Renungan bagi Perjungan Politik Kebangsaan. *)
Oleh DR. KH. M. Luqman Hakim

Hiruk pikuk masyarakat modern, selalu bermula dari ruang pengab yang mengasingkan dirinya dalam penjara dehumanisme yang tak kunjung selesai. Harkat kemanusiaan rupanya tidak bisa diselesaikan oleh manusia itu sendiri, dan eksistensialisme modern telah menunjukkan kegagalannya dalam membangun rumah peradaban, kecuali hanya rumah hantu yang mengerikan yang diselubungi kegelapan.

Post modernisme sedang mencari jalan keluar dari sirkuit modernisme yang dinilai gagal mecatat sejarah gemilang kemanusiaan, berubah jadi legenda destruktif yang mengerikan. Jalan keluar ternyata hanya dilema yang cukup hebat dalam memperdayai diri mereka, karena mereka berangkat menuju suatu ruang yang justru menjadi awal keberangkatannya. Modernisme tanpa Tuhan? Atau bahkan Tuhan begitu asing dan semu dalam pantulan cermin kehidupan modern. Karena Nama Tuhan pun dipaksakan memasuki industri duniawi, menjadi trademark yang dijualbelikan. Tragedi yang lebih mengerikan dibanding sekularisme maniak itu sendiri.

Agama (Islam) dengan perpsektif spiritualnya (Tasawuf) saat ini pun sedang mempertaruhkan dirinya dalam project peradaban besar bagi masa depan kemanusiaan. Tasawuf yang mengajak manusia menuju Allah Swt Sang Pencipta dengan tuntunan kemurnian fitrah kemanusiaan harus berhadapan dengan disain keagamaan dari dalam ummat Islam sendiri yang mengedepankan formalisme, artikularisme verbal, yang cenderung simbolik dengan materialisme modern, atas nama mengejar persaingan zaman di satu sisi dan menghalalkan segala cara atas nama Allah di sisi lain.

Sementara kegelapan peradaban di luar Islam terus mendesak, dengan eksistensialisme manusia modern yang mengangkat kembali teori-teori dan praktek eksistensialisme klasik yang berkolaborasi pada nilai-nilai Iblisian dan Firaunian, lalu muncul jargon hebat dalam setiap pengembangan SDM
masyarakat modern yang bersumbu pada “Aku”. Aku bisa, aku berdaya, aku mampu, aku hebat, aku kuasa, aku menang, dan berakhir dengan dua sumbu “Aku lebih baik dibanding mereka” (Iblisian) dan “Akulah Tuhanmu paling tinggi” (Firaunian). Kekuatan hebat yang dehumanistik, penuh kegelapan.

“gelandangan peradaban spiritual “

Apa yang kita bayangkan jika kekuatan Formalisme-verbalisme Islam
berkolaborasi dengan ekstensialisme Iblisian-Firaunian modern? Inilah puncak destruksi peradaban bumi yang pernah diprediksi oleh para Malaikat tentang kekhalifahan manusia yang kelak akan menghancurkan bumi dan menumpahkan darah. Lalu kiamatkah dunia kita? Allah Swt memberikan jaminan luar biasa melalui “rahasia ilmu pengetahuanNya” yang tidak diketahui oleh para Malaikat.

Pengaruh formalisme agama, juga telah berdampak pada materialisasi agama, sebagaimana kultur spiritual yang berkembang di masyarakat kita ketika berdoa (yang populer dengan doa sapujagad) “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka”

Namun di persepsi bahwa doa tersebut seakan mengharuskan keseimbangan duniawi dan keseimbangan ukhrowi. Seimbang material dan spiritual. Kalau berjuang di jalan Allah sekaligus juga dapat keuntungan duniawi. Kalau bersedekah sekaligus rejeki tambah. Manusia menjadi religius sekaligus materialis, sebuah paradoks yang nestapa. Padahal jelas, yang kita pinta adalah “kebajikan di dunia”, bukan keuntungan, fasilitas dan kebajikan dunia, juga “kebajikan di akhirat” bukan kebajikan akhirat.

