×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Ada Apa dengan Cinta

Drs. Cholisuddin Yusa, 45 thn - Pimpinan Yayasan Tebar Iman Jakarta
Cinta adalah indah. Keindahannya melebihi warna pelangi. Dan cinta adalah semerbak. semerbaknya melebihi wangi sekuntum melati atau aroma kesturi. Keindahan dan

keharuman inilah yang telah membuat para pecinta untuk mempertautkan hati dan rasa.

Begitulah Cinta, ketika kedua mata bertemu saling menatap pada sang pujaan, tubuh lunglai bagai gumpalan-gumpalan salju yang melumer tersengat terik mentari. Berjuta kerinduan sirna dengan pertemuan sesaat, lalu sukma tak kuasa menahan vibrasi jiwa.

Begitu pula dengan Cinta seorang hamba pada Tuhannya, ia bukan datang dari jenis kejadian yang bernama "keterjebakan" yang menggelar jalan para pecinta untuk meluncurkan kekaguman dan berakhir pada ketertarikan, bukan. Kidung cinta-Nya dapat datang pada taman hati setiap hamba yang Ia kehendaki, tanpa dibatasi ruang atau waktu.

Karenanya, dalam Kamus Cinta-Nya tak dikenal istilah "Cinta Buta" atau "Korban Cinta", sebab ketika seorang hamba dapat mencintai-Nya, cinta itu bukan cinta si hamba melainkan cinta-Nya pada-Nya. Saat itu, hamba selaksa Cangkir yang dituangkan air. Air itu milik tuannya, bukan milik si Cangkir.

Jika setangkai Cinta dapat melahirkan kata-kata "Cinta Buta" atau "Korban Cinta" pastilah ia bukan cinta, tapi nafsu yang berselimut dan mengatasnamakan Cinta. Cinta yang demikian pasti bakal mewariskan kebutaan dan korban serta luka dari patahan-patahan hati. Duhai para penempuh Cinta, ketahuilah bahwa Cinta Allah itu tidak bisa dideskripsikan, dijelaskan dan dibatas-batasi kecuali dengan Cinta itu sendiri

Lalu bagaimana tasawuf mendudukan persoalan Cinta ? Dalam percintaan dengan Allah, seorang muslim harus memiliki Pertapaan, tapi apa yang dimaksud Rasulullah Saw dengan Pertapaan bagi seorang Muslim ? Berikut wawancara Ramly Izhaque dari Cahaya Sufi bersama Ust. Drs. Cholisuddin Yusa', Ketua Yayasan Tebar Iman Jakarta, usai memimpin majelis dzikir di Masjid Jami' Adz-Dzikra, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu:

Ketika seseorang secara materi berkecukupan, rumah ada (tak lagi ngontrak), prestasi melimpah ruah dan anak-anak sudah sukses (setidaknya dapat mandiri), prestasi atau karier apa yang perlu diraih nya lagi ? CINTA

Ada apa dengan cinta ?
Pertama, dengan cinta kita dapat mencintai pasangan hidup kita, kita dapat mencintai anak-anak kita, kita dapat mencintai keluarga kita dan kita dapat mencintai sesama, kita dapat mencintai Allah dan mencintai Rasulullah. Ini (cinta) lah yang harus kita upayakan. Saya fikir, kita tidak mungkin dicintai oleh orang lain, kecuali kalau kita benar-benar mencintai orang lain. Begitu juga, kita tidak mungkin dicintai Allah kalau kita tidak mencintai Allah.

Kedua, ketika kita bisa mencintai dan dicintai, itu bentuk prestasi ruhani yang paling bagus.

Melihat penjelasan Anda, saya tergerak untuk mengatakan bahwa cinta itu hakekatnya kata kerja, bukan melulu kata benda ?
Iya, saya setuju itu, sebab dalam cinta ada feedback langsung yang bersimbiosis. Ibarat kaca, kalau kita bercermin ditempat yang terang, maka kita akan tampak. Kalau bercermin ditempat yang gelap maka kita enggak akan tampak. Begitu juga disaat kita mencintai dengan cinta yang benar-benar terang, ketika orang melihat cinta kita, orang akan terus merespons. Hal ini senada dengan hadist Rasulullah yang menyebutkan, "Man ahabba liqaa Allaahi ahabballaahu liqaa-ahu, wa man lam yuhib liqaa Allaahi lam yuhibbillaahu ta'aala liqaa-ahu; Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barangsiapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya."

Idealnya seperti apa sich cinta yang harus kita miliki ?
Cinta yang kita miliki idealnya seperti cinta yang dimiliki Rasulullah Saw. Cinta Rasulullah kepada Allah benar-benar asyaddu hubban lillaah. Jadi, kita tidak perlu meragukan cinta Rasulullah kepada Allah.

