PARADIGMA AR-RIFA’Y

Syeikh Ahmad Ar-Rifa’y yang sezaman dengan Syeikh Abdul Qadir al-Jaelany, sekaligfus pendiri Thariqat Rifa’iyah, salah satu karyanya Haalatu Ahlil Haqiqah ma’Allah, telah sukses menntakwil 40 hadits Nabi dengan syarah Sufistiknya yang luar biasa. Seluruh syarahnya berdimensi Ma’rifatullah (gnostic) yang menggugah kesadaran spiritual kaum Sufi. Kitab ini sekaligus mengantar kita untuk  mengenal  metodologi Ma’rifatullah,  Substansi  dan  Sifat  kema’rifatan dan hambatan-hambatan Ma’rifatullah.

Paradigmanya sangat filosufis, namun Ar-Rifa’y membangun 10 paradigma praktis yang signifikan, yang bisa dijadikan fondasi kebangkitan spiritual, khususnya bagi terapi problema modernitas:

  1. Berkait pada Allah Swt dalam segala hal,
  2. Ridha apa pun yang datang dari Allah Swt dalam segala hal,
  3. Kembali pada Allah swt dalam segala hal.
  4. Butuh pada Allah Swt dalam segala hal.
  5. Hati selalu kembali pada Allah Swt dalam segala hal.
  6. Sabar bersama Allah Swt dalam segala hal.
  7. Memutuskan diri hanya untuk Allah Swt dalam segala hal,
  8. Istiqomah bersama Allah Swt dalam segala hal.
  9. Menyerahkan segala urusan pada Allah Swt dalam segala hal.
  10. Menyerahkan totalitas diri (al-Istislaam) pada Allah Swt dalam segala hal. Tiga   tokoh  utama  tersebut   berkonstribusi   besar  terhadap pertumbuhan spiritual  Sufistik  ummat  Islam  hingga  dewasa  ini, yang  harus  terus  dikaji dengan aksentuasi kemodernan, tanpa sama sekali apologis terhadap proses globalisasi yang berlangsung.

DEKONSTRUKSI PENDIDIKAN SUFISTIK

Dunia Sufi pada akhirnya memposisikan Allah Swt sebagai Musabbibul Asbab. Kalau toh pun secara verbal Allah Swt memposisikan DiriNya sebagai akibat dari tindakan makhluk, seperti dalam beberapa ayat yang menekankan ikhtiyar manusia,   dan sukses perubahan itu disebabkan oleh usaha manusia, semata harus dipandang sebagai cara Allah swt mendidik manusia, memberi motivasi, penghargaan  terhadap  harkat  manusia sebagai  makhluk  tertinggi,  bukan sebagai substansi final.

Ketika  manusia  modern  lebih  kuat  rasionalitas  dan  eksistensialnya maka wilayah rasional adalah wilayah paling awal pendidikan Ke-Islaman (syari’at), baru pendidikan ke-Imanan (wilayah bathin dan thariqat) lalu pendidikan Ihsan (hakikat  dan  rahasia  batin).  Tetapi  ketika  kesadaran  hakikat  diraihnya,  kita harus mendekonstruksi kesadaran kita secara teologis maupun sufistik. Misalnya:

  1. Wilayah Syariat:  Apabila  manusia  berdoa,  Allah  akan  mengijabah.

Manusia berikhtiar, Allah merubah nasib. Manusia Istiqomah, Allah memberi karamah. Manusia berdzikir padaNya, maka Allah akan mengingatnya.  Manusia  berjuang  di  jalanNya,  Allah  akan  membuka Jalan-jalanNya, manusia bertaqwa Allah memberi jalan keluar. Apabila manusia bertaubat, Allah mengampuni. Manusia bermujahadah agar meraih Cahaya dan HidayahNya.

Di wilayah syariat, para penempuh diawali dengan mengenal dimensi lahiriyah, kemudian kinerja batiniyah baru rahasia batin. Atau dari syariat, thariqat kemudian hakikat.

  1. Wilayah Thariqah: Apabila Allah memberi, maka manusia  ditakdirkan berdoa; Apabila Allah merubah manusia ditakdirkan berikhtiar; Apabila Allah memberi karomah, manusia ditakdirkan Istiqomah; Apabila Allah mengingat manusia, manusia pasti berdzikir; Apabila manusia diampuni, maka ia pasti bertaubat.    Manusia dip[ancari oleh cahaya dan hidayahNya lalu ia bermujahadah. Pahala dan syurga dariNya mengakibatkan amaliyahnya. Bukan sebaliknya.

Dalam perspektif thariqat, maka fungsi pendidikan batin dijadikan objek agar bisa memadukan syariat dan hakikat, melalui proses Tanwirul Qulub wa Tazkiyatun Nufus.

