Muhammad Ali Legenda Tinju yang Sufi

Muhammad Ali, Legenda Sufi dari Dunia Tinju

Tanggal 3 Juni 2016, tiba-tiba seluruh dunia menggemuruhkan doa. Doa atas wafatnya tokoh terbesar dunia tinju yang legendaries, Muhammad Ali. Berita meninggalnya mengalahkan seluruh berita apa pun di dunia, dan tak ada hadiah surat Al-Fatihah sebanyak itu dari tokoh modern muslim hari ini dari milyaran bibir yang menggetarkan doa padanya, disbanding buat Muhammad Ali.

Muhammad Ali, petinju legendaris yang menyatakan dirinya sebagai "The Greatest" dan salah satu atlet paling terkenal dan dicintai di planet ini, meninggal di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, Jumat, 3 Juni 2016, waktu setempat. Juru bicara keluarganya mengatakan, Ali, 74 tahun, dirawat di sebuah rumah sakit di Phoenix sejak Kamis, 2 Juni 2016. Juru bicara keluarga, Bob Gunnell, mengatakan penyebab kematian Ali kemungkinan akibat masalah pernapasan.

Setelah mengejutkan dunia dengan mengalahkan Liston, kejutan susulan pun muncul. Clay tertarik pada organisasi Islam kulit hitam dimulai pada 1959. Ketika itu ia melihat seorang pria di Louisville menjual Al-Quran sambil berteriak: "Muhammad berbicara! Bacalah! "Pada Maret 1961 ia mengunjungi sebuah masjid dan terbenam dalam aktivitas keagamaan."

Saat itu Pacheco mengatakan: "Sampai Ali datang ke komunitas Black Muslim yang dianggap sebagai kelompok ekstrimis gila ...  Ali hanya sangat menyukai kekuatan mereka." Clay menahan diri untuk tidak mengumumkan kemuslimannya karena dia tidak ingin membahayakan pertarungannya dengan Liston.”

Tapi sehari sebelumnya ayahnya marah kepada Ali. Cassius Clay Senior (yang mengaku ada anggota Black Muslim telah mengancam untuk membunuhnya) menegaskan bahwa anaknya menjadi Cassius X, kemudian Muhammad Ali, yang bergabung dengan Nation of Islam pimpinan Malcolm X.

 

Ali Dilarang Bertinju dan Dipenjara (1967-1968)

"Bagaimana saya bisa membunuh seseorang ketika saya sembahyang lima kali sehari untuk perdamaian," kata Ali pada 1967 ketika menjalani hukuman pencopotan gelar juara kelas berat akibat menolak bergabung dengan Angkatan Darat AS untuk berperang di Vietnam. Setahun kemudian ia menjalani hukuman penjara sepuluh hari di Penjara Miami Dade County, karena kedapatan mengemudi tanpa SIM.

Ali mengakui saat di penjara ia mendapat makanan seperti terpidana mati. "Bau urine dan kotoran begitu kuat sampai-sampai saya ingin menutup hidung," tulisnya. "Mereka mendapat juara kelas berat dunia sebagai acara makan malam.'"

Hal demikian seperti mengulang pribadi kemanusdiaannya yang menolak untuk mengambil sumpah setia atau melawan Viet Cong, walau harus dicopot dari gelarnya pada tahun 1967.

Pada tahun 1970 seluruh negara telah tertangkap dengan keengganan untuk Vietnam, dan dia diizinkan untuk kembali ke ring. Dia kembali gelarnya tidak sekali tetapi dua kali. Dia memenangkan 56 pertarungan, mencapai KO di 37, dan hanya kalah 5 perkelahian

Filsuf Bertrand Russell menulis kepada Ali: “Angin akan berubah. Aku merasakan itu." Dan itu terbukti. Tapi sampai Juni 1970, pengadilan memutuskan Ali bisa bertarung lagi.

 Ali keluar dari pertapaannya, suasana hati publik telah bergeser. Sejarawan tinju Jim Jacobs mengatakan: "Di pengasingan itu menunjukkan kepada orang-orang bahwa Ali berhati tulus. Itu membuatnya menjadi underdog. Ia menjadi simbol bagi orang-orang yang tidak pernah tertarik pada dunia tinju."

