Tiga Akhlak Tercinta

Dalam sebuah riwayat, Jabir bin Abdullah membuatkan makanan untuk Rasulullah Saw,  lalu berkumpullah para sahabat Rasulullah Saw; disana ada Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum. Lalu mereka saling berdiskusi mengenai  ketaatan kepada Allah dan RasulNya, hingga Abu Bakr ash-Shiddiq mengatakan:

“Sesungguhnya aku diberi kecintaan  di dunia ini tiga hal wahai Rasulullah: Menafkahkan hartaku padamu; bermajlis di hadapanmu dan banyak membaca sholawat untukmu.”

Lalu Umar ra, menyahut:

“Kalau aku diberi rasa cinta di dunia ini tiga hal pula: Memuliakan tamu; puasa di musim panas dan perang dengan pedang erhunus di sisi Rasulullah Saw.”

Kemudian Utsman ra,  berkata:

“Kalau aku diberi rasa cinta di dunia ini tiga hal pula: Memberi makan orang; menebar salam dan sholat malam ketika manusia sedang tidur.”

Dan Ali ra, pun berkata seperti itu. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Dan aku diberi kecintaan di dunia kalian  in, tiga hal: Menikahi wanita; memakai parfum dan dijadikan pada matahatiku sejuk di dalam sholat.”

Lalu Jibril as turun, dan berkata:

“Aku juga diberi kecintaan di dunia ini tiga perkara: Menyampaikan Risalah; menyampaikan amanah, dan mengunjungi orang sakit”.

Tiba-tiba Jibril menghilang, lalu muncul kembali dan berkata:

“Wahai Rasulullah, sedang Tuhan yang Maha Mulia mencintai tiga hal di dunia ini: Lisan yang berdzikir; qalbu yang bersyukur dan sabar ketika tubuh terkena cobaan.”

Tiga hal itu semua merupakan ekspressi dari Makarimul Akhlaq yang menjadi tuntunan Rasulullah Saw pada ummatnya. Sahabat-sahabat yang begitu cinta pada Nabi Saw, bahkan Jibril, bahkan Allah Swt menurunkan wahyu melalui Jibril as pula.

Nabi Saw, dan para sahabatnya tercinta, sungguh berada dalam sebuah forum berlimpah cahaya. Mereka tidak berdiskusi soal dunia dengan pesonanya, tetapi mereka berdiskusi tentang ketaatan selama di dunia.  Mereka tidak berdiskusi soal problema duniawi, tetapi mereka saling melimpahkan cahaya Makarimul Akhlaq. Tak ada majlis terindah selain majlis seperti itu. Pastilah itu majlis yang penuh dengan keharuan jiwa, kemuliaan  penghambaan pada Tuhannya, berlimpah airmata syurga.

Entah kita ada dimana diantara tiga demi tiga itu. Satu pun seandainya ada, -- saat ini – pada diri kita, sungguh pasti sudah sangat luar biasa. Kecintaan pada perilaku mulia, pasti lebih dari sekadar aktivitas kebaikan rutin, pasti lebih dari ketakutan dan harapan kita, pasti lebih dari sekadar hingar bingar kebaikan.

Rasa cinta terhadap kemuliaan akhlaq itu, nilainya lebih dahsyat ketimbang wujud akhlaknya. Akhlak yang berubah menjadi kerinduan yang mengkristal dalam jiwanya, sejenak pun pasti tak ingin berpisahkan.

Entah kita ada dimana yang betahun-tahun telah memasuki thariqah sufi, atau mereka yang mengaku pecinta Nabi Saw. Sungguh nestapa jika salah satu saja diantara akhlak Nabi dan para sahabat itu tidak ada dalam rasa cinta kita.  Pasti kenestapaan kita melebihi dada yang terkoyak, bahkan tak lebih dari gundukan sampah yang memuak.

 

 

KHM Luqman Hakim 

Read 1975 times Last modified on Friday, 27 May 2016 19:29