×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 42

Menyampaikan Islam yang indah dan Damai

Nanang Qosim Yusuf, 28 th - Master Trainer Muda Berbakat
Meski kosa kata sufisme atau tasawuf tidak dikenal di periode awal Islam, namun jalan Sufi sudah diajarkan Nabi Muhammad Saw kepada para sahabat sebagai sarana guna

mencapai kebenaran dan menggapai kedekatan kepada Allah 'Azza Wajalla. Betapa Nabi Agung itu ditengah gairah membangun masyarakat yang berperadaban, kepada para sahabat, tak ketinggalan memberi teladan dan menganjurkan mereka untuk zuhud, wara', ridha, dzikir dan lain sebagainya yang pada perkembangan Islam berikutnya, terutama di-era tabi'ittabi'iin menjadi popular dan "trade mark" bagi para Sufi, para penempuh jalan spiritual.

Sebut saja misalnya, wara' . Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. mengatakan, "Kami dahulu selalu meninggalkan tujuhpuluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang haram."

Surat yang ditujukan Umar bin Khaththab kepada Abu Musa al-Asy'ary membuktikan betapa ridha sudah menjadi bagian dari kehidupan Islam generasi pertama. "Ammaa ba'du… Bahwa segala kebaikan terletak di dalam keridhaan. Maka jika engkau mampu, jadilah orang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar," begitu tulis putera Khaththab.

Sayyidina Ali KW ketika menjelaskan zuhud, sahabat yang sekaligus sepupu Rasulullah Saw ini menautkannya pada dua kalimat dalam al-Quran Al-Hadiid (QS:57) ayat 23: "Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu," (QS. Al-Hadid (57):23).

Ibnu Khaldun pernah mengungkapkan bahwa tasawuf sebagai jalan untuk meraih kebenaran dan hidayah merupakan perilaku moral serta penerapan realitas pada ruh syari'at dan adab-adabnya telah dijumpai dan dikenal di kalangan generasi salaf seperti para sahabat nabi, para taabi'iin, dan taabi'ittabi'iin.

Begitulah tasawuf menjadi media edukasi Islam terhadap individu dan masyarakat yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya serta para murid mereka dari generasi taabi'iin. Tasawuf dalam pendidikan Islam telah menjadi semacam objek kebaikan yang berkelindan seperti yang dilansir Nabi Saw dalam hadits shahihnya, "Sebaik-baik zaman adalah zaman dimana aku hidup, kemudian zaman orang-orang setelahku, dan kemudian zaman orang-orang yang mengikuti mereka."

"……zaman orang-orang yang mengikuti mereka" itulah yang kemudian diterjemahkan oleh Nanang Qosim yusuf sebagai Zaman Kebijaksanaan ditengah kehidupan masyarakat moderen yang mengalami dis-orientasi dan mengidap sejenis penyakit jiwa split personality. Hadits Rasulullah itu juga yang meng-ilham-i nya untuk menulis sebuah buku The 7 Awareness.

Lantas, apa yang menarik dari Naqoy, begitu Nanang Qosim Yusuf biasa disapa, dan buku The 7 Awareness nya itu ?

Yang menarik dari Naqoy, meski ia terlahir dari keluarga yang secara materi sangat berkekurangan namun keluarga dan kedua orang tuanya (yang buruh tani) telah mengajarkannya bagaimana belajar memahami kehidupan; mencoba menjadi manusia seutuhnya; menjadi hamba Tuhan dengan penuh keikhlasan.

