“Apabila ada dua perkara yang serupa, maka pandanglah yang paling memberatkan nafsu, lalu ikuti yang paling memberatkan itu. Sebab tidak ada yang memberatkan nafsu kecuali pasti benar.” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

“Terkadang sang ‘arif merasa malu jika mengajukan kebutuhannya kepada Tuhannya, semata karena merasa cukup dengan kehendakNya. Bagaimana tidak malu, jika ia harus mengungkapkan kebutuhannya pada sesama makhluk?” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari

“Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu.” – Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs Ibnu Athaillah mengatakan, “Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain kecuali hanya sebagai derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya. Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai ke

“Terkadang, ada  seseorang  mengambil berkah kemuliaan dengan mengungkapkan tahapan ruhani (maqam), juga ada juga orang yang sudah wushul , mengungkapkan tentang  maqam itu. Hal demikian sulit dibedakan, kecuali oleh orang yang memiliki matahati yang terang.” – Syeikh Ibnu Ath-Thaillah As-Sakandari Ini menunjukkan bahwa tidak setiap orang yang mampu mengungkapkan maqam-maqam dunia sufi itu, berarti ia telah meraih maqam tersebut, atau telah wushul pada Allah Swt (orang yang dibukakan ma’rifatullah) atau telah

“Wacana mereka kadang karena limpahan anugerah hakikat, atau karena untuk memberi petunjuk bagi para penempuh. Yang pertama, adalah perilaku jiwa para penempuh, dan yang kedua adalah kondisi