Cinta Rasulullah kepada umatnya, disamping Rasulullah sangat dermawan, Rasulullah juga sangat perhatian kepada ummatnya dalam hal kesejahteraan materi, ilmu dan iman sahabat-sahabatnya. Hampir setiap malam Rasulullah menangisi umatnya dihadapan Allah, sampai-sampai Allah enggan mengadzab orang-orang kafir ketika Rasulullah ada didalamnya.

Kenapa bisa terjadi Allah enggan mengadzab orang-orang kafir disaat Rasulullah berada ditengah-tengah mereka ?
Hampir tiap malam juga, Rasulullah meminta sambil menangis kepada Allah agar umatnya yang belum mendapat hidayah diberi-Nya hidayah. Hal inilah yang membuat Allah "malu" mengadzab orang-orang kafir disaat Rasulullah ada ditengah-tengah mereka.


Terhadap orang kafir pun Rasulullah mendo'akan mereka?
"Allahummahdi qowmiy fainnahum laa ya'lamuun, Ya Allah berilah hidyah kepada kaumku sebab sesungguhnya mereka belum mengetahui." Itu do'a Rasulullah yang paling terkenal untuk orang-orang kafir, saat Rasulullah diperlakukan secara tidak manusiawi oleh orang-orang kafir negeri Thaif hingga menyebabkan gigi Rasulullah patah dan berdarah-darah. Tapi….

Tapi apa ?
Teladan cinta yang sudah Rasulullah contohkan saat ini seolah sirna, meski tidak samasekali. Umumnya kita, umat Islam, peduli terhadap sesama hanya pada saat berdoa saja, Allahummaghfir lilmuslimiina wal muslimaat, walmukminiina walmukminaat, al ahyaa iminhum wal-amwaat, Ya Allah beri ampunan-Mu kepada muslimin lelaki dan perempuan, kepada mukmin lelaki dan perempuan baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Nah dalam kenyataannya, kepedulian kita terhadap sesama berhenti sampai disini. Umumnya kita, umat Islam, mau membantu sesama saudara muslim hanya kepada mereka yang satu parpol, satu ormas, satu majelis ta'lim atau satu lembaga tarekat saja. Itu kepedulian kita, umat Islam terhadap sesama Muslim. Kepedulian kita, umat Islam, terhadap non Muslim, saya kira anda sendiri sudah bisa membayangkan, betapa telah jauh dari apa yang telah diteladankan oleh Rasulullah Saw.

Dimana letak keistimewaan Cinta seorang hamba kepada Allah?
Cinta seorang hamba kepada Allah adalah cinta Allah kepada hamba-Nya. Ia adalah kehendak-Nya untuk memparipurnakan limpahan rahmat-Nya pada hamba yang dicintai-Nya. Jika rahmat-Nya diberikan kepada hamba-hamba Nya secara umum, tidak demikian dengan Cinta.

O, jadi ketika seorang hamba dapat mencintai Allah, sebenarnya yang "bekerja" itu bukan Cinta si hamba, begitu?
Yang harus kita sepakati dan kita pegang kuat-kuat adalah bahwa Allah itu bersifati qiyaamuhu binafsihi, Allah itu Maha Sendiri dan Maha Mandiri. Kebijakan-Nya tak bisa dipengaruhi oleh apa dan siapapun juga termasuk oleh doa, dzikir dan wirid hamba-hamba Nya. Seperti yang dikatakan Syeikh Imam Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah, bahwa Cinta si hamba kepada Allah bukan bentuk dari kecenderungan manusiawi. Kemandirian dan Kesendirian Allah itu suci, terbebas dari segala bentuk sentuhan dan pemahaman. Begitu juga dengan Cinta Allah, ia tidak bisa dideskripsikan, dijelaskan dan dibatas-batasi kecuali dengan Cinta itu sendiri.

Jika demikian, keberadaan cinta-Nya, apa lantas seseorang tidak boleh mengharap Cinta-Nya kepada Allah?
Pengharapan setiap hamba kepada Allah itu satu keharusan, dalam hal apapun termasuk berharap cinta-Nya. Akan tetapi memaksa Allah mewujudkan harapan hambanya itu tindakan yang biadab ![pagebreak]

Tapi kutipan Anda dari Syeikh Imam Qusyairi menyebutkan bahwa Cinta Allah, ia tidak bisa dideskripsikan, dijelaskan dan dibatas-batasi kecuali dengan Cinta itu sendiri, bagaimana ini?
Karena memang begitulah Cinta-Nya. Untuk itu, masih mengutip Imam Qusyairi, menggambarkan si pecinta sebagai yang musnah dalam Sang Kekasih adalah lebih tepat dari pada menggambarkannya sebagai memperoleh bentuk simpati pada-Nya.

Apa tips agar kita dicintai Allah ?
Agar kita dapat dicintai Allah, kata Rasulullah, "Fattabi'uuniy, ikuti langkahku. Yuhbibkumullah, Allah bakal mencintaimu."