Pesantren tempatnya melanjutkan study selepas SD, merupakan pondok pesantren salafiyah yang masih menggunakan sistem pendidikan konvensional (sorogan dan bandongan), disamping Naqoy belajar ilmu fiqh dan tasawuf, dipesantren yang telah berusia ratusan tahun itu ia akrab dengan ritual-ritual tarekat. [pagebreak] Ketika mengambil gelar sarjana S1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, karena keterbatasan finansial, ia tak mampu ngekost seperti layaknya mahasiswa rantau. Ia tinggal di masjid Fatahillah yang letaknya tidak jauh dari kampus dan Naqoy menjadi merbot, cleaning service, (setelah gagal menjadi kandidat muadzdzin) disana. Meski demikian, di masjid itu ia banyak mendapat bimbingan dari Prof. DR. Nazarudin Umar, seorang intelektual yang penguasaannya terhadap tasawuf dan Dunia Sufi telah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Malah dikemudian hari, Naqoy bersama Prof. DR. Nazarudin Umar membangun lembaga ICNIS, sejenis lembaga kajian psikologi dan ke-islaman yang pesertanya dari berbagai lapisan masyarakat dan beragam agama dan keyakinan.


Jika dari konflik umumnya melahirkan kemenangan satu pihak dan kekalahan di pihak lain, dari riset dan uji coba yang tenang menemukan temuan baru, dari perjuangan hidup yang rutin memunculkan keberhasilan yang gemilang. Dan Naqoy telah meraih buah dari perjuangannya menelan "pil pahit" kehidupan yang telah menjadi bagian hidupnya yang tak terpisahkan sebelumnya. Selesai merampungkan S1, ia mendirikan, dan menduduki posisi direktur, PT. Soul Age Education Training Center sebuah lembaga yang mengembangkan training The 7 AWARANESS, yang alumni traningnya sudah mencapai dua ribuan lebih sejak tahun 1994.

Lalu apa yang menarik dari buku The 7 AWARANESS yang ditulis Naqoy ? Dilihat dari proses, buku yang mengupas 7 Kesadaran Hati dan Jiwa Menuju Manusia Di Atas Rata-Rata ini, merupakan bagian dari "rekaman" jejak perjalanan Naqoy. Ya, Naqoy si mahasiswa kere, yang karena ke-kere-an nya sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman sesama mahasiswa (terutama mahasiswi), yang karena ke-kere-an nya tak memiliki kesempatan untuk terlibat aktif di organisasi kemahasiswaan baik intra maupun ekstra kampus.

Meski demikian, ke-kere-an itu pula yang memberi Naqoy kesempatan untuk banyak belajar, terutama pada Prof. DR. Nazarudin Umar dan (alm.) Prof. DR. Nurcholis Madjid, sampai akhirnya ia dipercaya menjadi asisten dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lalu sering mendapat undangan ceramah, menjadi pembicara pada pertemuan-pertemuan ilmiah, dan The 7 AWARANESS sebagian besarnya bersumber dari makalah-makalah yang ditulis Naqoy yang "di racik" bersama catatan-catatan refleksinya selama dirinya berada pada masa-masa kesunyian dan kesendirian yang menggigilkan. Begitulah The 7 AWARANESS ditinjau dari sisi proses kemunculannya.

Sedang dilihat dari sisi substansi, The 7 AWARANESS meski banyak menyebutkan hal-hal yang bersifat teoritis, namun jika ditelisik lebih dalam lagi, hal-hal yang teoritis itu sungguh sarat dengan spirit sufisme. Bisa juga dikatakan bahwa The 7 AWARANESS banyak mengurai teori tasawuf praktis yang ditransformasikan dalam bentuk teori yang bersifat spiritual dengan penggunaan bahasa enterpreuneurship. Sebut saja misalnya, untuk memudahkan pembacanya mencerna paradigma al-insan al-kamil, The 7 AWARANESS memilih istilah "Manusia Di Atas Rata-Rata", untuk mengantarkan pembacanya memahami konsep Tasyakkur, The 7 AWARANESS memilih kata-kata apresation of live.

The 7 AWARANESS mengajak para pembacanya untuk meyakini bahwa dari kedalaman lubb, ketinggian ruhani, pancaran qalbu, merias diri dengan kemuliaan akhlak adalah satu kebutuhan yang harus dimiliki masyarakat moderen yang sering tak kuasa menghadapi kompleksitas ironi-ironi yang bermunculan.