Dua wilayah besar – internal umat dan eksternal – yang menjadi tantangan dunia Sufi, yang begitu krusial dan mencemaskan. Secara internal kita menghadapi rumah besar yang kosong, sunyi dan busuk oleh kefasikan, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik ra (Siapa yang berfiqh tanpa tasawuf, benar-benar fasik) di satu sisi, dan terjadinya gelombang “gelandangan peradaban spiritual” yang liar tanpa rumah yang luhur Siapa yang bertasawuf tanpa fiqh, ia benar-benar zindiq) di sisi lain, begitu aktual hingga dewasa ini.

Secara eksternal, dalam konstelasi spritiual Islam mesti memandang faktor pengaruh spiritulitas masyarakat modern di luar Islam terhadap masyarakat Islam sendiri, dan sejauhmana tawaran-tawaran dunia Tasawuf menjadi refleksi cerminan baru bagi mereka yang ada di luar Islam. Pertarungan seperti ini pernah memuncak di era Hujjatul Islam Al-Ghazaly, — sampai terbitnya kitab Tahafutul Falasifah, — semata karena substansi peradaban begitu pararel dengan kehidupan manusia di era mana pun hingga dewasa ini: Bagaimana Al-Ghazaly memilah hal-hal yang substansial dan instrumental dalam beragama, mana yang komplemental dan suplemental, sehingga spiritualisme tidak paradoks dengan rasionalisme, hakikat tidak kontra dengan syariat, dan sebaliknya. Era modern memiliki berbagai persoalan yang organis. Lingkaran masalah masyarakat modern – yang kelak berujung pada pertanyaan siapa dirinya, siapa Tuhannya dan apa alam kehidupan ini – erat dengan hubungan antara agama, jati diri dan realitas. Tentu dalam perspektif lebih khusus (dimensi Tasawuf) sangat erat dengan tiga landasan organisma filosufis:

Pertama: Bagaimana Tasawuf membangun ontologi, epistemologi dan aksiologinya.

Kedua: Bagaimana Tasawuf menjadi landasan dan metode peradaban global, menjadi sumber nilai dan metode bagi pengembangan Sumberdaya Manusia, sekaligus indikator-indikator keberhasilan.

Ketiga: Bagaimana Tasawuf menjadi “Rumah Besar yang bercahaya” bagi modernitas yang memadukan peradaban rasional, modern, tertib hukum dan berdaya (Al-Madinah) namun dipancari nilai spiritual (at-Tanwiir) dari Allah Swt, dan RasulNya (Al-Munawwarah).

PARADIGMA GHAZALIAN

Imam Al-Ghazaly yang kelak menjadi poluler dengan Hujjatul Islam, telah mewakili eksponen Mujaddid dan Mujtahid setiab abad. Sebagaimana Imam Madzahibil Arba’ah yang monumental di bidang Fiqh, Al-Ghazaly menancapkan tonggak dan mercusuar Tasawuf dalam sejarah dunia Islam.

Spirit Al-Ghazaly memasuki seluruh pandangan Tasawuf generasi Mujaddid Sufi setelah abad-abad berikutnya. Dari seluruh karya dan biografi intelektualnya menggambar perjalanan panjang, walaupun tujuannya sangatlah dekat. Kalau boleh disebut Al-Ghazaly adalah salah satu Nikmat Allah dan Karomah yang agung yang diturunkan untuk ummat Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang tak habis-habisnya untuk disyukuri.

