”CINTA” KYAI GHAFUR

Masih terngiang sebuah ungkapan seorang Sufi, almarhum KH Abdul Ghafur, Qs, dari Blitar, ”Cintaku kepadaMu adalah CintaMu kepadaku....”

CintaNya mendahului cinta kita kepadaNya. CintaNya sudah ada sebelum kita ada. Dan cinta kita hanyalah cermin yang memantulkan CintaNya. Sejauhmana bening dan kristalnya cahaya CintaNya memantul, sejauh mana bersihnya cermin hati kita.

KH Abdul Ghafur (Mbah Ghafur) adalah representasi kefanaan cinta si hamba, dalam CintaNya. Pastilah berlanjut dengan ungkapan, “Cintaku kepadaMu adalah cintaku bersama CintaMu….” Sebuah Cinta dalam Kebaqaan Sifat CintaNya.

In Memoriam Cinta Mbah Ghafur adalah kristalisasi perjalanan Sufi  KekasihNya,  yang  memuat drama spiritual luar biasa, satire dan penuh metafora. Sangat manusiawi dan bersahaja, namun kesatria dalam kegagahan jiwanya dalam melawan musuh besarnya, diri sendirinya.

Air mata bersembunyi dalam gelak tawanya, dan kegembiraanya ada dalam kesunyiannya. Baginya kemarin adalah hari esok, dan hari esok adalah kemaren. Lalu yang ada hanya hari ini. Tak ada kemarin, esok dan hari ini, yang ada hanyalah Hari-hari Ilahi (Ayyaamullaah).

Barzakhnya sudah dimasuki sebelum memasuki Barzakhiyahnya. Mautnya sudah mendahului sebelum wafatnya tiba. Hamparan-hamparan wilayah cintanya, melampaui takut dan gelisahnya.  Hentakannya menembus cakrawala Malakut dan JabarutNya, menuju LahutiyahNya. Sungguh tak ada huruf dan kata.

Wallahu A’lam

Read 1297 times Last modified on Monday, 08 December 2014 16:51