×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Dicari, Doctor Akhlaq

Oleh: Eny Rachmawaty, S Pd - Guru dan pemerhati pendidikan
Pertarungan kebudayaan di negeri kita ini telah melahirkan tiga kekuatan budaya yang saling tarik menarik, dan saling mempengaruhi, saling bersinergi dan

saling – tidak jarang – menimbulkan konflik. Pandangan ini tentu berbeda dengan Sammuel  P Huntington, yang mencoba

membangun titik kebudayaan dunia yang berakhir dengan konflik yang dramatis, berbau politik dan supremasi kekuatan-kekuatan yang menguasai globalisasi dunia.

Namun di negeri kita, masuknya budaya Barat, tumbuhnya tradisi budaya nusantara, dan bangkitnya tradisi agama (Islam) memberikan warna khusus dalam membangun watak kebangsaan, antara tradisionalisme dan modernisme. Bahwa saat ini, muncul dan berkembang ekses-ekses negative yang mengarah pada demoralisasi dari segala unsur, mulai dari keluarga, remaja, anak-anak di sekolah, aparat Negara, dan para pengambil keputusan, adalah bagian dari ekses pertarungan budaya tersebut.

Ilustrasi yang kita lihat sehari-hari dalam kehidupan nyata, mimpi para remaja tentang masa depan, kriminalitas yang terstruktur, kemiskinan, konflik social, konflik keluarga, dan konflik individu, adalah fenomena yang yang tidak asing lagi. Dan ujung dari segala masalah ini adalah kompleksitas problema yang bertumpu pada moral, akhlaq dan bangunan karakter yang dinilai gagal oleh bangsa kita.Keluarga modern dengan segala impian dan kemajuan, fasilitas yang dimiliki, ternyata tidak jarang yang berakhir dengan kegersangan dan ketimpangan social. Anak-anak keluarga kelas menengah misalnya, tumbuh dengan kesunyian luar biasa dalam kepribadiannya. Keterasingan di rumah, di sekolah maupun dalam interaksi sosialnya, telah membuat dirinya menjadi generasi “pemberontak”. Apalagi jika ditambah dengan imajinasi kebudayaan televisi, budaya entertainment, dan segala apa pun yang berbau “anak muda” yang bebas, akan membuat bulu kudu kita merinding.

Sementara di wilayah pendidikan kita, belum pernah ada Revolusi Pendidikan yang benar-benar memiliki kekuatan merubah kemunduran dunia didik kita. Segalanya hanya tambal sulam, hanya saling menambal yang kurang, tetapi berakhir dengan kekalahan spirit-dinamis dalam pencerdasan manusia, di tengah-tengah persaingan global dunia.

Kita semua sadari, bahwa kita sedang tumbuh. Ibarat pohon yang sedang ditanam, tanah kita begitu subur, tetapi banyak sekali tangan-tangan yang ikut campur dalam menanam pohon ini, dengan pupuk yang campur aduk pula, akhirnya pepohonan ang kita tanam tumbuh secara sporadic. Bahkan jumlah yang tumbuh sesuai dengan cita-cita penanam, jauh dari bayangan. Kalau tidak banyak yang mati karena penyakit, maka, banyak pula yang tumbuh  seperti “bonsai”.[pagebreak]

Maka suguhan berita di media massa, bahkan dengan mata kepala kita melihat di depan kita, masyarakat kita terutama di perkotaan, bergerak secara sporadic pula. Bagaimana tidak? Berita-berita tentang kebijakan pemerintah, berita artis konyol, berita kriminalitas, penggusuran, kelaparan, kebodohan, buta huruf, kesehatan yang jauh dari harapan, memenuhi menu media sehari-hari secara berimbang. Inilah fakta kehidupan kita.

Sementara ketertiban, disiplin, ketaatan pada hukum, penghormatan satu sama lain dalam sopan santun sehari-hari, penghormatan ada orang tua, rasa kasih saying pada yang lebih muda,  penghormatan pada guru, tiba-tiba serasa sirna.