Tentu tidak perlu lagi mengutip definisi Tasawuf menurut Al-Ghazaly; karena Al-Ghazaly telah menyederhanakan seluruh masa lalu dunia Sufi dalam uraian sistematis, yang representative setiap zaman. Prestasi besar Al-Ghazaly antara lain:

  1. Al-Ghazaly telah menyelamatkan ummat Islam dari pengaruh Hellenisme (Filsafat Yunani), dan kembali menghidupkan kreativitas pemikiran keagamaan dalam Cahaya Ketuhanan yang luar bisa.
  2. Al-Ghazaly telah sukses memadukan hubungan Keniscayaan antara Wilayah Syari’at dan Hakikat melalui pendekatan Tasawuf (Thariqah Shufiyah), sekaligus menyelesaikan tarik menarik antara rasionalisme dan spiritualisme dalam pencarian ilmu pengetahuan maupun dalam praktek keagamaan.
  3. Al-Ghazaly telah berhasil menata kembali dan menjawab seluruh keresahan dalam kemelut dunia filsafat berlangsung panjang, baik secara Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologisnya.
  4. Al-Ghazaly telah berhasil menyibak kegelapan demi kegelapan intelektual melalui metode Mukasyafah dan Dzauq sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dan kebenaran untuk menuju hakikat.
  5. Al-Ghazaly berhasil menuntun manusia, dari pencarian jati dirinya sampai keruang Rahasia Ketuhanan dan kembali menjadi manusia yang “Bersama Tuhan” dalam segalanya, sehingga menjadi bagian dari “Rahmatan lil’alamin”.
  6. Kitab Ihya’ Ulumiddin telah mengurai hal-hal yang global dan pelik menjadi mudah untuk dicerna.
  • Al-Ihya’ menertibkan dengan struktur keilmuan yang sangat sistematis, mengumpulkan pecahan-pecahan yang berserak; menyatukan kembali dalam silabus dan keutuhan metodologi yang luar biasa.
  • Al-Ihya’ mebuang yang tidak perlu dan menyajikan yang bermanfaat dunia akhirat dengan lebih meyakinkan.
  • Al-Ihya’ menyadarkan secara total bahwa adab dan akhlaq menjadi esensi dari seluruh ilmu pengetahuan agama. Bukan Islamisasi Ilmu dan juga bukan menempatkan agama sebatas ilmu, dan bukan mengagamakan ilmu pengetahuan. Tetapi menempatkan agama sebagai sumber ilmu, adab ilmu, ruhnya ilmu, agar muncul Ulumun Nafi’ (Ilmu yang bermanfaat) yang dewasa ini telah dilupakan oleh filsafat pendidikan modern.
  1. Al-Ghazaly berhasil menegaskan metode Pembersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs) dan Penyucian Hati (Tathhirul Qulub) dan Pencerahan Rahasia Batin (Tanwir Al- Asrar) melalui Tahdzib dan Tashfiyah, Kasyf dan Dzauq, Fana’, Musyahadah, Ma’rifah dan Mahabbah. Kelak juga kita kenal dengan Takhally Tahally Tajally.
  2. Al-Ghazaly telah membuat rumpun-rumpun Maqomat dan Ahwaal dalam dunia Sufi, bahkan telah menanamkan Syajarah Thayyibab dengan cabang- cabangnya yang menjulang ke langit. Namun dari seluruh perjalanan spiritual itu, Al-Ghazaly berhasil memaparkan factor-faktor penghambat yang harus ditepis, sekaligus akan membuahkan pencerahan baru, hingga meraih Wushul pada Allah swt.
  3. Al-Ghazaly telah mengantar kita semua bagaimana mewujudkan totalitas
    kehambaan kita (tahqiq al’ubudiyyah) dan menegakkah Hak-hak Ketuhanan (Iqomatu Huquq ar-Rubibiyyah) , dengan cara benar menjadi hambaNya (as- Shidq fil ‘Ubudiyyah) dan begantung terus menerus dengan sifat RububiyahNya (at-Ta’alluf bi Shifaati ar-Rububiyyah).

