Assalamualaikum wr. wb.
Beberapa waktu lalu saya berniat untuk mengikuti thariqah. Dan mengikuti petunjuk sepupu saya untuk ikut dibaiat. Menurut sepupu saya, pengasuh pondok pesantren di mana dia dulu pernah mondok adalah seorang mursyid sejati.

Tapi saya ingat bahwa menjelang kepergian saya ke pondok pesantren tersebut, sebenarnya saya agak kurang baik, karena sholat bolong-bolong.
Ketika berpapasan dengan Kyai pengasuh pondok tersebut, selepas beliau mengajar pengajian pagi untuk para santri, dada saya gemetar.
Ketika ditanya keperluan datang ke situ, saya cuma diam tapi paman saya (bapak sepupu saya tadi) yang mengungkapkan bahwa maksud kedatangan saya untuk minta ijin turut mengikuti pengajian setiap saya punya kesempatan datang dan minta dibaiat untuk mengikuti tariqat.
Tapi Kyai tersebut mengatakan malas kalau cuma sendiri (tidak bareng-bareng yang lainnya). Baiat kata sepupu saya biasanya dilakukan pada Senin Pon. Karena itu saya sempatkan saya datang pada hari itu.
Tapi hari itu saya ditolak. Saya mencoba tahu diri. Terbesit di hati kecil saya bahwa mungkin karena sholat saja saya kadang masih nggak ajek.
Saya kebetulan tidak bekerja di Indonesia. Enam minggu kerja, tiga minggu pulang ke Indonesia. Tapi setiap libur saya selalu berusaha ke rumah orang tua di Malang. Ketika menjelang berangkat kerja saya sempat ditelpon paman saya tadi bahwa Kyai tengah sakit.

Saya sangat menyesal karena waktu itu tidak menyempatkan datang. Padahal kalau dipaksakan saya masih bisa datang sebenarnya. Belakangan saya di telpon ibu saya bahwa Kyai sudah dipanggil oleh Allah swt.
Belum lama ini saya mimpi sepertinya saya berziarah ke makam almarhum Kyai tersebut, Kyai seperti bangun dari tidur terus merangkul saya, kemudian tidur lagi.
Sudah agak lama saya memang punya niat untuk mengikuti tariqah, karena saya ingin menata batin saya, bisa mengedalikan hawa nafsu dan ingin agar selalu bisa melaksanakan syariat seperti sholat tanpa sembrono adalah arti menjaga waktu.

Dulu sewaktu Kyai tersebut belum meninggal, saya sempat bermimpi ketemu dengan beliau. Mimpi seperti sedang bertamu ke rumah beliau. Juga pernah mimpi bahwa saya sedang menimbah air di sumur beliau.
Saya menyesal tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menemuinya lagi.
Di Indonesia saya tinggal di Depok. Pondok pesantren sepupu saya tadi di daerah Malang. Apakah makna semua itu? Bisakah saya menemukan pengganti Kyai tersebut? Di mana di Jakarta saya bisa mengikuti Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiya.
Saya memang tidak mempunyai latar pendidikan pesantren. Karena cuma sekolah umum. Pendidikan ngaji waktu kecil di mushola dan atau diajar orang tua.

Beberapa kali saya mimpi yang tidak tahu dengan pasti takwilnya. Dulu pernah saya mimpi melihat matahari begitu dekat tapi nggak merasa kepanasan. Terus saya juga pernah mimpi melihat bulan, tapi begitu saya perhatikan koq ada lafadz Allah dan Muhammad dalam bulan tersebut.
Saya tunggu saran, komentar dan informasinya.
Saya mohon apa yang saya sampaikan ini tidak dipublikasikan.
Terima kasih

Wassalamualaikum wr. wb.
Nama dan Alamat pada Redaksi

Hasrat anda menuju Allah yang masih berbalut nafsu muncul dalam mimpi-mimpi seperti itu, bahkan Kyai almarhum pun sesungguhnya menangkap anda dalam pelukannya sebagai pertanda kelak anda pun sebagai Ahluth-Thariq (kaum thariqat). Kalau anda mau ambil Qodiriyah dan Naqsyabandiyah, bisa melalui KH Hamid Husen, Jl. H. Syamali, belakang Masjid Al-Fajri, Pasar Minggu Jaksel.

Selebihnya janganlah anda merasa “bukan” orang pesantren, lantas tidak layak memasuki dunia Sufi. Justru banyak kalangan pesantren yang sekarang ini enggan masuk ke dunia Tasawuf, malah sebaliknya, mereka yang hatinya masih belum bercampur baur dengan tradisi ilmiyah, lebih mudah dibuka hatinya oleh Allah SWT. Mungkin, fakta ini sebagai sindiran Allah kepada kaum santri dan para Kyai yang enggan berthariqat.

Your email address will not be published. Required fields are marked *