“Allah membatasi waktu-waktu tertentu dalam ibadah, agar anda tidak terhalang oleh penundaan ibadah, dan Allah Swt juga meluaskan waktu ibadah, agar ada sesorang memiliki pilihan (mengerjakannnya).” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

“Apabila ada dua perkara yang serupa, maka pandanglah yang paling memberatkan nafsu, lalu ikuti yang paling memberatkan itu. Sebab tidak ada yang memberatkan nafsu kecuali pasti benar.” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

“Terkadang sang ‘arif merasa malu jika mengajukan kebutuhannya kepada Tuhannya, semata karena merasa cukup dengan kehendakNya. Bagaimana tidak malu, jika ia harus mengungkapkan kebutuhannya pada sesama makhluk?” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

“Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu.” – Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs Ibnu Athaillah mengatakan, “Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain kecuali hanya sebagai derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya. Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai ke

Gusdurfiles.com ~ Banyak pihak dan banyak cara untuk memahami pola pikir dan spirit KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak ia terlibat dalam Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Satu-dua pendekatan saja, terutama pendekatan sosiologis empirik, akan “terperangah” oleh hasil final dari realitas gerakan. Gus Dur dalam memimpin NU, atau Gus Dur sebagai pribadi. Kalau toh menggunakan pendekatan komprehensif, maka Gus Dur adalah totalitas ekspresi dari keseluruhan akumulasi NU itu sendiri, baik dari

“Terkadang, ada  seseorang  mengambil berkah kemuliaan dengan mengungkapkan tahapan ruhani (maqam), juga ada juga orang yang sudah wushul , mengungkapkan tentang  maqam itu. Hal demikian sulit dibedakan, kecuali oleh orang yang memiliki matahati yang terang.” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari Ini menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang mampu mengungkapkan maqam-maqam dunia sufi itu, berarti ia telah meraih maqam tersebut, atau telah wushul pada Allah Swt (orang yang dibukakan ma’rifatullah) atau telah

“Wacana mereka kadang karena limpahan anugerah hakikat, atau karena untuk memberi petunjuk bagi para penempuh. Yang pertama, adalah perilaku jiwa para penempuh, dan yang kedua adalah kondisi

Ibnu Athaillah As SakandaryBegitu pula “Allahu akbar”, yang di dalamnya ada lima perspektif :Pertama: Dalam “Allahu Akbar” ada penyebutan Allah Ta’ala pada diriNya Sendiri, pentauhidan, pengagungan dan penghormatan atas

Ibnu Athaillah As SakandaryManusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir :Kelompok pertama, adalah kalangan umum, yaitu kalangan pemula. Maka tauhidnya adalah bersifat lisan (oratif) belaka, baik dalam ungkapan, wacana, akidahnya,

06

Apr 2009

Ragam Dzikir

Ibnu Athaillah As SakandaryDzikir itu bermacam-macam. Sedangkan Yang Didzikir hanyalah Satu, dan tidak terbatas. Ahli dzikir adalah kekasih-kekasih Allah. Maka dari segi kedisiplinan terbagi menjadi tiga: Dzikir Jaly