Implementasinya ?
Kata Rasulullah, pertama, "'Alaika bitaqwallaah fa-innahu jummaa'u kulli khairin; Engkau harus mempunyai ketaqwaan kepada Allah, karena ketaqwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan." Orang yang memiliki taqwa pakaiannya akan indah dilihat mata, tutur katanya indah didengar dan pergaulannya nyaman dirasa. Orang yang memiliki taqwa kebutuhan hidupnya didasari oleh kebutuhan bukan keinginan dan ia cerdas memilah dan memilih mana halal mana haram, mana haq mana bathil.

Yang kedua, kata Rasulullah, "Wa'alaika bil jihaadi fa-innahu ruhbaniyyatul muslimi; Engkau harus melakasanakan jihad, karena jihad adalah pertapaannya kaum Muslim."

 

Jihad macam apa ?
Secara global jihad juga bisa diartikan qital atau perang fisik. Tapi menurut hemat saya, jihad dalam konteks ini adalah jihad dalam rangka berupaya untuk menegakkan taqwa agar dicintai Allah; jihad yang menebar rahmah (kasih sayang) baik untuk dirinya maupun untuk lingkungannya, hal ini mengingat karakteristik Islam sebagai agama cinta kasih untuk semesta alam. Jadi, jihad yang membuat bersangkutan untung dan menjadikan orang lain buntung, itu bukan jihad namanya sebab sudah keluar dari konteks rahmatan lil 'alamiin (menjadi kasih untuk semesta alam).


Jihad menjadi pertapaan kaum Muslim, apa maksudnya?
Barusan sudah saya katakan bahwa jihad yang kita maksudkan adalah jihad dalam rangka berupaya untuk menegakkan taqwa agar dicintai Allah. Menegakkan taqwa maksudnya menegakkan karakteristik orang-orang yang bertaqwa seperti yang ada dalam surat al-Baqarah ayat tiga, yaitu: Pertama, keimanan kepada ghaib. Kedua, pengabdian kepada Allah Swt (shalat lima waktu salah satunya). Ketiga, pengkhidmatan kepada sesama manusia. Keempat, percaya kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah Saw dan nabi-nabi sebelumnya. Kelima, iman kepada hari kiamat.

Nah, kalau orang-orang non muslim ada yang bertapa di Gua, di Kuil atau Vihara, kita, umat Muhammad Saw bertapa di kelima hal karakteristik orang-orang yang bertaqwa. Ini sangat relevan sekali dengan semangat terutusnya Islam sebagai rahmah untuk alam semesta (lil 'aalamiin). Nah, ini yang dimaksud dengan jihad sebagai pertapaanya kaum Muslim.

[pagebreak] Lantas?
Tips ketiga agar kita dicintai Allah, kata Rasulullah Saw, "Wa-'alaika bidzikrillaahi fa-innahu nuurun laka; Hendaknya engkau berdzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu." Nah disamping ketenangan qalbu yang didapat, dengan dzikir kita akan semakin dekat dan dekat kepada Cahaya diatas Cahaya, yakni Allah Swt. Tiga tips diatas menjadi lantaran seseorang mendapatkan cinta Allah Swt.

Dzikir menjadi cahaya?
Di negeri ini dzikir dan lembaga-dzikir tumbuh seperti jamur di musim hujan. Mulai dari mushalla beratap gedek sampai masjid sekelas Istiqlal semua mengadakan dzikir, mulai dari lapangan alun-alun Kabupaten sampai silang Monas Jakarta mengumandangkan dzikir, tapi kenapa negeri ini senantiasa diselimuti gelap dan musibah tiada henti menghajar anak-anak negeri dan bangsa ini ?

Pertamakali yang saya harus tegaskan adalah bukan salah dzikirnya ! Selebihnya dzikir itu sebenarnya hanya untuk Allah semata, tidak terselip didalamnya kepentingan Ujian Nasional, Pilkada atau memenuhi hasrat entertainment. Dzikir juga bukan mantra-mantra. "Fadzkuruuniy adzkurkum, niscaya Aku akan dzikir kepadamu," begitu firman Allah. Kalau kita berdzikir, memang (Dzikirlah kepada-Ku) itu yang Allah pinta pada kita dan setiap hamba-Nya. Kalau kita berdzikir, memang sudah seharusnya dzikir harus benar-benar dilandasi lillaahita'ala, karena Allah semata.

Dan Anda sudah bisa menilai apa jadinya jika dzikir dipimpin oleh ustadz atau kiyai atau ulama yang penampilannya melebihi style seorang artis. Yang pasti, dzikir yang demikian ini jauh dari idzaa dzukirallaah wajilat quluubuhum, apabila disebut nama Allah hati mereka bergemuruh. Semoga yang demikian (kering) ini dzikir saya saja, bukan mereka karena itu saya tidak bisa tayang di stasiun televisi.

Wah, malah saya mendoakan Anda agar tidak masuk televisi, agar dapat isitiqomah membina ummat di stasiun Allah !?
O, begitu !? He….he….he…..doain saya ya agar bisa istiqomah.

Read 4127 times Last modified on Monday, 08 December 2014 16:51

Leave a comment