetahuan lewat tafakkur dan ta’aqqul, perjalanan pengetahuannya tidak pernah berhenti di sini, hingga memasuki wilayah perwujudan Hakikat (Tahaqquq  dan Tajally) yang tiada hingga.
  7. Benar dan jujur hati, keikhlasan dan ketentraman hati, merupakan sumber dasar dari pengetahuan ini. Pada akhirnya ada dekonstruksi, jika semua ilmu melahirkan amal, maka di posisi ini, amal justru melahirkan ilmu. Jika dalam Epistemology Islamy, syariat menuju hakikat, dalam Epistemology Imany justru  sebaliknya, syariat adalah akibat hakikat. Amal Ibadah melahirkan anugerah pahala, didekonstruksi menjadi:  pahala dan anugerahlah yang melahirkan ibadah.

 


 

EPISTEMOLOGI IHSANY

“Engkau melihat matanya berlinang karena kema’rifatan mereka pada Allah” (Al-Maidah 83). 

IHSAN secara umum adalah manifestasi dari tindakan (amaliyah) Islam dan Iman, yang menjadi puncak dari ontology dan manifestasinya (tahaqquq).  Dalam bidang-bidang ilmiyahnya kelak dieksplorasi oleh dunia Tasawuf, sebagai disiplin ilmu bagi Al-Ihsan. Peradaban Ihsan adalah puncak dari dialektika dan sekaligus wujud nyata dari “kebenaran puncak”  yang selama ini dilalui dalam Islam dan Iman. Varian-varian peradaban Tasawuf misalnya menggambarkan betapa dalamnya relung-relung hakikat, sekaligus begitu merdeka dan liberalnya, ketika manifestasinya bersinggungan dengan titik pandang epistemologis dan folusufis secara umum. Disinilah saya sebut sebagai epistemology paling unik dan misterius, namun sekaligus begitu sederhana dan bersahaja.

Ruang lingkup epistemologinya, mengeksplorasi wilayah Rahasia Ruh (Sirr) yang diberlakukan secara metodologis maupun paedagogis oleh para Sufi Agung (Syeikh dan Mursyid) terhadap para penempuh Jalan Allah (Thariqah). Puncak moral yang agung akan terus mengalirkan mata airnya, menempuh liku jurang dan sungai, hingga bermuara ke Lautan demi Lautan yang tak terhingga kedalamannya, dari satu rahasia ke rahasia lainnya tanpa batas. Wacana ini bukanlah apologia atas ketidakmampuan manusia memasuki lembah Hakikat secara final,  lantas finaslisasi atas kebodohan manusia sebagai  klaim akhir dari kebenaran

Pada wilayah ini, ada nuansa upaya sang hamba untuk meraih kebenaran hakikat melalui perwujudan hakikat itu sendiri. “Dekonstruksi epostemologis” berjalan di sini, ketika akal dan Pikiran harus memposisikan sebagai akibat dari sebuah proses pencahayaan kebenaran dari Allah swt. Oleh karena itu objek-objek dalam epistemolgi Ihsany adalah Allah, Dzat yang Dima’rifati (al-Ma’ruf), dan karenanya manifestasi-manifestasi (Tajally) Ilahi, memancarkan Sifat dan KarakterNya, dalam limpahan-limpahan Cahaya (al-Muwajahah).

Ilmu, ma’rifat, pemahaman, pembenaran dan maujud hakikat bukanlah tujuan dalam proses epistemologisnya, namun limpahan-limpahan anugerah itulah yang membuat dinamika hakikat menghantarkan perjalanan masing-masing elemen dalam jiwa untuk hidup dan menemukan hakikat dirinya.

“Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan apabila engkau tidak bisa melihatNya, ka Dia melihatmu.” Demikian Sabda Nabi Saw.

Menyembah dan seakan-akan melihat yang disembah adalah wujud paripurna dari hakikat pengetahuan (ma’rifah), yang berarti juga memandang melalui PandanganNya, sehingga yang tampak adalah manifestasi Cahaya Nama dan SifatNya, yang kelak memancarkan hikmah dan pengetahuan.

Secara Epistemologis memang terjadi struktur yang berurutan:

Pertama metode Tazkiyah (wayuzakkiihim)
Kedua metode ilmiyah (wa-yu’allikhum al-kitaab)
Ketika, proses munculnya hikmah-hikmah pengetahuan.

Hal demikian menunjukkan bahwa Tazkiyah, adalah awal yang kelak memantulkan cahayaNya, disertai penyucian qalbu (Tathhirul Qulub). Inilah Suasana Tanwirul Asrar, memantul dalam Qalbu, lalu memancarkan cahaya yang membuka akal, untuk memberi struktur ilmu pengetahuan. Kelak populer di kalangan Sufi, dengan metode Takhally, Tahally dan Tajally, atau Tazkiyah, Tathhir, Tanwir. 

Disini semakin jelas, cahaya melahirkan kehidupan ruhani, lalu menjadi perilaku ruhani (adab), kemudian melahirkan amal (akhlak), baru lahir ilmu pengetahuan.

Dalam pola Metodology Ihsany muncul berbagai pendekatan dan proses spiritual yang sangat mengagumkan. Lahirnya istilah-istilah Tasawuf, seperti Fana’, Baqa’ Taraqqy, Tanazzul, Mahw dan Shahw, Mukasyafah, Muhadharah, Mufatahah,  Mujalasah, Muhadatsah, Muthalaah, dan sejumlah sistematika Maqomat dan Ahwal tidak lepas dari pendekatan Epistemology Ihsany  yang dibangun oleh para sufi. 

