Bulan Rajab disebut bulan Allah, Sya’ban bulan Nabi Muhammad saw, dan Ramadhan bulan ummatnya. Di bulan Allah kita dianjurkan memperbanyak kebajikan, termasuk puasa di bulan ini. Karena selain kita dihantar untuk memasuki bulan kita nanti, ada peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Lalu kita menjalani Mi’raj kita dengan sholat kita.
Bagi mereka yang masih sering bolong sholatnya, saatnya untuk menegakkan sholatnya. Bagi yang sudah istiqomah sholatnya, saatnya untuk hadir dengan kekhusyu’an dalam sholatnya. Bagi yang sudah khusyu’, saatnya bertemu dan melihat Allah di dalam sholatnya.
Itulah Mi’raj kita. Dari gerakan sholat kita, diawali dengan takbirotul ihrom hingga salam, semua melambangkan peralihan transformatif ke-Mi’raj-an Nabi Saw. Dan kita menjadi paling beruntung, karena Mi’raj kita cukup dengan sholat.
Paska Mi’raj adalah menabur kedamaian, keselamatan dan rahmat bagi semesta, melalui perwujudan syari’at yang sudah diperintahkan. Semakin memuncak Mi’rajnya seorang hamba, maka semakin syari’at perilakunya. Semakin syari’at yang diamalkan, maka semakin hakikat pula lembah jiwanya. Karena ia sudah menyadari totalitasnya, bahwa dirinya adalah dari Allah Swt, sekarang bersama Allah Swt, beserta Allah Swt dan hanya
bagi Allah Swt.
pimred@cahayasufi.com