Terpenting dari itu semua, Naqoy dengan The 7 AWARANESS nya mencoba mengetuk pintu kesadaran setiap kita bahwa Allah, yang sesungguhnya, kehadiran-Nya amat sangat diperlukan oleh seluruh penghuni bumi ini dan se-isinya. Naqoy ingin membagi peta rahasia "mutiara" bagi para pencari kesadaran dan perindu kesuksesan. Ia juga mempersembahkan sya'ir bagi setiap pecinta sejati dan menawarkan petunjuk bagi mereka yang tengah menuju jalan keagungan. [pagebreak] Jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa Sufi ada dimana-mana dan roh sufisme pun dengan sendirinya menyebar pula dimana-mana, sepertinya Naqoy satu di antara sekian banyak trainer yang ditaqdirkan Allah untuk membawa pesan-pesan sufistik. Atau juga kita bisa mengatakan, sepertinya Naqoy satu di antara sekian banyak Sufi yang ditaqdirkan Allah menjadi seorang trainer. Wallaahu a'lam !

Kepada Ramly Izhaque, dari Cahaya Sufi, Naqoy memapar pandangan-pandangan sufisme nya, terutama pandangan sufisme yang ia tuangkan dalam buku, The 7 AWARANESS, yang ditulisnya. Berikut petikannya:

Pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam The 7 AWARANESS yang anda tulis ?
Saya ingin menyampaikan Islam yang indah, yang damai, yang tidak dengan mudah menghakimi orang lain dan itulah misi sufisme !

O, ya ?
Iya !
Ditengah para da'i dan para ulama pop, khususnya, (termasuk beberapa motivator & trainer) mengibarkan bendera "Islam Damai" sambil malu-malu mengatakan bahwa apa yang dikibarkan mereka sebenarnya adalah ajaran-ajaran para Sufi, tapi tanpa sungkan-sungkan Anda mengatakan bahwa pesan yang Anda bawa (melalui The 7 AWARANESS) berasal dari ajaran-ajaran para Sufi Agung, apa Anda tidak khawatir di cap sesat dan bid'ah?

Kita dudukkan masalahnya terlebih dahulu. Atas dasar apa mereka yang beranggapan bahwa tasawuf itu bid'ah dan sesat? Umumnya mereka yang mengatakan tasawuf itu sesat dan bid'ah, mereka hanya sepenggal saja memahami Islam, tidak utuh. Mereka memahami Islam hanya sebatas kulit luarnya semata, syari'at semata. Tidak sedikit memang saudara-saudara kita yang mengerti syari'at tapi awam akan ma'rifat. Tidak sedikit pula saudara-saudara kita yang getol ibadah ritual, tapi kosong kesadaran spiritualnya. Nah untuk menjawab problem ini tasawuf-lah jawabannya. Dan saya mengemasnya dalam The 7 AWARANESS.


Jika sasaran Anda spiritual, bukankah sebelum Anda sudah ada Menejemen Qalbu dan Kecerdasan Spiritual (ESQ) ? Lantas, apa bedanya ?
Anda benar ! Dan training-training yang bersifat spiritual, sekarang ini luar biasa banyaknya, termasuk dua lembaga yang Anda katakan tadi. Semua mereka masih berkutat muter-muter soal Kecerdasan Spiritual. Menejemen Qalbu perhatiannya hanya sebatas qalbu dan Kecerdasan Spiritual yang dimaksud oleh ESQ sebenarnya adalah God Spot yang menempati noe cortex yang masih berada pada area penting otak semacam Lobus Frontal (berada tepat dibelakang kening; yang melahirkan perencanaan kedepan dan pengurutan ide-ide; red.), Lobus Parietal (persis di tengah kepala sedikit kebelakang; yang menerima dan mengolah informasi indrawi dari tubuh; red), Lobus Temporal (terletak dibagian bawah depan; berkaitan dengan memori, emosi, pendengaran dan bahasa) dan Lobus Oksipital (terletak dibagian belakang kepala yang berkaitan dengan penglihatan; red).