  1. Wilayah Hakikat: Apabila manusia berdoa, ia berdoa bersama SifatNya Sang Maha Pemberi dan Pengijabah; Apabila ia berikhtiar, ia digerakkan oleh KehendakNya yang Maha Merubah dirinya; Apabila ia Istiqomah yang digerakkan oleh Karomah dariNya bersamaNya kepadaNya. Apabila ia berdzikir, ia berdzikir bersama DzikirNya pada dirinya, dan ia hanyalah bayangan DzikirNya pada DiriNya Sendir

Wilayah Hakikatlah yang melahirkan Syariat. Wilayah hakikat ini justru memandang  sebaliknya:  Diawali  dari  Nur,  kemudian  memancar  ke  dalam rahasia batin (asrar), memantul pada qalbu, menumbuhkan adab, ahwaal, akhlaq baru muncul amal.

Dekonstruksi dimaksud agar manusia tidak I’timad pada amalnya, karena amal adalah makhlukNya dan digerakkan olehNya, sehingga manusia mampu fana’ dari klaim dirinya, karena yang berlangsung adalah Baqo’Nya. Mereka melakukan amaliyah semata ubudiyah (menjalankan kehambaannya) bukan karena pahala dan syurga.

Maka akan berkembang nilai-nilai luhur:
– Berdoa itu lebih mulia ketimbang Ijabah
– Berjuang di jalan Allah itu lebih utama ketimbang kemenangan,
– Beribadah itu lebih utama ketimbang pahala
– Istiqomah itu lebih mulia ketimbang karomah,
– Dzikir itu lebih agung ketimbang syurga seisinya
– Sholat dua rekaat itu lebih utama ketimbang firdaus
– Bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan
– Bertobat itu lebih utama ketimbang ampunanNya
– Mencari ilmu lebih utama dibanding  sukses besar pengetahuannya
– Tafakkur itu lebih utama dibanding pencerahannya

Terapi ini, minimal berangkat dari tiga titik pandang dalam hubungan kita dengan Allah swt. Yaitu: Dari Allah; Bersama Allah; Menuju dan hanya bagi Allah. Dalam proses pendidikan ruhaniyah, thariqat Sufi melandaskan metodenya sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an :

* Metode Tazkiyyatun Nafs, dengan mengagendakan berbagai persoalan psakhologis dan pandangan hidup yang buruk (madzmumat) dan bagaimana proses pembersihannya. Metode ini juga disebut dengan metode Takhally. Inilah periode Riyadhotun Nafs.

* Metode Tathhirul Qulub, dengan menyemaikan akhak mulia yang terpuji (almahmudah) dengan titik pandangan yang penuh harap kepada Fadhal dan RahmatNya, pertemuan dengan Tuhannya. Metode ini juga disebut Tahally. Disini akan muncul proses Tashfiyat wa Isryraqul  Bawathin (pencerahan batin).

*  Metode  Tanwirul  Asrar,  dengan  kesiapan  diri  untuk  menjadi limpahan Cahaya Ilahi (Fuyudhat al-Ilahiyyah), dalam suasana Mardhiyyah dan Kamilah. Sehingga dirinya adalah manifestasi dari Qudrat dan IradatNya, dan ini juga disebut sebagai metode Tajally. Ia memandangNya karena dipandang olehNya, ia mencintaiNya karena CintaNya padaNya, ia mengingatNya karena ia diingat olehNya.

Baru kemudian melahirkan adab dan akhlaq, sesuai dengan kehendakNya, sebagai manifestasi rasa syukur padaNya dan menyambut Cinta Kasih SayangNya.

LANDASAN-LANDASAN PENTING BAGI KEBANGSAAN

Dibawah ini perlu diurai dalam pengertian fundamental, strategis dan edukatif dari perpsketif Sufi bagi penguatan politik kebangsaan, Islam, Indonesia, Nahdhiyyin, PKB dan seterusnya:

VISION
INDONESIA AL-MUNAWWARAH
RAHMATAN LIL’ALAMIN
BALADAN AMINA
DIVERSITY IN UNITY
TA’ARUF KEBANGSAAN

SPIRITUAL ANATOMIC
NUR; SIRR; RUH; QOLB; AKAL; FIKIRAN; FISIK

POSITIONING:
ISLAM, IMAN, IHSAN, NU, PKB, NEGARA, PEMERINTAH

KNOWLEDGE:
TAUHID,   LAA   ILAAHA   ILLALLAH,   HIKMAH,   AHLI   DZIKR,   FILSAFAT,  ILMU, FAKULTAS ILMU.

METODE SYIAR:
NUR, DAKWAH, JALAN TUHAN, HIKMAH, MAUIDZOH HASANAH, MUJADALAH, AMALIAH

PROSES PENCERAHAN:
NUR, ASROR, HAAL, ADAB, MAQOM, AKHLAK, AMAL

BODY OF NATION:
AHADIYAH,   WAHDANIYAH,   WAHDAH,   RUHIYAH,   AMTSAL,   AJSAM,  INSAN KAMIL

PILAR-PILAR POLITIK KEBANGSAAN:
KETUHANAN,   KEAGAMAAN,   KEBUDAYAAN,   KEBANGSAAN,  KENEGARAAN, KETAHANAN, SISTEM PEMERINTAHAN

NILAI-NILAI POLITIK:
KEBANGKITAN KEUMMATAN
KERAGAMAN DAN KESATUAN
KEBANGSAAN KENUSANTARAAN
KERAKYATAN INTERNASIONAL

METODE TASAWUF (STRATEGIS)
TAKHALLY, TAHALLY, TAJALLY, TAZKIYATUN NAFS, TATHHIRUL QULUB, TANWIRUL ASRAR.