Ssetelah usia 40 tahun Ali mengundurkan dari ring tinju, karena penyakit Parkinson yang menghantuinya.

Sejak saat itulah hidupnya dihabisnyan untuk ibadah dan kemanusiaan. Namun, secara mengejutkan Ali justru mengatakan di tahun 2005, bahwa dirinya merupakan seorang sufi .

Ali terpukau dengan sufisme karena aliran ini berprinsip moderat dan universal, seseorang yang menyakiti orang lain, ia turut menyakit kemanusiaan secara luas. Pandangan ini kemudian yang menjadikan Ali sebagai sosok yang universalis.

Dia melanjutkan untuk menemukan pusat non-profit di Louisville, Ky., Muhammad Ali Center, yang dalam kata-kata BBC , "Mempromosikan perdamaian, tanggung jawab sosial dan rasa hormat."

Pada tahun 1975, Mr Ali menjadi mainstream Sunni Muslim. Pada tahun 2005 ia mengadopsi cabang mistik, sufi Islam, di bawah pengaruh Hazrat Inayet Khan. Menjadi seorang sufi, Muhammad Ali menolak garis keras puritan interpretasi Salafi Islam, serta ekstremisme kekerasan.

Desember lalu ia mengeluarkan pernyataan bahwa beberapa diartikan sebagai respon langsung terhadap panggilan Donald Trump untuk melarang umat Islam. juru bicaranya, bagaimanapun, membantah bahwa pernyataan itu ditujukan pada Trump. Ini jelas telah menangani Trump tidak langsung, meskipun:

"Kita sebagai umat Islam harus berdiri untuk mereka yang menggunakan Islam untuk memajukan agenda pribadi mereka sendiri. . . Saya seorang Muslim dan tidak ada Islam tentang membunuh orang yang tidak bersalah di Paris, San Bernardino, atau di mana pun di dunia. . . Muslim sejati tahu bahwa kekerasan kejam yang disebut Jihadis Islam sangat bertentangan dengan  ajaran agama kita. "

" Saya percaya bahwa para pemimpin politik kita harus menggunakan posisi mereka untuk membawa pemahaman tentang agama Islam dan menjelaskan bahwa ini pembunuh sesat, memiliki pandangan sesat tentang apa Islam yang  sebenarnya. "

Muhammad Ali,  menjauh ikap garang bertinju dengan  Trump yang garang, ia bahkan dengan lembut meminta semua politisi AS untuk membedakan antara ekstremis sesat dan ajaran yang sebenarnya dari Islam, dimana  Ali melihat  Islam yang hakiki sebagai factor yang menyatukan umat manusia dengan cinta. Ia tidak tertarik dalam polemik kekanak-kanakan.

 

Sosok Kemanuisaan

Pribadi Muhammad Ali telah dilihat ole dunia. Dan ia hadir dengan nilai-nilai agama yang dalam, yang anti pada kekerasan, ekstrim dan brutal. Pandfangan Islam Sunny Ali yang sufistik , tentu tidak lepas dari benang merah yang panjang yang cukup dramatis dari keberadaan warna kulit ketia itu, hingga ia memilih Islam yang tidak membedakan wara kulit, suku dan perbedaan lainnya dalam peradaban kemanusiaan.

Islam sebagai ajaran yang mengagungkan cinta dan perdamaian, terkadang harus berbenturan dengan kebijakan kolonalisme, imperielisme negara-negara Adidaya seperti AS, dengan  politik standar gandanya. Politik “belah bamboo” sepeti era  colonial Belanda zaman penjajahan dulu di negeri kita.

Muhammad Ali berusaha keras, dengan kondisi fisiknya yang lemah akibat Parkinson untuk menghadirkan Islam rahmatan lil’alamin, yang sesungguhnya sangat dekat dengan dirinya ketika mendalami dunia Sufi dengan Hazrat Inayat Khan. Dan kelak ia akan banyak bertemu dengan para Sufi lain yang dating kemudian, dalam kondisi fisiknya semakin lemah.

Allah menyertainya. Amiin.

 

 

KHM Luqman Hakim

Read 2468 times Last modified on Thursday, 08 September 2016 18:09

Leave a comment