APLIKASI DALAM THARIQAH

Thariqah Shufiyah itu sendiri terbagi menjadi dua. Melaui Al-Jadzb dan As- Suluk. Metode JadzB tidak bisa diajarkan, karena itu metode Suluk lebih banyak diurai oleh para Ulama Sufi, termasuk Al-Ghazaly. Kelak dua metode ini dipadu dalam pandangan Syadziliyah dan tegaskan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary, dalam Kitab Al-Hikam:

“ Allah menunjukkan ciptaanNya agar mengenal asma-asmaNya, dan mengenalkan Asma-asmaNya agar mengenal ketetapan Sifat-sifatNya, lalu dengan ketetapan Sifat-sifatNya untuk mengenal DzatNya. Karena mustahil sifat itu ada tanpa Dzat. Sedangkan mereka yang dianugerahi Jadzb tersingkap dari Keparipurnaan DzatNya, kemudian diarahkan mengenal Sifat-sifatNya, lalu dikembalikan untuk mendalami As-AsmaNya, hingga diturunkan untuk menyaksikan ciptaanNya. Sang salik mengalami proses sebaliknya. Maka puncak sang salik adalah awal sang majdzub. Begitu awal dari sang salik, malah puncak sang majdzub. Tetapi tidak berarti sama. Kadang terjadi pertemuan di jalan penempuhan, satu sedang naik satu sedang turun.”

Sang salik sesungguhnya juga sang majdzub, karena tanpa TarikanNya ia tak akan menjadi salik. Sang majdzub juga salik, karena ia akan menempuh aturan wilayah Jadzb.
Maka, dalam pandangan Thariqah Al-Ghazaly, kekuatan Mujahadah, Tashfiyah, Tazkiyah dan Tathhir menempati posisi penting. Sebab fana’, ma’rifah dan mahabbah sangat erat kaitannya dengan Mujahadah yang dibimbing oleh Syekh atau Mursyid.
Karena itu Al Ghazaly membangun paradigma yang cukup sederhana, yang aplikasinya akan terurai dalam Al-Ihya’ dan kitab-kitab lainnya. Namun praktek tasawuf yang begitu lembut memerlukan panduan di tangan ahlinya. Jika tidak, seseorang bisa tersesat, dan terjebak dalam ghurur yang gelap.

Diantara sistematika yang cukup penting bagi Salikin, Al-Ghazaly memberi kiat- kiat yang fundamental melalui enam tahap yang masing-masing tahap spiritual itu mesti membuang hambatannya.
Pertama, memisahkan anggota fisik dari kontra terhadap aturan syari’ah.(Akan meraih  sumber-sumber hikmah qalbu)
Kedua, memisahkan nafsu dari pemanjaan dirinya. (Akan meraih rahasia-rahasia ilmu laduni)
Ketiga, memisahkan qalbu dari pengaruh ketololan manusiawi (Akan meraih panji-panji munajat di alam Malakut)
Keempat, memisakan jatidiri (rahasia batin) dari kotoran nafsu (Melimpah cahaya-cahayaNya)
Kelima, memisahkan ruh dari efek inderawi (Penyaksian purnama Cinta)
Keenam, memisahkan akal dari imajinasi khayal. (Memasuki Taman Hadhrah Kesucian)
Tema-tema penting dalam factor penghalang itu haruslah dielaborasi dalam Tarbiyah Ruhiyah untuk diajarkan oleh para pembimbing kepada para penempuh (murid).

Proses Tahdzib dalam suluk, tidak terbatas pada nafsu saja. Tapi juga pada Akhlaq, Amal dan ke-Ma’rifatan. Itu berarti akan terjadi proses Tahdzib (pembersihan) total dalam membangun kepribadian ummat. Karena cahaya tidak akan memantul dari cermin yang buram.  Mulai dari pemberishan amal dari segala hal selain Allah, pembersihan akhlaq dari hal-hal tercela, pembersihan ahwal dari jebakan-jebak (ghurur) spiritual, pembersihan adab dari segala hal yang memihak pada nafsu, serta pembersihan fikiran, akal, qalbu, ruh, dan sirrnya.