SPIRITUAL PERFORMANCE
MA’RIFAT, MAHABBAH, TAUHID, IMAN, ISLAM

ACTION
ISLAM , IMAN, IHSAN, IQON, TAHQIQ

 

Wallahu A’lam bish Showab
*) Disampaikan pada Seminar “Sufisme dan Perjuangan Politik Kebangsaan (Dalam Perspektif Kitab Ihya’ Ulumuddi1n Karya Imam Al-Ghazaly)”

Minggu 14
Oktober 2018 di Kantor DPP PKB.

 

Beberapa Maraji’ penting untuk kajian ini

  1. Ar-Risalat al-Qusyairiyyah, Abul Qasim al-Qusyairy an-Naysabury, DarulKhair, tanpa tahjun.
  2. Ihya’ Ulumuddin,  Al  Imam  Abu  Hamid    Al-Ghazaly,  Darul  Kutub  al- Ilmiyyah, Beirut 2005
  3. Kitabul Arba’in  fi  Ushuliddin,  Al-Imam  Abu  Hamid  Al-Ghazaly,  Darul Kutub al-Islamiyah, 2014
  4. Majmu’tu Rasailil Imam Al-Ghazaly, al-Maktabah at-Taufiqiyah, Cairo, tanpa tahun.
  5. Majmu’atu Rasailil Ibni Araby, Jam’iyah Dairatul Maarif al-Utsmaniyah Haidar Abad, 1361 H.
  6. Al-Futuhatul Makkiyah, Syeikhul Akbar Syeikh Muhyiddin Ibnu Araby al- Hatimy, Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut.
  7. Ghaitsil Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarhil Hikam al-‘Athaiyyah, Ibnu Abbad ar-Randy, Maktabah al-Jami’ah al-Azhariyah, tanpa tahun.
  8. Al Futuhat al-Ilahiyah fi Syarhi Mabahitsil Ashliyah, Ibn Ajibah al-Hasany, Darul Kutub al-Ilmiyah, Lebanon, 2010
  9. Iqodzul Himam fi Syarhil Hikam, Ibn Ajibah al-Hasany,  Darul Kutub al- Ilmiyah, Lebanon, 2015.
  10. Qawaid a-Tasawwuf, Ahmad Zarruq al-Faasy, Darul Kutub al-Ilmiyah, Lebanon, 2007
  11. Syarhul Hikam Athaiyyah,  Ahmad  Zarruq  al-Faasy,  Darul  Kutub  al- Ilmiyah, 2004
  12. Sirojut Thalibin, Syarh Minhajul Abidin, Syeikh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesy al-Kadiry, Darul Kutub al-Islamiyah, tanpa tahun.
  13. Quthul Qulub fi Mua’amalitl Mahbub, Al-Imam Abu Thalib al-Makky, Darul Fikr, Beirut. Tanpa tahun.
  14. Sirajul Qulub wa-‘Ilaj  adz  Dunub,  Zainuddin  Ali  al-Mu’iry,  Darul Fikr Beirut tanpa tahun.
  15. Hayatul Qulub fi Kaifiail Wushul ilal Mahbub, Imadudddin al-Umawy, Darul Fikr, Beirut. Tanpa tahun.
  16. Lawaqih al-Anwaril Qudsiyah  fi  Ma’rifati  Qawaidis  Shufiyah,  Abdul Wahab asy-Sya’rany, Darul Fikr, 1996.
  17. Sirrul Asrar wa Madhharul Anwaar, Syeikh Abudl Qadir al-Jaelany, Darus Sanabil tanpa tahun.
  18. Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq, Syeikh Abudl Qadir al-Jaelany, Darul Kutub al-Ilmiyah Beirut, 2010
  19. Haalatu Ahlil Haqiqah ma’Allah, Syekh Ahmad Ar-Rifa’y, Darul Kutub al- Ilmiyah, Beirut
  20. Awariful Ma’aarif, As-Suhrawardy, Maktabah al-Qahirah, tanpa tahun.
  21. Ar-Ri’ayah li Huquqillah,  Abu  Abdullah  al-Muhasiby,  Al-Maktabah  at- Taufiqiyah, Cairo tanpa tahun.
  22. Trilogi Kedai Sufi:  Jalan  Cahaya,  Jalan  Ma’rifat,  Jalan  Hakikat, KHM Luqman Hakim, Cahaya Sufi, Jakarta 2017
  23. Allah pun Berdzikir, KHM Luqman Hakim, Erlangga, Jakarta 2002.

Your email address will not be published. Required fields are marked *