Lantas bagaimana dengan qalbu ?
Gini loch, Mas. Hati kita itu jika di ibaratkan sebuah bangunan rumah yang didalamnya terdiri dari pintu (shadr), ruang tamu (qalb), kamar pribadi (fuad) dan lemari yang menyimpan kotak (mutiara) kecil (lubb). Saya meng-i'tibarkan Pintu Rumah sebagai ash-shadr atau dada. Tangga pertama sebelum seseorang menyentuh hati adalah dada (shadr). Jadi semua orang bisa menyentuh tangga pertama ini. Coba Anda perhatikan daun pintu rumah anda, hampir semua orang bisa melihat, memegang dan membukanya. Dan inilah tangga kwalitas hati yang pertama, namanya shadr atau dada.

Shadr atau dada adalah kualitas hati terendah sehingga apabila seseorang keyakinan hatinya masih dalam tahap ini, ia sangat labil bahkan cenderung tidak mau masuk karena takut akan resiko-resiko. Bisa jadi, orang yang baru sampai pada tahapan ini masih belum memiliki keyakinan, mungkin hanya sebatas "suka". Meskipun ada keyakinan, paling banter cuma 1% saja ia ada. Umum nya orang yang masih dalam tahapan ini masih NATO, No Action Talk Only !, he…he..he...he..

Adapun qalbu, saya menggambarkannya seperti Ruang Tamu Rumah Kita. Qolbu sudah sudah masuk lebih dalam dari shadr. Umumnya ketika orang akan masuk ke ruang tamu rumah kita, kita akan menyeleksinya. Seorang yang masih berpijak pada tataran qalbu masih terbuka kemungkinan untuk tercuri oleh impian-impian, terkadang yakin terkadang pula ragu, terkadang sayang terkadang juga benci, begitu yang terjadi. Itulah mengapa ia disebut Qalbu yang berarti "bolak-balik". Tapi ini masih lebih baik ketimbang orang yang masih berhenti pada tataran shadr diatas. Kalau saja seseorang sudah berdiri di tataran shadr, kemudian ia mampu menjaga kualitas shadr nya, ia akan dapat naik pada tahapan yang lebih tinggi dan menemukan keyakinan yang lebih tinggi pula.

Bagaimana dengan Kamar Pribadi dan Kotak Kecil dalam Lemari itu ?
O, iya. Fuad adalah elemen hati yang ketiga, dialah hati yang kokoh, sulit ditipu dan di curi impiannya. Batinnya pun sudah kuat. Fuad itu seperti halnya kamar pribadi yang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memasukinya. Kalau qalbu anggota keluarga yang lain masih dimungkinkan masuk, sedang fuad hanya orang khusus saja yang bisa memasukinya. Seseorang yang memiliki kualitas hati fuad maka ia hanya fokus pada impiannya, ia sangat sabar dalam merealisasikan impiannya, dan sangat teguh pada keyakinannya. Keyakinan seseorang yang sudah sampai pada maqam ini keyakinannya sudah 70%:30%.

Berikutnya adalah kualitas hati seseorang yang paling tinggi. Di dalam kamar Anda, ada lemari dan didalamnya ada sebuah kotak. Ketika anda membuka kotak itu, Anda melihat mutiara didalamnya sangat indah bercahaya, bersinar menyapa wajah Anda, menarik untuk dilihat, dan itulah lubb.