Karena itu dalam paradigm Al-Ghazaly, sejumlah Thariqah yang mesti ditempuh memerlukan mujahadah dan ilmu pengetahuan yang benar. Jika tidak, manusia akan kembali pada dorongan hawa nafsunya yang kelak melahirkan kemaksiatan, kealpaan dan pemanjaan syahwatnya. Itulah yang menghalangi ketaatan, pengendalian dan kesadaran manusia akan hadirnya Allah swt,

Dalam proses sulukiyah, Al-Ghazaly membekali beberapa pandangan agar dijadikan pijakan. Misalnya bagaimana mengenalkan Tauhid dan Ma’rifat. Dua dasar penting dalam tasawuf, yang berhubungan dengan sejumlah peristiwa ruhaniyah dalam diri manusia. Bagaimana Tauhid dan Ma’rifat ini akan melahirkan Pandangan Mata Hati, Mukasyafah, Musyahadah, Mu’ayanah, Al- Hayat, Al-Yaqin, Ilham dan Firasat. Bagiamana membedakan antara Ilmu dan Ma’rifat disana. Ini pun juga harus dikenalkan bagaimana makna Nafs, Ruh, Qalbu dan Akal, dan apresiasinya masing-masing dalam amaliyah.

Begitu pula ketika aktivitas taubat sebagai awal yang harus ditempuh oleh para salikin, Al-Ghazaly menjelaskan seluruh nelemen taubat dalam metode yang praktis, seperti keterkaitan kuat bagi kelangsungan taubat melalui Al-Firar, al- Inabah dan Al-Ikhbaat.

Apabila masyarakat modern, termasuk di dalamnya masyarakat Islam modern, mengalami kegersangan dan keterasingan, ternyata pararel dengan gagasan 40 masalah yang pernah ditulis oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, yang kemudian disederhanakan dalam Kitabul Arba’in fi Ushuliddin, terutama bila kita lihat gagasan tentang Bab Al-Muhlikaat (faktor-faktor pengancur kehidupan).       Faktor   destruktif   inilah   yang   justru   dikembangkan   oleh masyarakat modern, yang kelak memunculkan problema kompleks luar biasa dan bertumpu pada sepuluh masalah destruktif yang dijadikan industri masyarakat modern:

1)  Materialisme 2) Konsumerisme, 3) Kekuasaan, 4) Sex, 5) Emotion, 6) Arogansi, 7) Persaingan (survive) 8) Eksistensi diri, 9) Publikasi dan propaganda, 10) Komunikasi negatif

2) Apabila kita bandingkan    10 faktor Al-Muhlikat yang memperdayai manusia, yang ditulis Al-Ghazaly dalam Al-Ihya’,   maka relevan dengan gerakan  kegelapan  masyarakat modern: 1).  Hubb  ad-Dunya,  Hubb  Al Maal, Hubb al-Jaah, 2) Syarh ath Tha’am, 3) Asy-Syahawat, 4) Al-Ghadb, 5) Al-Hasad, 6) Ar-Ru’unat, 7) Al-Kibr, 8) Al ‘Ujb, 9) Ar-Riya’, 10) Syarr fil Kalam

Sepuluh masalah tersebut telah berubah menjadi industri global yang memperbudak masyarakat modern. Bahkan dalam 24 Jam setiap hari masyarakat modern hampir-hampir kehilangan Tuhannya, dan mereka yang beragama memposisikan Tuhan seperti bendera dan merk dagang, dengan pertimbangan untung rugi. Dan ketika sebuah produk industri ekonomi sudah setara agama, produk tersebut dianggap sukses.