Begitu juga terminologi yang muncul secara metaforal dan – khususnya berkaitan dengan refleksi teologis, -- kita kenal disana semisal pembagian sistematik antara Tanzih, Tasbih, Tajrid, Tafrid, Tauhid, dan sebagainya, semisal Nurun ala Nur, Nuuril anwaar, Nurun Muhammadiyah, Nuurun Ahmadiyyah,  Nur Tawajjuh, Nuur Muwajahah, dan sebagainya, merefleksikan sebuah pendekatan pemahaman perilaku spiritual Sufi yang sangat kaya pengetahuan. 

Nur sebagai pembuka pengetahuan, misalnya, dalam proses pendekatan raihannya, terbagi menjadi dua. 1)Nur at-Tawajjuh, 2) Nur al-Muwajahah. 

Nur Tawajjuh, berfungsi sebagai pembuka jalan para penempuh Jalan Sufi menuju kebenaran hakiki, Allah Rabbul ‘Izzah. Ia perlu menggunakan instrumen Nur ini, demi terbebas dari kegelapan.

Nur Tawajjuh ini berada di wilayah Syariah dan Thariqah, wilayah Islam dan Iman, wilayah ibadah lahir dan batin yang ditempuh melalui Mujahadah dan Mukabadah.

 Sedangkan Nur Muwajahah lebih pada pantulan yang terus melimpahi mereka yang sudah sampai (wushul) pada Sang Maha Benar ‘Azza wa-Jalla, dan berdimensi serba hakikat, dengan wilayah ke-Ihsanan, dimana ubudiyahnya lebih pada konsentrasi renungan dan pandangan Ilahiyah, melalui Musyahadah dan Mukalamah (berdialog dengan Allah Swt). Pada tahap inilah sang arif yang washil tidak lagi butuh Nur, karena Musyahadahnya pada Nurun Nuur, dan ia sendiri telah menjadi  Nur itu sendiri (‘ainun nuur), hingga hanya Lillah (bagi Allah swt) dan Billah (bersamaNya).

Dengan kata lain, pendekatan metodologis, sekaligus menyatu dengan aksiologisnya, dan karena refleksi ontologisnya telah memancarkan cahaya kepribadian sempurna. Maka dalam konteks inilah sejumlah nilai-nilai besar lahir, yang menjadi yang kokoh, seperti:

  1. Kembali kepada Allah dalam segalanya,
  2. Mengandalkan Allah dalam segala hal,
  3. Lebur dalam Allah, jauh dari segalanya,
  4. Pembuktian bersama Allah atas segalanya,
  5. Meraigh limpahan rizki pengetahuan,
  6. Ketersingkapan khazanah pemahaman,
  7. Hubungan langsung dengan limpahan-limpahan cahayaNya,
  8. Dan sirna dari cahaya, karena memandang Sang Esa Al-Qahhar.

Hal ini dikuatkan oleh pendekatan manifestasif yang dahsyat melalui pilart-pilar kehambaanNya

  1. Mengikat diri dengan Allah dalam segalanya.
  2. Ridho apa pun dari Allah dalam segalanya.
  3. Kembali kepadaNya dalam segala urusannya
  4. Terus menjaga kefakiran kepada allah dalam segalanya,
  5. Inabah (kembali hati dari alpa padaNya) dalam segalanya,
  6. Sabar bersama Allah dalam segala hal,
  7. Memutuskan diri hanya kepada Allah dalam apa pun,
  8. Istiqomah pada Allah dalam apa saja,
  9. Pasrah padaNya dalam segalanya
  10. Menyerahkan total padaNya.

Al-Asrar (rahasia-rahasia batin yang hakiki) merupakan tonggak mula Epistemology Ihsany ini. Syeikh Ahmad ar-Rifa’y secara  cemerlang menggambarkan:

  • Apabila Sirr (rahasia batin)teguh, maka akal akan teguh.
  • Apabila akal teguh, hati akan teguh,
  • Apabila hati teguh, nafsu akan teguh (dalam konsistensi pengendalian dan pembershan).
  • Apabila nafsu teguh, maka tegaklah perilaku jiwa.
  • Sirr dipancari oleh Cahaya Jalal dan Jamal,
  • Akal dipancari oleh Cahaya Kesadaran dan Kontemplasi,
  • Qalbu dipancari oleh Cahaya Khasyyah (rasa takut dan cinta) dan Cahaya Pikiran,
  • Nafsu dipancari oleh Cahaya Olah Jiwa (Riyadhoh) dan Semangat luhur.

Inilah wilayah Ulul Albab, atau mereka yang telah dianugerahi pencahayaan ruhani  pada kedalaman Sirrnya (al-Lubb), yang selamanya merefleksikan dzikir, baik ketika sedang tegak dan teguh Sirr dan Ruhnya (qiyaaman), dan ketika duduk dalam kontemplasi hatinya (qu’uudan), maupun dan pencerahan ketika ia lelap tidur dengan kealpaan nafsunya lalu sadar dalam semangat (wa’ala junubihim), dan terus menerus tafakkur dibalik penciptaan langit dan bumi, lalu memandang melalui cahaya Pikirannya pada Asma’ dan sifatNya di balik semesta lahir dan batin (as-Samawat wal-Ardh).

Kaum ulul albaab meraih pengetahuan bukan dari renungan pada alam semesta, tetapi mereka meraih aksioma pengetahuan bersama Allah, baru kemudian memandang dan melihat alam semesta bersamaNya. 

 

Wallahu a’lam bis Shawab
Jakarta 19 Nopember 2014

 

Read 2331 times

1 Comment

  • Comment Link jewa Thursday, 08 September 2016 19:14 posted by jewa

    Permisi copy artikelnya

Leave a comment