>Akhlaq bangsa
Setelah era reformasi ada banyak harapan dan impian bangsa kita dari semua level. Namun reformasi tidak menyentuh akar masalah yang sesungguhnya, sekadar menjadi momentum pergantian rezim belaka. Apakah yang terjadi saat ini memang sebuah proses menuju yang baik, atau sebaliknya justru mengalami degradasi.


Yang paling memprihatinkan adalah akhlak bangsa kita, tentunya. Dan yang paling menyentuh rasa di nurani kita, khususnya para pemimpin kita yang menjadi tauladan anak muda, malah meneladankan akhlak yang kurang baik. Sampai-sampai pemberitaan mengenai kriminalitas dari kelas teri sampai kelas berdasi, seperti ditanggapi dengan darah dingin, seakan-akan menjadi kewajaran social belaka.
Kita perlu membangun konsep bersama-sama  tentang akhlaq ini. Darimana, dengan apa, seperti apa, caranya bagaimana, arah dan tujuan karakter seperti apa? Tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab para pendidik, seperti guru, ustadz, Kyai dan Ulama saja, namun juga harus melibatkan seluruh elemen kehidupan, khususnya orang tua.

Bagaimana kita menjadi bangsa dan ummat yang diteladani, menjadi bangsa terbaik diantara bangsa-bangsa yang ada, manakala kita bayangkan bahwa 20 tahun yang akan dating, anak-anak usia remaja kita, mahasiswa kita, yang kelak memegang kendali, pengambil keputusan  dimasa depan?

Coba kita lihat dengan kejernihan hati, apakah anak-anak kita ini mampu? Anak didik kita di sekolah ini mampu? Anak-anak yang sekarang tumbuh remaja dan menjelang dewasa dengan kemampuan pengetahuan dan mentalnya mampu?[pagebreak]

>Doctor akhlak
Disinilah pentingnya diagnosa atas penyakit-penyakit moral bangsa kita. Dan itu harus butuh banyak dokter akhlak yang benar-benar saleh, mengenal anatomi psikhologi bangsa ini, kemudian mampu mengurai benang kusutnya, dan memintal menjadi kain indah, untuk baju kebangsaan kita.

Pendidikan agama benar-benar jadi tuntutan, sekaligus harus jadi tuntunan. Agama harus dijadikan standar penilaian prestasi siswa, karena tanopa pengetahuan agama yang benar, seluruh ilmu pengetahuan seseoerang akan berubah jadi kejahatan moral. Itulah disebut sebagai kebutaan kemanusiaan yang sangat mengerikan.

Bangsa kita harus banyak melahirkan dokter-dokter akhlak. Seluruh lembaga pendidikan, tempat pengajian, keluarga, pesantren, harus dijadikan Puskesmas Moral. Tanpa kita punya keberanian memulainya, kita, secara kolektif akan berdosa semua atas nasib akhlak generasi muda kita.

Tugas para dokter akhlak perlu didiskusikan secara kolektif dengan membentangkan berbagai penyakit moral secara keseluruhan. Pemerintah harus mendukung upaya-upaya dari bawah, karena tanpa instrument dan koridor kebijakannya, upaya-upaya mereka ini akan banyak mengalami kendala. Tetapi pemerintah juga jangan terlalu intervensi atas upaya mulia ini. Cukuplah pihak atau departemen terkait memberikan dukungan besar atas usahan membangun moral bangsa ini.
Sumber-sumber moral dari ajaran agama, dari fatwa para Ulama, kisah-kisah para Nabi, kepahlawanan bangsa kita dahulu, tojkoh-tokoh besar dunia, dan kearifan orang-orang Sufi, sudah banyak dalam tumpukan pustaka kita.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dengan Bismillahirrohmaanirrohim, niat yang ikhlas, keyakinan yang dalam, Insya Allah.!!!

Read 3110 times Last modified on Monday, 08 December 2014 16:51

Leave a comment