Manakala seseorang sudah memiliki kualitas lubb, maka ia memiliki keyakinan 100% ; yakin Tuhan bersamanya. Tidak ada complain, marah atau benci. Yang ada hanya Allah dan cinta. Siapapun Anda yang sudah mencapai tahap ini selalu dibimbing, dijaga, dan diangkat oleh-Nya, sehingga dalam hidup Anda menjadi orang yang bermakna dan berguna buat banyak orang. Tiada hari bagi orang yang memiliki kualitas hati macam ini selain bersama Allah dan cinta. [pagebreak]

Anda melihat qalbu dan kecerdasan spiritual masih pada dataran syari'at, "kulit luar", begitu ?
Jelas sekali, keduanya masih berada diwilayah "ruang tamu" yang dapat saja tamu yang datang itu memang tamu yang baik dan tidak menutup kemungkinan tamu yang tak diundang pun akan menempati "ruang tamu" itu. Qalbu dan kecerdasan spiritual masih dari jenis "badan kasar". Pelatihan atau pengajian yang membidik qalbu dan kecerdasan spiritual yang selama ini berlangsung sebenarnya adalah "badan kasar" yang tengah mempelajari spiritual, dan bukan makhluk spiritual yang dikenalkan atau disadarkan kembali spiritualitasnya. Sehingga yang didapat umat, jamaah atau peserta pelatihan hanya sebatas pengalaman beragama saja, dan bukan kesadaran beragama yang di raih. Padahal disamping pengalaman, kesadaran beragama jauh lebih dibutuhkan ummat. Pengalaman beragama one some day dapat saja hilang tertelan waktu, sedang kesadaran spiritual adalah sesuatu yang kokoh bercokol menjadi landasan aktifitas dan kreatifitas yang bersangkutan.

Apa salahnya dengan qalbu dan kecerdasan spiritual ?
Tidak ada yang salah pada keduanya. Tapi problem bangsa ini cukup lumayan terbantu ketika umat dan individu komponen bangsa ini benar-benar dihantarkan pada kesadaran man 'arofa nafsah faqod 'arofa robbah, mengenal diri sekaligus mengenal Tuhannya. Bagaimana seseorang dapat mengenal Tuhannya kalau terhadap dirinya sendiri ia tak mengenal. Bagaimana seseorang dapat mengenal dirinya sendiri jika hanya diajak berkutat pada persoalan kulit luar beragama.

Tapi qalbu itu sendiri bagian yang tak lepas dalam praktek sufisme ?
Benar, dan seperti yang sudah saya jelaskan, kwalitas hati itu tidak cuma qalbu, disana ada shadr, fuad dan lubb. Iya toch ?


Lantas apa yang Anda kenalkan pada umat atau audience ?
Seperti yang sudah dijalankan oleh para Sufi Agung, seperti Al-Gazali atau As-Sakandari dan yang lainnya; menghangatkan kembali kesadaran perjanjian primordial saat kita berada di alam azal; ketika Allah Swt bertanya pada kita, "Alastu Birobbikum ?, Apakah Aku ini Tuhan-Mu ?" Kalau bicara kesadaran spiritual kita kembali kepada perjanjian primordial diatas. Lalu kitapun memberi kesaksian, "Balaa Syahidnaa, Ya. Kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami."

Dari sini harusnya kita menyadari bahwa kita ini makhluk spiritual yang sedang mendiami badan kasar, bukan badan kasar yang sedang belajar spiritual. Kesaksian itu juga membawa niscaya pada kita, dimanapun dan dalam kondisi apapun, kita seharusnya connect terus kepada Allah. Kesadaran, a waraness untuk selalu connecting pada-Nya macam ini yang sekarang menjadi sesuatu yang langka ditengah masyarakat kita.

Untuk itu Anda menulis The 7 AWARANESS; 7 Kesadaran Hati dan Jiwa Menuju Manusia Di Atas Rata-Rata ?
He..he..he… Tidak sekedar itu koq. Semua berangkat dari tanggung jawab kita dihadapan-Nya.

Dimana ruang kesadaran yang Anda maksudkan berada?
Dari segi etimologi jelas sekali perbedaan antara cerdas dan sadar. Cerdas itu dekat dengan otak, sedang kesadaran ada pada ranah lubb. Dengan tetap memperhatikan aspek shadr, qalbu dan fuad, saya menukik langsung bagaimana masuk ke ranah lubb, sebab disanalah letak sebuah kesadaran spiritual.