Secara ringkas Al-Ihya’ telah membangun Empat Pilar yang terdiri dari 40 Cabang;

Fondasi Pertama disebut sebagai “Rub’ul Ibadat” yang memiliki 10 pilar: Kitabul ‘Ilm; Kitabu Qawaidil ‘Aqaid; Kitab Asrarit Thaharah; Kitab Asrar ash-Shalat; Kitab Asrar az-Zakat; Kitab Asrar ash-Shiyam; Kitab  Asrar al- Hajj; Kitab Adabi Tilawatil Qur’an; Kitabul Adzkaar wad-Da’awat; Kitab Tartibil Awrad fil Awqaat.

Fondasi Kedua disebut sebagai “Rub’ul ‘Aadaat” yang memiliki 10 pilar; Kitab Adabil Akl; Kitab Adabin Nikah; Kitab Ahkamil Kasb; Kitab al-Halal wal Haram; Kitab Adabul Ulfah wal Ukhuwwah was Shuhbah wal Mu’asyarah ma’ Ashnafil Khalq; Kitabul ‘Uzlah; Kitab Adabis Safar; Kitab as-Sama’ wal Wajd; Kitab Al- Amr bil Ma’ruf wan- Nahy ‘anil Munkar; Kitab Adabil Ma’isyah wa Akhalin Nubuwwah.”

Fondasi Ketiga disebut dengan“Rub’ul Muhlikat” terdiri dari 10 pilar: Kitab Syarhi ‘Ajaibil Qalb; Kitab Riyadhatun Nafs; Kitab Afatis Syahwatayn- Syahwatul Bathn wal Syahwatil Farj; Kitab Afatil Lisan; Kitab Afatil Ghadhab wal-Haqd wal Hasad; Kitab Dzamm ad Dunya; KitabDzammil Maal wal-Bukhl; Kitab Dzammil Jaah war Riya’; Kitab Dzammil Kibr wal ‘Ujb; Kitab Dzammil Ghurur.

Fondasi Keempat disebut dengan “Rub’ul Munjiyat’ terdiri 10 pilar: Kitab At-Taubah; Kitab Ash Shabr wasy Syukr; KitabKitab Al-Khauf war Raja’; Kitab al-Faqr waz Zuhd; Kitab at-Tauhid wat-Tawakkul; Kitab al- Mahabbah wal-Uns wasy Syauq war Ridha; Kitab an-Niyat wash Shidq wal Ikhlash; Kitab al-Muroqobah wal-Muhasabah; Kitab at-Tafakkur; Kitab Dzikril Maut.

Fondasi-fondasi yang kokoh, besar dan mampu menampung seluruh lapisan ummat sesuai dengan tingkat intelektual dan spiritual masing- masing. Fondasi-fondasi itu akan menjadi sukses besar dalam bangunan peradaban ummat manusia khususnya dalam membangun karakter kebangsaan kita.

Al-Ghazaly selain sukses membangun terapi psikologis beragama, juga menghantar dengan akar teologis yang kokoh, agar dalam beragama justru tidak menimbulkan stressing yang cenderung memperdayainya. Terutama dalam bab-bab Al-Ghurur (tipudaya), Al-Ghazaly sukses membangun kritik psikologi agar praktek keagamaan tidak cenderung emosional yang kelak bisa melahirkan penolakan Allah swt atas amal ibadahnya.

Tasawuf Al-Ghazaly dikenal sebagai Tasawuf Amaly, yang mudah memandu kalangan  umum  maupun  khusus  di  kalangan  ummat  Islam,  sangat representatif dan tidak terlalu filosufis. Pandangan Al-Ghazaly yang praktis juga terdapat dalam kitab Minhajul ‘Abidin’ Kitabul Arbai’n fi Ushuliddin, Al-Adab fid Diin, Al-Qawaidul ‘Asyrah, Kimiyaus Sa’adah, dan Al-Kasyf wat Tabyiin, Raudhatuth Talibin, Al-Mawa’idz    bisa dijadikan silabus praktis untuk pendidikan Tasawuf masyarakat modern. Bisa didukung juga dengan karya Syeikh Abdul Qadir al-Jaelany, dalam kitabnya Al-Ghunyah.