Dalam studi tasawuf yang lebih dalam lagi, saya katakan, pada lubb itu ada mahabbah atau cinta. Bagi para sufi, jika seseorang masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, maka dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan, dia tidak dapat mencintai Tuhan.

Al-Qusyairi juga pernah mengatakan, "mahabbah adalah penghapusan sifat-sifat yang mencintai dan penetapan yang dicintai (Allah) dengan dzat-Nya." Bila hati telah dipenuhi rasa cinta yang menjadi "buah" dari lubb, maka segala sesuatu dari-Nya, akan terasa indah dan ringan.

Perintah dan larangan-Nya tidak dirasakan sebagai beban yang memberatkan. Seseorang yang sudah sampai pada kwalitas lubb akan menerima dengan sepenuh hati semua yang berasal dari Tuhan; mentaati dan menerima segala sesuatunya merupakan kenikmatan tersendiri yang tak dapat di ukur dengan apapun. Orang ini dapat menikmati setiap episode kehidupan, baik dalam keadaan senang, maupun keadaan sulit. Dalam senang dan sulit orang ini juga memberikan yang terbaik, tidak saja untuk dirinya sendiri tapi juga kepada orang lain.

Hanya saja memang tugas kita adalah menyampaikan, memotivasi dan memberi tahu kepada saudara-saudara kita bahwa keindahan dan cinta Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya. Kita berharap mereka akan berusaha meraihnya, meski untuk itu, mereka harus menghilangkan sifat-sifat mereka. Sehingga dengan cara demikian mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud dan kwalitas lubb pun dapat terjaga. [pagebreak] Apa Anda juga menerapkan semacam riyadhah, seperti yang kita kenal dalam Dunia Sufi ?

Oleh karena untuk mencapai lubb dibutuhkan usaha yang tekun, saya juga menerapkan apa yang di dalam tarekat disebut dengan suluk. Hanya saja, guna memudahkan pemahaman, saya menguraikannya dengan istilah-istilah meditasi, kontemplasi, tafakkur, tadabbur dan tasyakkur, yang kesemuanya itu kita lakukan dengan silent atau diam.

Dengan begitu, bisa dikatakan juga dong bahwa kelima uraian istilah itu juga merupakan metode perjalanan spiritual ?
Persis sekali ! kelima hal itu juga menjadi metode perjalanan berbagai keadaan dan kedudukan, sama seperti suluk dalam dunia tarekat. Jika para Ulama Sufi menyandingkan suluk dengan sebuah hadits qudsi yang berbunyi, "Sungguh, Aku (Allah Swt) menginginkan mereka lebih dari mereka menginginkan Aku," di termin-termin meditasi, kontemplasi, tafakkur, tadabbur dan tasyakkur saya selalu menyampaikan disinilah Tuhan selalu berbicara dan ditempat ini pula Anda selalu mendengar. Dari sini pula akan terbit ketulusan dan kesadaran hati nurani yang menjadi modal utama dalam menghadapi setiap episode kehidupan. Dari sini juga akan lahir knowledge dan wisdom.

Knowledge dan wisdom macam apa ?
knowledge dan wisdom yang mengantarkan seseorang lebih dekat (menyatu) pada Tuhan; yang memberinya cara untuk menghadapi kehidupan yang sejati; yang membebaskannya dari impian dan khayalan-khayalan; yang tidak cuma mencerdaskan dan memandaikan akalnya, tapi juga membuat cemerlang kata hati dan mata hatinya; yang tidak membuat kita seperti seorang bijak, pada cerita Rumi, yang memiliki pengetahuan tapi kehilangan kebijaksanaan; menghantarkan kita menjadi seorang perindu yang senantiasa berujar, seperti munajat As-Sakandari, "Kasih, satukan aku dengan-Mu lewat pengabdian yang mengantarkan aku sampai pada-Mu."

Read 3856 times Last modified on Monday, 08 December 2014 16:51

Leave a comment