Sementara refrensi karya Tasawuf yang filosufis ada dalam kitab Raudhatuth Thalibin, Minhajul ‘Arifin, Al-Madhnun ‘ala ghairi Ahlih, Al-Munqidz minadh Dhalal, Misykatul Anwaar,  Tahafutul Falasifah, ar-Risalah al-Laduniyyah,  dan lainnya   bisa dijadikan konsumsi bagi kalangan akademisi. Disamping karya- karya utama Syeikhul Akbar Ibnu Araby, khususnya Al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushushul Hikam, maupun karya-karya Abu Thalib Al-Makky Quthul Qulub, dan Ar-Risalah karya Al-Qusyairy, dan Khotamul Auliya’ karya At-Tirmidzy, Ar- Ri’ayah karya Al-Muhasiby dan Al-Luma’ karya Ath-Thuusy.

PARADIGMA ‘ATHOIYYAH

Tidak   kalah   penting   ketika   Ibnu   Athaillah   as-Sakandary   menulis   karya utamanya Al-Hikam, tujuh abad silam, memiliki peran penting dalam mempresentasikan PencerahanTasawuf yang luar biasa. Al-Hikam yang telah disyarah setiap abad oleh para Ulama Sufi dari berbagai aliran thariqat ini tak habis-habisnya menyerap konsentrasi para akademisi Tasawuf untuk mengkaji terus menerus pandangan-pandangannya yang sangat cemerlang.

Kitab Alhikam     ‘Athoiyah ini dinilai telah mengembalikan sekaligus menyederhanakan   pandangan   tasawuf   dengan   lebih   sederhana,  namun meraih par exellent yang luar biasa. Seluruh aspek filosufis, sikologis maupun praktis  memadu  dalam  kitab  tersebut,  dengan  terbangunnya  paradigma utama, antara lain:

  1. Mengembalikan I’timad (pengukuhan untuk mengandalkan) pada Allah Swt, bukan pada amal, ilmu, maqom, derajat spiritual, kema’rifatan maupun karamah-karamah.
  1. Memberikan terapi  Musyahadah  dan  Ma’rifah  secara  mudah dengan merelasikan antara Tauhid dan Tasawuf.
  1. Quantum Sufistik:  Transformasi    dari  al-Kaun  menuju  Al-ukawwin dalam segala bidang kehidupan.
  1. Seluruh perjalanan spiritual Sufistik pada akhirnya hanya bertumpu pada dua hal: 1) Benar dalam menjalankan kehambaan (‘ubudiyah), 2) Menegakkan Hak-hak Ketuhanan Allah Swt.
  1. Pembebasan diri yang luar biasa dari penjara nafsu dalam rangka bangkit menuju Allah Swt.
  2. Akar dehumanisasi adalah pemanjaan nafsu; akar perdaban gemilang adalah segala hal yang menutup atmosfir hawa nafsu.
  3. Bertasawuf itu mudah, indah, tanpa beban, merdeka, dan bermandikan cahayaNya.
  1. Pembagian wilayah amaliyah syari’ah, amaliyah thartiqah dan amaliyah haqiqah yang  konvergensif dengan metode yang utuh (kaaffah).
  2. Menjelaskan Al-Wahdah fil Katsrah dan al-Katsrah fil Wahdah (Esa dalam segalanya, dan segalanya dalam EsaNya) dengan sangat praktis, mudah dan mencerahkan.
  3. Makna Rahmatan lil ‘alamin yang hakiki dalam perspektif kaum Sufi.

Karya-karya lainnya dari Ibnu Athaillah dalam rangka mendukung   Kitab Al- Hikam tersebut.

>> Urgensi Tasawuf Al Ghazaly Bagi Masyarakat Modern (#2)

Your email address will not be published. Required fields are marked *